Kesetiaan Cinta, Hantarkan Luka

Foto: Ist

Oleh : Loncky H. Makay)*

Matahari menetas dengan kesetiaannya dari timur. Dari ufuk barat daya, senja berkelana melambaikan siangnya. Dari sana pula matahari akan pergi meninggalkan senja dengan ketulusannya.

Allo merasa, seolah-olah Ia bermalas-malasan sore itu. Gugusan wan hitam mengepul, gelap melanda langit yang biasanya cerah di desa itu.

Di samping gereja tua (Saitun) di Kali Kabur, suhu adem menyusuri tubuh, perlahan-lahan gerimis turun membasahi dedaunan pohon Geawas yang bergoyang ditiup angin Kibisai.

Rasanya tubuh ini ingin kembali keperaduannya di balik selimut koyak yang menghangatkan tubuh yang dibaluti dingin.

Disana aku dilahirkan. Seperti biasa orang-orang desa kembali dari ladangnya masing-masing, dengan gesitnya mereka mencari tempat berlindung. Di saat bersamaan seorang gadis berlari menghampiri gubuk untuk berteduh, tubuhnya basah kuyup sekujur tubuhnya.

Lekukan tubuh gadis itu tergambar jelas dibalik bajunya yang pampang. Rambutnya yang terurai berombak-ombak terlihat sedikit kusut akibat basah gerimis yang dengan nakal membasahinya. Wajahnya terlihat sedikit pucat, badannya gemetar kedinginan.

“Ah…. Hujan, sialan,” Umpat gadis itu.

Dengan tergesa-gesa dia duduk dibawah gubuk yang hampir rusak itu. Tapi hanya gubuk itu satu-satunya untuk berteduh.

Inha, sapaan yang kerap dilontarkan penduduk sekitar memanggil dirinya. Entah apa yang membuatnya terlihat mayun, sebentar-sebentar matanya melirik kiri-kanan, sepertinya dia menunggu seseorang.

Seketika itu tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Dengan sigap Inha membalikkan tubuhnya, rambutnya yang basah hampir mengenai wajah orang dibelakangnya itu. Inha sedikit mengerutkan kening. Raut wajahnya terlihat heran menatap pria tersebut. Dengan sedikit gugup Inha menyapa pria itu.

“Maaf, abang siapa ya?”

Dengan santai laki-laki tersebut menyahut, “Masa, kamu lupa denganku?”

Hujan masih turung deras. Inha semakin terlihat heran mendengar ucapan laki-laki yang sekarang tepat berhadapan di depannya.

Dengan senyum khasnya ia menyahut lagi, “maafkan aku, sepertinya aku lupa dengan abang.”

“Wahh, mentang-mentang sekarang kamu makin cantik, jadi gampang lupa sama cinta pertamamu,” ucap laki-laki itu sedikit kecewa.

Mendengar ucapan tersebut Inha tersentak kaget. Sekujur tubuhnya gemetar, rasanya tubuh indah itu baru saja tersengat aliran listrik. Hampir saja Inha terjatuh. Namun dengan sigap laki-laki itu menopangnya.

Keduanya pun beradu pandang. Ada sejuta rindu yg terpancar dari bola mata kedua insan itu. Kembali membawa kenangan lama yang sempat dibuang oleh jarak yang merenggut kisah terpaut dalam kalbu.

“Abang Allo ?” Sapa Inha dengan penuh cinta. Malu, tak pasti.

“Ia Inha, ini aku, abang Allo cinta pertamamu? Jawab Allo dengan penuh kasih.

“Abang kemana aja, selama 15 tahun ini. Abang menghilang, kabar pun tak pernah aku dengar,” Inha menimpali, Isak tangisnya bagaikan sajak rindu. Butir-butir air mata membasahi pipinya bahkan jatuh membasahi bumi depan Inha.

Allo dengan sedikit ragu merangkul Inha. Inha menyandarkan kepalanya di dada Allo yang bidang dan kekar gaagah, sudah lama Inha merindukan memeluk hangat Allo. Begitu nyaman rasanya. Pelukan itu yang membuat Inha semakin terlena, membawanya kembali ke masa lalu, dimana keduanya dulu saling merajut kasih.

Dengan penuh cinta, Allo membelai rambut Inha yang kusut, Isak tangis Inha mereda. Ia mengambil nafas pelan hembus dan sedikit terlihat tenang.

“Maafkan aku Inha, aku pergi begitu saja tanpa memberi kabar padamu. Aku pergi terburu-buru. Itu yang membuat aku lupa akan dirimu untuk memberi pesan” sahut Allo penuh kecewa. Matanya berkaca-kaca, ada kesedihan di raut wajahnya.

Keduanya pun kembali asyik bernostalgia sehingga lupa hari di luar sana makin gelap. Pepohonan menjadi suram. Kelelawar beterbangan tertanda malam tiba. Mereka membuka kembali kenangan lama yang sempat usang oleh waktu. Janji-janji dulu yang pernah mereka lontarkan mengingatkan mereka, bahwa pernah ada cinta yang tak terpisahkan di antaranya.

Siapa yang tahu, manusia hanya mampu merencanakan,Tuhanlah yang menentukan segalanya. Begitulah kira-kira makna dari jalinan kasih di antara keduanya.

Perjalanan sekaligus pelajaran bagi hidup mereka. Terpisah oleh jarak dan waktu selama 15 tahun. Dan kini keduanya kembali merajut kisah.

Dengan langkah lunglai, Inha kembali ke rumahnya, wajahnya makin kusut dan terlihat sangat pucat. Gadis periang nan ayu itu berubah murung.

Air matanya kembali menetes mengingat ucapan Allo, laki-laki yang ditunggunya selama 15 tahun yang kembali membawa cerita yang tak biasa. Kisah yang tak seharusnya didengar oleh Inha.

***

Cinta Allo dan Inha harus berakhir.

Allo yang menjadi dambaan hatinya itu jatuh dalam dekapan orang lain. Perjodohan yang tak bisa tertelakkan dari orang tua Allo yang membuat Inha harus kehilangan cinta pertamanya.

“Mencintaimu adalah rasa sakit yang mungkin hujan ini akan menghapus jejakmu,” ujar Inha dalam hati.

Dengan tekad yang kuat Inha ingin membuka lembaran baru dan bahkan membeli buku baru untuk menulis dan kembali tercatatat kisah selanjutnya yang di dalamnya tidak ada Allo sebagai cinta pertamanya membuat semua cerita lenyap tanpa seberkas harap.

“Aku harus pasrah menikmati setiap goresan luka. Sayat-sayat pilu yang membiuskan perasahan. Cinta tak berujung membuatku tersandung jatuh ke dalam kisah yang tak biasa,” ucap Inha dengan suara parau.

Kegelisahan melanda hatinya, sesaat Inha merasa bahagia dengan kembalinya sosok yang Ia cintai. Tapi sayang, semua itu hanya menambah luka dalam hati Inha yang benar polos.

Cinta itu pilihan kita. Namun risau kesakitan adalah keuntunganku dari cintaku, kesetiaanku pula luka yang tergores di kalbuku. Kau lelaki puzzle yang akan aku lupakan selamanya.

)*Penulis adalah Tinggal di Jayapura

Tinggalkan Balasan