Juwita Berantas Jiwa

Juwita Berantas Jiwa

Foto Ist (Foto-foto tradisional Wamena Papua)

 

Oleh: Gabriel Iyai)*

Dikala Sang surya mengerpa pagi menanda menetas pagi.

Pagi itu butiran embung masih membendung diatas dedaunan di kampungku (Mapia). Unggas-unggas bangun dari sarangnya setia siul meneriak di kebisingan alam, mereka selalu menghibur kesunyian surgaku, Mapia. Disana ada beberapa bocah-bocah yang lucu bersamaku ketika hari libur telah tiba. Pagi yang unik aku terdengar hilir mudik hentakan kaki depanku sambil desus-desus suara menyebut namaku (Gabriel Iyai), suara anak pagi-pagi. Aku bergegas keluat, disana kerumunan anak-anak  datang dari kampung sejauh perjalanan 10 km, dari kampung Ugida.

Setapak jalan mengupas kulit telapak kaki diatas aspal Nabire-Ilaga, perjalanan yang kenal tabrak para pengendara. Mereka datang  untuk mengampaikan pesan gadis idamanku (Betty).

Aku yang terlantar di Bomomani (Mapia) Putih Biru sebagai sahabat sering mandi keringat ketika pulang sekolah  di SMP Negeri 1 Mapia, dibawah atap senk tua aku duduk belajar bersama seperjuangan beranjak dua Tahun. Raimon Magai, Robert Iyai telah pulang ke kampungnya mereka habiskan waktunya diasa. Disini seorang diri aku menanggung jahatnya aktivitas dunia, sunyi hari itu. Aku dengar gemuruh suara di ambang pintu. Entah mengapa mataku memandang kejauhan sana, adik-adikku menghampiriku.

“Pagi sekali, apa tujuan mereka,” pikirku ketika adik-adik merobos gerbang pintu pangar.

Terlihat gembira disana. Sementara gunung Kobouge (Weyland) meyelimuti kabut pagi kalungkan air terjun. Angin ikut berseliweran tiup. Terjun Pigihai mujur beriak seakan pesawat mendarat Moanemani. Tak lama mereka berlari depan-depanku di  rumah yang saya numpang selama aku rantau. Kampungku jauh dari keramaian kota, di bukit Hugei yang kaya susu dan madu.

Rasanya beradu gila  untut memberitahukan pesan Betty kepadaku, bertatap curiga.

“Adik-adik, jangan takut! berita apa yang adik bawa kesaya? berita tidak baik pun tidak apa-apa beritahu saja,” tanyaku terlihat buru-buru beradu malunya.

Sontak, garu kepalanya entah tak merasa gatal di rambut baru saja botak. Lalu Stefan Butu yang ikut berdiri kiri Marianus tengah melempar batu dalam kartapel tuanya balik megungkap pesan Betty  padaku, “Maff Kaka”.

“Kenapa Marius?” tanyaku. Tapi mereka diam dan malu bergaru pelit tutur.

Beberapa anak tengah malu. Sepertinya berita mengerihkan. Aku benar-benar bertanya dalam hati. Lihat wajah-wajah malunya, hari ini aku akan dengar kabar baru dari bocah yang baru saja tiba.

“Oh ia kk. Dua  hari yang lalu Betty diminang oleh guru kami, tapi belum tahu kepastiannya.”

“Betty! Kekasihmu. Dari orang tuanya, mereka lamar mungkin nikah sama sang guru honorel yang  mengajar di SD dari setahun yang lalu.”

Aku mengenalnya, bahkan Betty pernah bercerita dirinya  dia tdk mau menikah dengan sang guru itu. Beberapa kali Betty kabur lari.

Hari Sabtu adik-adikku sepertinya menghiburku. Tapi kabarnya membuat aku makan rica. Aku ingat kala itu di kemeriaan suasana menyongsong Natal. Aku berlibur disana, Kacang dan “Nota” petatas bakar adalah makan favoritku (masakan Betty) ketika aku kunya perutku terasa kenyang walau tak makan banyak. Disana kampung halamanku di pinggir kali Bunumi yang deras mengalir. Hari itu membuat saya kejam seakan berjiwa gila ketika sang guru melamarnya  yang ketiga kalinya kemaring depanku.

Tengah-tengah penjelasan Bocah-bocah anganku terbawa arus mengingat Betty disana.

“Kaka, saya juga sempat ikut sama Bapa saya ke rumah betty. Betty  duduk di sebelah  orang tuanya, mereka duduk di bagian sebelah dirumahnya Betty, lalu mereka minta nikah dengan kami punya guru honorel itu tapi ketiga kalinya itu juga kakka Betty komitmen ‘tdk mau’ kk.” Sedikit jelas.

“Benar ade.”

“Lalu  dia lari sambil teriak, ‘saya punya kekasih juga dia sedang sekolah, nanti dia juga selesai tu pasti dia juga seperti  guru. Kalungnya aku gaung di leherku’.”

“Trus, selanjutnya bagaimana ade?”

Aku benar-benar tak ada daya lagi.

“Tetapi orang tua Betty tidak terima untaian kak Betty, maka Orang tua kejar kk Betty, lalu  Betty lari kabur, di tengah jalan tdk mampu lari, lalu menghampiri orang tuanya untuk jemput Betty. Setelahnya  betty menjawab, ‘pak benar  saya tidak mau  dengan Pak guru itu tetapi orang tua betty memaksa pegang tangannya Betty lalu balik kerumah’ katanya seperti itu.”

“Lalu bagimana ada lagi?”

“Dari rumah pihak orang tua memotivasikan Betty. Betty ikhlas terima pernikahan lamaran oleh orang tuanya,” kata dik itu terlihat ikut bersedih menggigit noken manila yang terputus-putus berlubang.

Ketulusan Betty seakan angin pagi yang sejuk memberiku hirup. Benar-benar aku tak percaya bahkan tiap kata-kata bocah itu, sepertinya menipuku. Ditengah beradu fakta dan hox, aku merenung masa laluku, kemudian aku bertanya  kepada mereka, “kenapa pagi-pagi adik-adik  datang bawa  beritahu berita hox ini?”

Lalu adik  yang tadi ungkapkan itu beritahu padaku.

“Benar kaka. Kemaring saya sendiri yang liat betty, dia setuju menikah dengan  guru honorel itu. Itu pasti kk.”

Kepalaku seakan teratuk pada batu ketika menyelam dasar danau, berat menanggung kabar memakan hati menembusi jantungku bahkan merbek lapisan empeduku. Kabar yang mengerikan tapi aku tak  percaya. Bocah-bocah itu kami teman bermain ketika aku ke kampung.

***

Di tengah keramaian kota, Mapia. Motor VGR yang sering lumuri becek hendak ojek Mapia Moanemani rentah ku parkir kiri di emperan rumahku.

“Jam berapa adik-balik kembali ke kampung?” dengan harapan besarku, nantinya akan aku mengantarnya.

“Ahk.. kk, sekarang tapi. Ha.ha.ha… Tes too. Kk.”

Kegembiraan terlukis di wajah-wajahnya.

“Bisa tunggu kami disini kk. Kami turung beli karet di kius dulu, karena di kampung kami musim pemohonan di sabana berbunga (koge) jadi kami mau berburu burung di hutan, diatas gunung nun jauh.”

“Ah tidak. Kk akan antar adik-adik ke kius.”

“Kk, Kami jalan kaki ke kius jadi tunggu kami disini.”

Adik-adik tak sabar lagi.

Di kampung (Ugida) burung-burung ramai dikala musim koge terhias bunga di rerantingan.

Terminal Bomomani, para pelajar SMA Negeri 1 Dogiyai bergemuruh di halaman sekolah. Beberapa mama-mama Papua ke pasar membawa hasil panen kacang, wortel, jagung bahkan banyak beraneka buah dan sayur hendak jual.

Para pengojek lalu-lalang mengendarai motor. Sementara aku yang lemah duduk diatas batu di halaman rumah metunggu adik-adikku kembali pulang. Memandangi pesona alam raut wajahnya selalu hadir di pandanganku.  Berita tadi dengar itu aku tak menahan sakitnya minum empedu.

Mata hari terlihat di langit menerangi Mapia. Terik membakar kulit, sedikit berawan tebal. Aku jauh memandang adik-adik itu berlari rampas mendahulu. Di tangan sekantung plastik hitam hasil belanja; Supermi,  Karet yang mereka beli memperlihatkanku.

“Kk sekarang antar kami pulang, disini ada uang, kami simpan untuk harga bensin.”

“Ah. Tidak usa.”

“Tra apa-apa kk, ada uang Rp 20,000 ribu, kami yang tanggung nanti.”

Lemah badanku. Adik-adik ingin segerah pulang aku bergegas ke tempat jual bensin, dua liter terlihat penuh tengki motorku bahkan ada sisa setengah liter, setelahnya aku kembali ke rumah. Di atas atap asap mulai membubung, adik-adik mengelilingi tungku api sambil perbincangan akan berburu besok. Kuali diatas kobaran api, bau minyak mewangi ciumku, mereka masak supermi sambil menungguku.

Terasa kenyang setelah makan masakan mereka.

“Kk antar kami ke kampung,” kata Moses yang tengah buat kartapel setelah makan, sisa makan tertempel di wajah, mata agak merah, air mata berkaca-kaca karena asap tebal dalam rumah.

Destinasi kota Bomomani kami lalui.

Aku  antar adik-adikku lapis, tapi ringan melaju. Gas lepas. Angin memukul dadaku.  Dalam pejalanan, kami melewati beberapa kali yang deras mujur beriak di tengah perkebunan para tani. Ada beberapa kampung bahkan beberapa bukit kami tempui, rentah kami tiba di kampung kami.

***

Siang itu tak ada harapanku. Betty bukan lagi yang dulu. Jiwaku terombang-ambing ketikanya kami tiba di  kampung halamku akan kaya Kacang Tanah disukai banyak orang. Aku ingat masakan Betty kala itu.

Sampai di kampung halaman kami, kampung itu mengingatkan masa laluku yang terhias di benakku, aku sadar Betty adalah permataku yang hilang. Walau akan tempu sekilo jaraknya keikhlasan aku turungkan adik-adikku di kali Bunumi yang mengalirkan emas mengalir berliku seakan Naga raksasa.

“Maaf , kk antar disini saja. Aku malu masuk  ke rumah jadi minta maaf.”

“Terima kasih kaka,” mereka serentak menjawab.

“Kami juga sudah tahu, kk punya pacar kawin dengan orang lain jd kk balik dari sini, kaka balik ke tempat studimu ‘Bomomani’.”

Lorong waku terlalu cepat.

Dua  Minggu kemudian libur Juni. Teman-teman seperjuangan berbondong ke kampung.  Tengah hampa belaka, seorang diri duduk dirumah,  jiwaku serasa gila terus menemaniku di waktu itu akhir pekan musim kemarau, langit membiru berkilauan. Helaian Awan satu pun tdk mengepul di langit, juga kejauhan di pujak-punjak  gunung yang gagah mempagari Mapia. Lagu Rohani seakan beradu domba rinduku.

Hari  itu,Tepat pada hari sabtu 22 juni 2009.

Pukul 11:30 dari mana datangnya tiba-tiba gadis berambut berkeping satu berdiri di pintuku, dia adalah Betty. Tidak mengetok pintu langgar masuk. Betty  duduk sebelah emperan tungku api.  Tanpa berkata kata menangis tak bersedu-sedu.

“Saya minta maaf, saya sudah nikah dengan kk guru honorel itu.”

“Ia.”

Aku tak jawab barisan kata. Diam dan dengar.

“saya tidak mau nikah dengan dia tapi, orang tuaku memaksa  untuk nikah dengan pak guru itu.”

Suasana hening.

“Tidak menjadi soal, ade Betty nikah dengannya, dia juga sobat saya, sungguh buksn lain jadi sama saja toh betty.”

“Biarlah nikah dengan saya.” Suara sebagian tertahan di tengah tenggorokan. Betty menagis.

“Betty, percuma menangis, semuanya sudah terlanjur, tidak mungkin akan kemabali seperti dulu lagi.”

“Maaf kk Magapai.”

“Ia, jika orang lihat pasti  orang-orang menceritrakan ade. Sekarang  pulanglah bersama suamimu disana.”

Usai semua itu. Ceritanya terbawa arus dalam tangisan bercita tak pasti. Prempuan itu pun menangis depanku, air matanya jatuh membasahi tanah Mapia. Sore kalanya seorang diri pulang ke kampung halamannya. Tak tahu membawa harapannya.

)*Penulis adalah: Mahasiswa Papua yang kuliah di Semarang.

 

 

admin

2 thoughts on “Juwita Berantas Jiwa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *