Natal: Uskup Datang di Kampungku

Natal: Uskup Datang di Kampungku

 Cp: Ist Suasana Kampung (google sourch)

 

Cerpen: Sesilius Kegou)*

Dua minggu telah berlalu setelah Ulangan Akhir Semester SD YPPK St. Stefanus Apogomakida. Suasana kampung ramai. Janur kuning terpasang di sudut-sudut jalan tengah kampung. Semua tetangga, besar-kecil, tua-muda, laki-prempuan pagi sekali berbondong ke gereja persiapan Natal. Uskup akan datang, penduduk kampung telah siap koteka, moge dan beberapa peralatan jemputan.

Aku  tidak tahu entah mengapa. Hari itu nyamuk pun membenciku setelah aku sembuh dari sakitku, mulutku tak enak, ingin makan sesuatu. Kidung romantis merobek hatiku, ya lagu itu dinyanyikan oleh Pace Pondang dan kawan-kawannya, (trio ambisi) lagu membumi di tahun 2000-an pelosok Negeri Ini (Papua, juga di Piyaiye (surga kecilku yang tersembunyi). Aku sadar hayati tiap Lorilyn, irama melodi seprti nyanyian malaikat dalam bayangku. Black Sweet juga tidak mau kalah dari grup ambisi itu, lagu-lagu disukai kalangan muda ketika itu. Aku putar di radio milik sahabatku Sebastian, radio ten’s Soni di rumahku.

Di leher mengalung kalung Emas, bukan aslinya itu aku gemas.

Kakiku basah terkena ciprtatan air. Di kemeriaan suasana Natal, Jhon menemaniku, Jhon terlihat sibuk di dapur menyiapkan air panas untuk membasuh kakiku yang tak kuat,  gemetar kakiku ketika berdiri apalagi jalan.

Seorang lelaki berlalri cepat sebelah rumahku, ya, lelaki itu adalah Moses (kawanku), dha pu Kaset warna hijau, rolnya sudah putus, kemudian sambung, tapi agak kelembapan Kaset PNG (kalang) menemani sejak tadi.

Mata yang tajam hitam kilau, hitam kurus tinggi, di bajunya lukisan cendrawasih terpampang di dadanya, baju satu-satunya genakan tiap hari milik Robert, celanya levis hitam berbolong batas lutut yang genakannya adalah seperti bilangan yang mengajar jatidirinya. Dia adalah guruku, aku belajar menulis.

Rumahnya yang sering ramai anak muda, rumah baru saja bangun oleh temannya menjadi tempat ramai. Kami belajar menulis disana, di kertas buku tulis.

Keunikan kreatifitas tangan kami buat, apa lagi melukis sangat gampang, karena rata-rata anak Piyaiye berhobby lukis.

Selain seni lukis, merajut noken serat Genemo (Damiho, Oko, Epiho dan Gai) sangat kami suka apalagi bagi prempuan hari-hari habiskan waktu merajut ketika setelak aktivitas utama. Beberapa tumbuhan itu adalah seratnya sering kami gunakan rajutan disana. Apa lagi saat ulangan kerajinan tangan di sekolah kami SD YPPK st Stefanus Apogomakida, sebagian prempuan pilih untuk merajut. Itulah tradisi di kampung kami.

Kampung kami di tengah pegunungan Papua. Indah. Ketika pagi tiba, awan putih tetap terselimutinya membuat kami kagum dan heran. Seakan tak ingin pamerkan alam. Kijauan burung Nuri memberi penanda pagi tanpa bisik. Seakan para leluhur bangkit bernyani sorak.

Disana ada susu dan madu. Lembaga tertinggi di nusa ini tersimpan mesteri alam.

***

Ada Angkrek hitam juga, kami hidup di surge kecil yang jatuh  titopkan Sang Pencipta di bumi. Di saat kemeriaan pesta Natal kali ini, kami bergegas menuju ke gereja (Paroki keluarga Kudus Apogomakida, Piyaiye Papua) tepat 24 Desember untuk Dekor, Jhon mengajakku kesana.

Dekor salah satu kegitan istimewa. Para siswa/i sekolah dasar mengunting kertas thema. Kami tidak gunakan baliho, cukup sederhana.

Sepanjang jalan, kami sangat bahagia, ada beberapa gadis mengambil bunga, akan hiasi di dinding gereja. Mi makanan kesukaan, telan liur. Usai makan Mii sedap, cabainya kami simpan untuk buat rica garam sepanjang jalan. Disana ada beberapa daun muda yang bisa kami makan. Itu kebersamaan kami.

“Antho? katanya Uskup sudah tiba disini, tadi,” tanya Vero yang tengah menjilat sisa bumbu di telapak tangan, sebagian telan liur manisnya.

“Oh ia!” sedikit menunduk. Diam.

“Benar. Saya ingin lihat Uskup,” harap Jeni yang sedang nikmat Patume (daun berwarna merah jingga. Sering makan) asam.

“Semoga sebentar uskup datang dlm Gereja, saat Dekor,” beber Lusia, terlihat senyum memegang sekuntum bunga.

Kesederhanaan kami. Inilah bahagia kami disina. Jhon jalan santai mengayung gerakan tangan, sedikit sombong hendak bercerita tentang Natal di Betlehem.

Di kemeriaan pesta itu Semua Wilayah sudah datang untuk mengikuti Misa Natal sesuai undangan yang telah edarkan. Anak-anak hingga tua ramai datang di kampung kami. Mereka membawa persembahan berupa hasil bumi dan trnak mereka, karena Natal kali itu Uskup akan datang, tapi itu kebiasaan tiap kali Natal.

Anak-anak di kampung kami belum tahu Uskup, termasuk aku belum tahu uskup itu siapa, bertipe bagimana. Mungkin dia berkulit putih atau kah orang barat yang sering kami nonton di TV seperti Rambo, Comando atau dia seperti Lucky dube, seperti kami kulinya hitam, rambut keriting lagi.

Para perantau, Mahasiswa, Pelajar semua hadir. Kali ini akan ramai.

***

Beberapa rumah ramai meriah, asap mulai mengepul membubung di atapnya, tertanda masak makanan pagi. Tangal 24 adalah hari menanti kelahiran sang juruselamat di malam Natal nanti malam ini. Semua orang akan sibuk siang hari.

Kampung tetangga kami adalah Kegata, hanya kali Pahau yang mengalir deras memisahkannya, kali sering banjir, kayu dan bebatuan menghanyut arus . Disana juga ramai. Kegata Tempat kelasis, Atiyokya kegata. Sepanjang lapangan terbang bahkan halaman gereja berbondong ramai orang disana. Tentu menjemput para tamu dan jemaat dari pos-pos.

“Kegata juga banyak orang disana. Jemaat Sion Ukagu tentu hadir, orang-orang Tagai tadi kesana. Kitapugi pendeta Pokuai dan Jemaatnya pagi lewat.”

“Denei kemaring kesana. Kata bapaku tadi.”

“Jemaat Motakotu kemaring tiba. Mama saya kemaring datang dari Omku di Motakotu.”

“Oh berarti Kingmi semua datang di Kegata. Semoga damai Natal akan lahir.”

Alam kami disana suhu dingin.

Beberapa air kali kami injak, kaki kami semakin keram. Tapi itu kebiasaan kami. Natal kali ini tak seperti sebelumnya, kami sangat meriah. Lihat wajah uskup saja kami bahagia, apa lagi berjabat tangan itu impian kami ketika orang tua cerita bahwa uskup akan datang.

Halaman gereja kami ramai orang. Disana ada beberapa orang berkulit putih berdiri memandang gunung Poupotu sampingnya ada paguru kami. Bpk. Kornelis Kegou (dewan paroki) dan Bpk. Isaiyas Kegou (Pewarta Yegeiyepa) berdiri berjejer sambil ramai cerita. Beberapa mama-mama sibuk di dapur pastoran, masak makanan Pastor, Uskup, suster dan para undangan juga para tamu.

Kami temui dua suster, mereka sangat cantik berkerudung putih, ketika melihat kemeriaan kami disini mereka tersenyum. Suster Sera dan Vero memanggil kami. Aku masih lukis, lukisan kandang Natal, dan bagun kandang natal sisa pekerjaan dua hari karena aku jatuh sakit. Beberapa teman prempuan bergegas hampirinya, agak ragu malu disana. Aku sedikit senyum tingkah mereka.

“Siapa Nama kalian?”

“Saya Vero, dia ‘Lusia’, trus yang ini, Antho,” jawab Vero tapi agak malu garu, menggores tanah. Tunduk kepala. Aku perhatikan reaksi mereka disana.

Suster terlihat senyum, kemudian memukul halus di bahu Vero dan kawan-kawannya. Aku dan Jhon menuju sebelah timur gereja, samping pastoran. Membelakangi beberapa orang tadi berbicara.

Hari itu terharu. Pewarta Yegeiyepa juga datang untuk penerjemah homily, dia humoris. Sering suka bermain sama kami, ketika Dekorasi di tahun lalu bersama anaknya, Dessy (sahabat kami). Itu ingatanku.

Suasana semakin gembira, alunan lagu Natal terdengar dalam Gereja. Beberapa teman-teman putra sibuk gunting tulisan thema yang sisa dari kemaring lalu. Pada sibuk yang sudah hadir disini. Tak lama ramai, kami asyik dekor, tangan lembut lantas taru di bahuku. Hatiku sangat dug-dag. Uskup Sapaku berjabat tangan dengan kami semua. Kami bahagia.

Selamat Natal Ayah, Bunda, sanak saudara/i-ku di Piyaiye.

 

)*Penulis adalah: Cerpenis muda Papua yang kini kuliah di Semarang.

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *