Tubuh Perempuan yang Merdeka

Tubuh Perempuan yang Merdeka

Perempuan tidak boleh menjadi budak dari dan bagi tubuhnya. (Sumber: nigeriatoday.ng)

Oleh: Anneila

Membicarakan tubuh perempuan sama seperti episode Tukang Bubur Naik Haji yang seakan never ending story: penuh drama, sensasional, dan tak lengkap rasanya bila tak dibaluri bumbu seksualitas. Namun hampir pasti (walau tidak semua) para feminis dan aktivis gerakan perempuan meyakini, segala yang menyangkut tentang perempuan adalah hasil dari konstruksi patriarkat.

Baru-baru ini juga saya membaca artikel di Qureta tentang tubuh perempuan yang kurus dan gemuk. Kemudian saya menjadi heran, sesempit itukah topik pembahasan tentang perempuan, sehingga tak ada isu menarik lain yang dapat diperbincangkan tentang perempuan selain tubuhnya?

Antara Fungsi Biologis dan Konstruksi Sosial

Sudah takdir Yang Maha Kuasa bahwa anatomi perempuan terdiri memiliki payudara, rahim, dan vagina yang dapat mendukung fungsinya untuk melahirkan manusia baru. Sistem dan struktur sosial politik kemudian mengonstruksi perempuan sebagai makhluk yang memiliki fungsi maternitas, dengan arti kata menjadi seorang ibu.

Evolusi sosial kemudian memandang perempuan tak lebih dari sekadar kegunaan alat reproduksi yang akhirnya berujung pada pemikiran domestifikasi perempuan. Tak heran jika pada akhirnya peran perempuan, bahkan hingga hari ini, masih dibatasi hanya untuk mengurus hal-hal yang sifatnya domestik. Sedangkan ranah publik tetap didominasi oleh laki-laki.

Perlawanan tentunya timbul dari kaum perempuan, terutama tuntutan untuk memiliki peran yang sejajar dengan pria di ruang publik dan politik. Sayangnya, gerakan feminisme yang sering mewacanakan tentang tubuh pada akhirnya membuat perempuan tetap tidak bisa merdeka dengan badannya sendiri.

Alih-alih tampil percaya diri di depan publik atas kontribusi tindakan dan pemikiran, masih banyak perempuan yang (menurut saya) berpikiran dangkal dengan terbelah pada dikotomi tubuh kurus ala angel Victoria’s Secret atau Barbie, dan tubuh montok/gemuk seperti realitas yang dihadapi para perempuan.

Konten media semakin mempertajam jurang pemisah dengan mengonstruksikan gambaran idealis tubuh perempuan. Banyak gerakan netizen di media sosial yang membanggakan kekurusan mereka. Kasus ekstrem seperti yang terjadi di Tiongkok, di mana para perempuan di sana kerap menampilkan foto tulang selangka dengan koin, atau mengukur lingkar perut mereka yang setipis kertas HVS.

Come on girls! “Dogs” love bones, but “humans” love meats. Do you want to be loved by “dogs”?

Terpenjara oleh Tubuh

Selama ini para aktivis perempuan atau feminis kerap beranggapan jika konstruksi tubuh ideal perempuan adalah bentuk dari langgengnya kekuasaan patriarkat yang terus menekan perempuan untuk tunduk dalam hegemoni perspektif maskulin. Maka dari itu muncul pemikiran jika perempuan menyesuaikan bentuk tubuhnya untuk menjadi seperti apa yang diinginkan lelaki.

Jika memang perempuan sudah merdeka, mengapa harus ambil pusing untuk bisa tampil memukau para pria? Membentuk tubuh sesuai apa yang ‘diperintahkan’ oleh iklan kecantikan justru menjadikan perempuan sebagai budak yang pemikirannya diarahkan. Tidak ada independensi dalam menciptakan dan mengkreasikan versi cantik ala diri sendiri.

Itu juga semakin menekankan bahwa hanya tubuh lah aset yang dimiliki oleh perempuan untuk bisa eksis dalam pergaulan sosial. Padahal banyak perempuan yang hanya bermodalkan pemikiran dan ide untuk mengubah lingkungan, hingga akhirnya bisa menduduki posisi penting dalam perusahaan dan strata sosial.

Melawan patriarkat bukan dengan cara menampilkan foto telanjang yang sering disimbolkan sebagai kebebasan perempuan terhadap tubuhnya. Bukan berarti juga dengan menimbun kilogram dengan makanan berlemak sehingga bisa menyebabkan obesitas dan penyakit kardiovaskular lainnya.

Terbukanya kesempatan yang setara bagi perempuan untuk berkiprah dengan lelaki, sekaligus meningkatnya kesadaran perempuan di seluruh dunia tentang hak asasi manusia, semestinya bisa menjadikan perempuan independen serta matang dalam pemikiran dan sikap.

Lawan semua stigma tentang tubuh perempuan dengan memperjuangkan hak-hak perempuan!

 

Sumber: Qureta

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *