RSUD Nabire

RSUD Nabire

Foto Ist RSUD Nabire (RSUD Tak alpa cabut Nyawa)

 

Oleh: Stefanus Iyai)*

“Aku tak mau berpikir apa-apa hari ini. Kepalaku seperti terantuk batu karang saat menyelam.”

“Tak boleh begitu, kau harus berpikir, bekerja dan berjuang.”

“Sssst. Saya sudah bilang,tinggalkan aku sendiri.”

“Oke baiklah. Saya akan pergi, tapi akan kembali pada jam yang sama.”

“Sudah, pergi sana..!”

Pagi yang cerah. Lelaki yang selalu datang tiap jam 12 malam, datang lagi. Kali ini, pagi. Entah angin apa yang membawahnya. Tapi, aku pikir sepertinya angin gembira.Angin pagi.Tak seperti angin malam, dia datang dan memaksaku harus berpikir eksistensi bangsaku.Aku sendiri jadi pusing tujuh keliling, bersaksi tentang kematian sanak-saudaraku dinegeriku.

Kali ini, suara yang aku dengar adalah suara permpuan.Suranya seperti teriakan sedang memanggilku, entah dari langit atau dari bumi.Kali ini membuatku penasaran.

Aku tak mengenal wujud yang asli, hanya dalam bayang imaji tertera wajahnya molek, polos juga cantik.Dalam benakku, banyak perspektif tentang dirinya, wanita suruhan, bidadari ataukah manusia.Tapi, yang jelas dia manusia yang memahami historis bangsaku.Suaranya seperti saudariku yang diperkosa oleh militer hingga dibunuh.Seperti gemuruh yang menghempas hatiku hingga di lubuk hatiku.

“Kau sudah mati.” Pikirku.

Lalu, seperti angin dipagi hari.Hembusan nafasnya serasa di mulutku. Detak jantungnya pun kurasa seperti seseorang berbicara padaku.

“Saya sudah mati. Tapi, saya tak ingin kau pun senasib sepertiku.” Entah, angin atau suara nyamuk, yang jelas aku mendengarnya jelas-jelas.

“Entalah!….Ini seperti mimpi. Apa buktinya, jika aku akan mati?”

Aku terasa, terbang melayang seperti Elang  diudara, diatas alam Papua. Aku bersaksi, sebagian alam Papua telah penuh dengan Perusahaan, kelapa sawit dan eksploitasi sumber daya alam.Aku bersaksi pula, alam Papua telah penuh dengan mayat-mayat yang sedang membusuk, kuburan-kuburan anak kecil hingga dewasa.

Sunguh aneh rasanya hidup ini.Hidup yang penuh penderitaan.Aku sendiri mati dibunuh diatas tanahku sendiri.Telah lama Amnesti Internasional memberi teguran kepada Indonesia, tapi masih saja memenangkan kebohongan dengan mengatasnamakan pembangunan dan infrastruktur.Padahal infrastruktur adalah dalang atas segala bentuk penjajahan dan penindasan, demi mengeksploitasi sumber daya alam, membawah pergi ke neegeri-negeri imperialis, bahkan ditanah Jawa.

***

Aku serasa seperti digenggam oleh tangan raksasa yang tengah membawaku ke suatu tempat.Tempat yang aneh.Ini surga? Bumi ini dibangundari emas, perak dan marmer.

“Kau tahu tempat ini?” tanyanya

Aku bingun, tempat seperti apa ini, semuanya serba cangki.

“Mengapa kau bingun? Negeri ini dibangun atas darah dan tangisan manusia, atas kekayaan alam curian dari negeri-negeri seluruh penjuru dunia.Mereka mengotak-atik dunia. Bumi ini seperti game ‘Ludog King’. Siapa yang kalah, akan ditindas, harta bendanya akan dijarah. Dan satu lagi, mimpi mereka adalah menguasai dunia dengan tujuan satu pemimpim, satu mata uang, satu bahasa dan satu teritori.”

“Memang tidak salah dugaanku tadi.Ini surga, seperti yang dikatan dalam Alkitab. Bahwa, anak manusia akan kembali kedua kalinya untuk merajahi seluruh bangsa di bumi ini.” Simpulku.

“Sorga?”

Serasa wanita ini membawahku lebih tinggi diangkasa.

“Kita akan pergi bersaksi surga kita. Setiap suku bangsa memiliki surganya masing-masing dan kita akan bersaksi akan pederitaan orang-orang sebangsa kita dibumi.”

Lalu, kami pergi ke suatu tempat yang indah. Bunga-bunga depan taman dihiasi dengan emas, tambang, marmer batu barah; kekayaan alam yang nilai tukarnya paling tinggi.

Kami berjalan dengan perlahan. Rumah ini, seperti saran semut, aku pun hampir pinsang melihat berlian emas dan marmer yang tertumpuk disini. Dunia ini seperti dunia dalam dongenan ayahku yang bercerita tentang negeri yang indah dan permai. Tatapan mataku didinding-dinding bangunan ini, disana terlihat foto presiden Amerika Serikat yang bingkai fotonya dilapisi emas. Fotonya dibikin seperti patung hidup yang tengah memerintah. Dalam genggamannya terdapat negara-negara yang tengah memintah-mintah seperti pengemis untuk membangun surganya masing-masing, sementara surga mereka dijarah. Presiden Indonesia yang juga berpakaian compang-camping tengah meminta-minta disini, tapi dalam berupah-utang yang harus dikembalikan.

“Negara-negara dunia yang diperbudaknya. Dan sekarang kita ke ruangan yang telah dilengkapi dengan kompas yang dapat melihat seluruh dunia. Ruangan ini banyak rahasia dan kau harus pekah atas semua tulisan yang ada, lukisan dan seluruh isi rumah, sebab, disini tak memiliki pintu keluar. Kau harus ingat semua.Sebab aku tak bisa membantu dalam hal ini, kau dan kekuatanmu sendiri yang mampu membuka segala rahasia dan pintu-pintu yang dikunci mati. Ini adalah pintu takdir, jika kau mampu memdobraknya, surga itu kau akan melihat secara nyata. Tapi satu hal lagi, ketika kita memasuki pintu utama, akan terlihat foto-foto yang akan terlewat seperti dalam layar kaca dan kamu memandangi dua bola mata yang akan lewat bersamaan dengan sungai di padang gurun. Lalu, kau pusatkan di titik pusarah seekor semut.Kalau kau lupa, kita akan gagal memasuki ruangan ini dan aku tak tahu kau akan kembali atau tidak.”

“Aaaah, terlalu banyak ocehan. Aku akan pergi sendiri disana. Aku dan bangsaku telah lama habis dan aku mau menghentikan segalanya.”

“Kau sendiri?”

“Ya, sendiri.” Aku menjawabnya tanpa berpikir panjang.

“Mimpi, Itu sebatas mimpi. Kau akan mengalami banyak tantangan, bahkan nyawamu dalam bahaya. Cobah lihat ini.” Dalam layar kaca yang besar, dia memperlihatkan sesuatu.Ternyata yang aku lihat, Naga berkepala tujuh yang hendak mengawasi tujuh penjuru angin.

“Surga bangsamu milik dia. Kau hanya seorangyang  melawan Naga ini belumlah cukup, apalagi dia bersama anak-anak Naga. Tapi, jangan khawatir, dia dan anak-anaknya kau mampu lumpuhkan, tapi atas kekuatan dan kesadaran seluruh manusia bangsamu.”

Entahlah, sejuta tanya yang muncul dibenakku. Entah apa yang yang dimaksudnya, aku tak sanggup definisikan sama sekali.

“Kau lawan takdir, untuk menunda kematian. Tapi nyawamu akan jadi taruhan sebab, jalan yang kau pilih tak semua orang memilihnya. Sementara kau sendiri masih memikirkan nyawamu dengan keberadaan keluargamu, sementara kau masih terhegemoni dengan budaya juga agama.Mana mungkin, kau akan berpikir untuk keselamatan bangsamu?”

“Sudah-sudah, pusing.”

Sepikirku wanita itu sedang menangis, entah air mata darah atau air mata biasa.Tapi dia sedang menangis.

Tangisannya seperti rintik-rintik hujan yang membasahi jagat. Guntur, juga kilat.

“Kau harus mampu berpikir meluas, Jhon.Ini jalan satu-satunya untuk menyelamatkan bumi juga manusia bangsamu.”

“Saya paham soal itu, tapi bukan sekarang! Saya tengah melanjutkan perkuliahan untuk nasibku sendiri.”

Wanita itu seakan memotong pembicaraanku.

“Kau dengar. Titel tak menjamin sedikitpun keselamatan bangsamu juga bumimu sebab kau akan jadi tameng penjajah. Bahkan kau sendiri yang akan hadirkan perusahaan-perusahaan asing untuk jarah tanahmu sendiri. Kau pun menghadirkan negara-negara barat mengatasnamakan mengurangi pengangguran, lapangan kerja.Sama juga kau penjajah, dimana Indonesia menggunakan infrastruktur sebagai alat peredam di PBB. Kau tak jauh berbeda dengan penjajah,  sama saja. Apa yang kau agungkan dari Indonesia, kaki juga tanganmu diikat mati dengan dana Otsus.”

Aku sendiri kehilangan kata-kata, sepikirku dia hanya wanita yang tengah gila atas pembunuhan sanak-saudaranya hingga dirinya sendiri yang diperkosa lalu dibunuh secara sadis.

***

Semut raksasa telah tampil di layar kaca bersama tulang-belulang bangsaku.  Darah dan airmata negeriku,  sejak 1960-an hingga kini. Anak-anak, wanita juga para martir bangsaku.

Semut raksasa itu berdiri ditengah padang gurun, dengan pusarahnya yang seperti cermin keabadian. Aku tengah berbalik kebelakang untuk melihat wanita yang bersamaku tadi. Entahlah dia telah tiada, menghilang entah kemana perginya.

“Jika kau mampu memandangi pusarahnya, kau dan bangsamu akan selamat sediakalah. Jika tidak, kau butuh manusia-manusia sebangsamu untuk bersama-sama melumpuhkan cermin takdir ini hingga lumpuh.Dengan matamu sendiri tak akan mampu untuk mendobrak takdir.”

Suaranya entah dari langit atau dari dalam tanah.

Cermin keabadian telah muncul, lalu aku melangkah maju dengan yakin, ingin memegang pusarah semut raksasa itu.Entahlah pusarah itu semakin menjauh. Aku pun semakin melangkah perlahan. Aku tak menyadari, diriku tengah berada diujung jurang yang menjulang tinggi diangkasa. Elang-elang beterbangan mengawasi emper-emper jurang. Terasa diriku didorong turun kedalam jurang dengan kekuatan yang sangat dasyat, padahal aku telah menyentuh ujung jariku dipusarah semut itu.

Aku didorong masuk kedalam jurang.Kekuatannya sangat dasyat seperti gunung berapi yang tengah mengelurakan abu fulkanik, tulang belakangku telah terbakar hingga tak ada satupun yang dapat menahanku. Bahkan di jari-jari kakiku terbakar seperti tengah diatas bumbungan api.

***

“Syukurlah Jhon, akhirnya kau bangun dan sadarkan diri juga. Kami khawatir benar Jhon, kami kira kau telah mati.”

Aku pun terbangun disebuah rumah sakit yang tengah sekarat.RSUD Nabire.Aku lihat sebelah kiri dan kananku ternyata istriku Hanna juga anakku Marten berdiri menangisi kepergianku.

“Kakiku sakit Hanna.Tulang-tulangku remuk seperti kayu yang tengah membusuk.Hanna sayangku, apakah aku telah mati?Aku tak bisa bergerak sedikit pun diatas kasur ini.”

“Ya, sayangku Jhon, kau belum mati Jhon !!kau telah mati 12 jam tapi ini suatu keajaiban. Saya dan anakmu Marten kami panikakan kehilangan seorang Ayah. Tapi syukurlah Tuhan telah membangkitkanmu dari kematian.”

aku memeluk Marten anakku yang juga berdiri dengan tangisan, juga ingusnya. Aku usap wajahnya juga lap ingusnya.

“Ten, ayah belum mati.Kita akan bersama-sama hingga nanti.”

“Ya, Ayah.”

Aku memeluknya dengan tangisan dan deraian air mata sebab dia satu-satunya anakku. Anak-anakku yang lain telah meninggal dunia karena kesehatannya terganngu, gizi buruk, Malaria kekurrangan protein juga banyak hal telah menimpah sanak-saudaraku semua.

 

End

———–

)*Penulis adalah Mahasiswa Papua kuliah di Semarang

 

 

 

admin

2 thoughts on “RSUD Nabire

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *