Kejahatan dan Dikriminasi Yang Kian subur

Kejahatan dan  Dikriminasi Yang Kian subur

Oleh:Lonky Makai)*

Secara pribadi, Aku bangga pada adik Hiskia Iyai, lelaki berusia 19 tahun yang baru tamat SMA, 2019 juni lalu. Yang telah menentukan dan meminta Aku untuk menulis Artikel dengan tema diatas saat bertemu tanpa sengaja di persimpangan jalan Nabire, Sima, Yaro Makmur terus ke Bomopai, Kali Kabur. Dengan begitu, Aku juga bisa belajar lebih dalam tentang tulis menulis untuk menghidupkan (literasi) di Tanah Papua.

Nah, logika yang Aku dapat dari tema diatas adalah “Luka bukan ukuran yakni, Keadilan adalah sebuah hak yang harus diperjuangkan”.

Suatu hari, Senin kala itu. Salah seorang temanku yang kuliah di jurusan Antropologi, (Uncen) kampus ternama di Papua. Dia pernah bertanya kepadaku.

“Eh, mau tanya, seumur hidup ko pernah jadi korban diskriminasikah? Maksud sa, ya secara pribadi ko adalah lelaki, dan fisik ko berbeda dari lelaki lain pada umumnya?” 

Pertanyaan itu tidak pernah aku lupakan, bukan karena itu adalah pertanyaan yang cerdas, tetapi itu adalah sebuah pertanyaan yang membuat Aku harus membongkar serpihan-serpihan masa lalu. Serpihan-serpihan yang sudah Aku kubur, dan akan menguras perasaan jika harus membukanya lagi. Serpihan cerita yang sudah Aku ikhlaskan menjadi bagian dari kehidupan masa laluku.

***

Diskriminasi, jelas Aku merasakannya. Bahkan saat ini hal tersebut tak kunjung usai. Aku adalah seorang lelaki berdarah Mapia yang numpang lahir di kota Nabire. Maklum, kedua orang tuaku merantau untuk bekerja sebagai petani di Nabire dan Aku bersekolah disana.

Kehidupan masa kecilku begitu mengasyikkan, Aku tinggal di Jalan Poros Uwapa, Topo-4 wilayah transmigrasi. Rumah kami tak jahu dari sekolahku. Tetangga-tetanggaku adalah Suku Mee. Ada juga masyarakat Betawi tulen, Jawa tulen, Manado, dan Batak. Wajah Jakarta yang begitu plural menumbuhkan perasaan nyaman kepada keluargaku karena diterima dengan baik oleh warga majemuk disana.

Ah, tapi sayang,  kenyamanan itu tidak berlangsung lama ketika Aku masuk ke sekolah dasar, kami sekeluarga berpindah ke Rime, di perbatasan Pesisir Yeresiam dan Pegunungan Ogeye. Otomatis Aku juga pindah sekolah ke salah satu sekolah yayasan (SD, YPK Via Dolorosa Olorodo) yang terbatas siswanya di desa Bomopai, Yaro Kibisai.

Masa-masa kecil sebagai siswa SD tidaklah menyenangkan. Sekolah yayasan yang sedikit siswanya itu mayoritas kawan-kawan dari etnis Papua, secara kasta ekonomi mereka golongan kelas menengah atas. Sementara Aku hanyalah seorang anak dari perumahan kelas menengah di pinggiran jalan bernasib buru industri kayu lokal. Ratusan mobil angkut antara lain truk milik pengusaha indudtri kayu lokal, Aku hanyalah buru bagasi truk-truk milik beberapa penguasa disana dengan ejekan mereka kala itu.

Itulah pertama kalinya Aku merasakan bahwa lingkungan adalah tempat Aku berlajar selain disekolah dan melihat ada hal yang asing dalam diriku. Aku Berkulit hitam, berambut keriting, sedikit gendut, menyandang nama Ghordino, miskin pula. Aku merasa jiwaku menjadi korban sukuisme atas perbedaan dimensi sosial. Aku dibully lantaran kulitku hitam, rambut keriting, dan lainnya. Kadang-kadang namaku yang Ghordino saja dihina teman-teman menjadi Gorila. Beberapa juga mengatakan Aku Hanoman (Manusia kerah) dengan melirik tubuhku yang sedikit pendek.

“Sebutan itu sering aku baca juga di kolom komentar dalam akun pribadi sosial mediaku (facebook) oleh kaum bedil”

Dilingkungan sering pula!

Pernah suatu kali, pada saat Aku kelas Empat SD, teman-temanku khususnya yang laki-laki- pernah memberantakkan seluruh isi tasku. Buku, tempat pensil, botol minuman, dihambur-hamburkan, dilempar ke seluruh ruang kelas saat sedang istirahat. Dengan tergopoh-gopoh seorang temanku yang sedang makan dikantin menghampiriku, dan meminta Aku segera kembali ke kelas.

Aku begitu kaget melihat kejadian itu. Spontan Aku mengamuk dan berusaha merebut semua barang-barangku. Aku mencoba menyerang salah seorang teman lelaki dan memukul kepalanya dengan air minum hingga botol itu pecah dan membuat seluruh bajunya basah kuyup. Aku sempat dimarahi oleh guru karena memukul temanku itu, sampai akhirnya aku katakan bahwa mereka yang pertama kali membuat keonaran denganku.

Pada masa-masa tidak menyenangkan itu, Ibuku tampil sebagai pahlawan yang selalu menjaga. Dia bahkan tak segan-segan menegur dan memarahi anak-anak yang menghina dan membullyku. Tidak ada perasaan senang ketika Ibu membelaku. Karena setelah itu, teman-teman pun akan kembali menghina Aku sebagai tukang ngadu. Padahal kenyataannya Aku tidak mengadu tetapi, Aku hanyalah seorang anak kecil yang memiliki satu sahabat yaitu ibu. Bahkan Ibu masih menjadi pahlawan hinggaku dewasa gini.

Sesungguhnya bagi sebagian orang kisah ini lucu. Ah, namanya juga anak kecil. Tetapi sayangnya tidak semua anak kecil memiliki mekanisme memaafkan seperti orang dewasa. Ada sebagian anak kecil yang begitu peka perasaannya dan membutuhkan waktu untuk menerima keadaan dimana dia terkucilkan. Anak-anak kecil cenderung lebih kritis dan selalu membutuhkan jawaban. Kadang-kadang mulut sebagian teman-temanku dari Jakarta kala itu juga kurang hajar, mereka cenderung rasis dengan mengatakan, “Ah, orang Papua mah ujung-ujungnya cuma jadi TKI”. 

Kehidupan di lingkungan rumah juga tak jauh berbeda. Rumahku berada di Yaro Makmur. Kabupaten Nabire Papua yang mana mayoritas penduduk adalah bercampur umat katolik, muslim, Hindu, dan Budah. Pada satu blok saja yang beragama Kristen Protestan hanya keluargaku dan beberapa tetangga disana. Saat pertama kali kami pindah, di komplek itu rumah kami belum ada lingkungan Kristen Protestan. Beberapa kali, malah keluargaku bergabung dengan ibadah Kristen Katolik.

Aku sungguh-sungguh mengalami kriminasi dan pahitnya ketika di lingkungan orang-orang mengatakan Aku sebagai kafir. Beberapa teman, yakni anak-anak tetangga seringkali berkata, “Kita nggak mau main sama kamu karena kamu orang Kristen. Kami kafir” Lalu Aku bertanya, “Memangnya kenapa kalau Aku orang Kristen?” teman saya menjawab, “Tidak boleh, karena dosa.”

Suatu kali, tetangga  yang kebetulan orang Surabaya keturunan Arab pernah berteriak di depan rumahku saat kami sekeluarga sedang beribadah dilingkungan.

“Dasar orang Kristen pendosa!”

Tak selesai sampai disitu, entah ada kebencian apa yang ditanamkan orang tua anak itu kepada saya dan adikku. Suatu sore, saat kami sedang bermain , dia membawa ranting pohon yang ujungnya diruncing dan hendak menusuk perut adikku yang tubuhnya sedikit kurus itu. Untung saja, cepat-cepat Ibuku melihatnya dan merebut ranting itu. Ibuku mematahkan ranting itu dan membuangnya ke tong sampah. Tanpa marah-marah, Ibuku langsung menyuruh Aku dan adikku masuk ke dalam rumah.

“Jangan main keluar lagi kalau mereka jahat sama kalian.” Ibu, hendak melindungi Aku dan adikku dari kejahatan.

***

Tak sadar, tak terasa roda kehidupan terus berputar begitu cepat. Serta waktu pun berjalan dengan sangat baik. Ibu membawa dan mempertemukanku dengan orang-orang baru yang memberikan harapan dalam kehidupan baruku. Teman-teman baru, wawasan baru, lingkungan baru. Seusia puber tingkat SMP dan SMA, saat itulah Aku mulai tumbuh menjadi orang yang lebih berani. Ibuku, orang yang selalu mengatakan Aku harus kuat dan tak pernah lupa mengatakan bahwa setiap kejahatan, diskriminasi harus dijadikan cambuk api untuk membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Selalu optimis dalam menghadapi suatu persoalan. Ibuku benar-benar bejiwa malaikat, bahkan dia pahlawanku hulu, kini, dan sepanjang masa.

Dia mengajarkan Aku sebagai minoritas dari segi kekuasaan hingga etnis ataupun agama. Kita akan sangat rentan mengalami kekerasan. Namun balasan terbaik untuk semua itu adalah kebaikan. Aku yakin kebaikan selalu memiliki ruang hidup dalam revolusi mental. Kebaikan selalu dibutuhkan kebebasan. Untung pula kebaikan tak pernah melihat suku, ras, status sosial, dan agama. Itulah ajaran Ibu  kepada anaknya.

Perlahan dengan banyaknya kebaikan yang senantiasa dilakukan keluargaku, kami diterima dengan masyarakat di lingkungan dengan sangat baik. Beberapa teman-teman seusiaku dari Paniai yang toleran itu juga mulai bersekolah di Nabire, digantikan dengan teman-teman lamaku.

Teman-teman baruku dari Paniai yang orang tuanya berwawasan pula serupa orangtuaku. syukurlah, Aku memiliki teman baru yang kini senasib denganku bahkan satu suku (Mee) Papua gunung. salah satu suku besar dari Tuju suku besar lainnya di Papua.

Perjalanan itu kadang membuat Aku kaku dan menyalahkan orang tuaku. Kadang, Aku merasa bahwa pengalaman itu akibat menjadi seorang perantau. Ya! itu ada benarnya.

Kala Aku lahir di peraduan penghuluku misalnya, Aku tentu tidak akan merasakan kejahatan diskriminasi sedemikian rupa. Namun ketika Aku pikirkan kembali berulang kali, inilah kekayaanku, inilah pribadiku, hasil dari sekumpulan pengalamanku ditengah operasi militer dan exproitasi ilegal yang membunuh peraduan para moyan yang luhung.

Aku masih ingat lekat luka-luka itu sebagai bentuk keperawanan dari perlawanan terhadap setiap ketidakadilan. Rasa sakit  itu membuat Aku tak ingin ada anak-anak kecil lain yang merasakan kejahatan diskriminasi atas suku, ras, agama, warna kulit, jenis rambut, status sosial, kaya atau miskin, dan gender dll.

Semakin dewasa, Aku membaca beberapa buku. Aku pun menyadari bahwa semua diskriminasi lahir atas dasar konstuksi sosial.

Salah satu pencipta konstruksi tersebut adalah perilaku manusia di beberapa sosial media yang ada. Itulah alasan yang memperkuat pilihanku menjadi seorang jurnalis untuk selalu bertingka adil.

Jika media massa yang membentuk pemikiran, maka biarkanlah Aku bergumul untuk membentuk kontruksi pemikiran yang adil terhadap setiap manusia.   

Beberapa bulan lalu saat hangat Pileg  dan isu SARA menjadi konsumsi sosial media, seringkali Aku membatin kepala ‘Ah, kalian yang teriak-teriak (Orasi Kampanye) itu, apa kalian sungguh sudah adil dalam pikiran dan perbuatan. Lalu bagaimana untuk kalian memantapkan integrasi Papua?’ Aku juga hanya bisa geleng-geleng kepala dengan banyaknya pemberitaan bahwa sikap intoleransi itu meluas ke anak-anak. Ada kasus anak yang ditolak jadi Ketua OSIS karena dia Nasrani. Ada kasus anak-anak kecil saling menghina agama temannya. Ada pula kasus anak dibawah usia yang diperkosa. Dan banyak kasus pembunuhan lainnya di tanah Papua yang damai dan beragama ini. 

Akhirnya, disini Aku berkesimpulan bahwa sosial media sedang membesar-besarkan masalah itu bersamaan dengan momentum Pileg tanpa klonologis yang jelas oleh redaktor atau pemilik akun. Kalau melihat realitas itu dan dibandingkan dengan realitas kehidupan masa laluku, berarti, selama 16 tahun terakhir ini tidak ada perubahan yang signifikan dalam masyarakat majemuk. Bibit-bibit intoleransi itu masih subur di dalamnya, diantara kita dan pada keluarga kita. Lalu kamu mau bilang apa?

Pada akhirnya, Aku seringkali bergumam. Luka-lukaku ini adalah sebuah Home Word dari Belanda ke Indonesia yang disembuhkan sangat lama. Yang seharusnya sudah tuntas itu pun bisa jadi hingga akhir hayat tak kunjung selesai jika api revolusi padam dari para politikus dan pemuda pemudi.

Cita-cita dari kajian ini agar anak-anak lain tidak mengalami apa yang Aku alami, mereka bisa saja kandas.

Saat Aku tuliskan ini, Aku pun membatin secangkir kopi dan menyapa, Apa kabar teman-temanku yang dulu sering membully Aku baik itu di sekolah ataupun di rumah?

Bagaimana kalian merespon kondisi masyarakat saat ini? Apakah masih sama seperti yang dulu?

Ah, sudahlah. Aku memutuskan untuk melupakan masa lalu itu. Melanjutkan hidup dengan segala resiko sekalipun  patah hati. Melanjutkan cita-cita untuk membuat anak-anak kecil dan para orangtua tidak melakukan lagi hal-hal intoleran atas nama agama dan ras.

Jangan lagi ada anak-anak pribumi yang menangis karena dihina atas sesuatu keadaan yang tidak bisa dia tolak. Jangan lagi ada anak-anak kecil yang didominasi oleh jiwa mengintimidasi ketimbang mengasihi.

Setidaknya ada keyakinan bahwa ada senjata yang ampuh yaitu, kebaikan. Kebaikan selalu ampuh melawan kejahatan. Membungkam situasi panas. Dan menyembuhkan semua luka yang tersaran dalam lapisan rakyat jelata.

Kini sesuatu yang meminta kita dari tulisan ini adalah keberanian. Tidak lepas dari karangan salah satu Cerpenis Papua, Sesilius Kegou, yang berjudul ‘Kejahatan Mayoritas Kapitalis.’

Cerita itu biasanya Aku bagikan kepada mereka yang Aku percayai dan cukup dekat secara personal. Namun kalau kamu akhirnya membaca Cerita itu dan Artikel ini di tengah nuansa Natal, 1 Desember  menyongsong tahun baru, maka kamu beruntung karena disana ada hari sejarah bangsa kita.

Semoga, kamu pun mau membantu Aku mengentaskan luka-luka ini. Sekarang tulisan ini menjadi Ibu dan meminta kaum muda-mudi untuk selalu berada dalam garis perjuanan. 

Dari semua yang terjadi

Antara engkau dan diriku sebagai anak pribumi

Antara mereka dan kita

Tak mungkin dipungkiri semua

Amarah dan s’gala kecewa, Namun harus dimaafkan untuk kemenangan

Meski lirih perih mengiris nadi

kubur semua egoku dalam janji-janjimu

Nyalakan api revolusiku dalam jiwamu

Tukarlah lara yang merobek hatiku dengan perjuanganmu

Kejahatan adalah mayoritas kapitalis

Ini semua untuk sebuah nama

“Tanahku Papua”

Sebagai insan ditengah jahatnya kaum Bedil

Pemuda pemudi bersuara

Bersumpah demi restorasi bangsa

Berjuang sepanjang masa untuk anak cucu nantinya.

Penulis tinggal di Jayapura, dirinya juga pernah menulis  beberapa Cerpen dan Artikel terbaiknya di Ko’Sapa.

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *