Sukses Bukan Tentang Bakat dan Kecerdasan

Sukses Bukan Tentang Bakat dan Kecerdasan

Cp: Foto Pribadi Penulis

Oleh: Theodorus Iyai)*

Banyak orang percaya, kunci kesuksesan terletak pada dua fondasi dasar; kecerdasan intelektual dan bakat. Lalu, bagaimana jika nyatanya tingkat intelenjensi tidak membawamu mendapatkan posisi tinggi? Atau sebuah bakat tidak kunjung memotivasimu menghasilkan karya yang berkualitas? Lantas, kamu menemukan seorang anak yang biasa-biasa saja, tapi berakhir sukses di masa depannya.

Ada Angela, Lee Duckworth, salah seorang yang meninggalkan pekerjaannya sebagai konsultan dan memutuskan menjadi guru matematika sekolah menengah pertama di New York, yang tertarik meneliti hal tersebut. Akhirnya ia sampai pada fakta yang mengejutkan; jika IQ dan bakat bukanlah indikator pasti dalam menentukan kesuksesan di masa depan.

Penelitiannya terinspirasi dari murid-muridnya yang dianggap pintar, tapi pada suatu pengujian matematika, hasilnya tidaklah memuaskan. Itu berhasil mengejutkannya. Mungkin saja tingkat kesulitan matematika kelas tujuh SMP itu meningkat, namun ia yakin, murid-muridnya bisa mengatasinya asalkan belajar keras dan mencoba memahami soal-soal lebih lama.

“Apapun langkah Anda di masa depan nanti, bukan tingkat IQ atau IPK sempurna yang menjadikanmu sukses. Tapi sesuatu yang disebut ‘Grit’. Sebuah tekad yang dilakukan dalam jangka panjang,” ujarnya dalam TED Talks.

Untuk itu, kesuksesan tidak dijamin dari intelijensi otak, bukan juga penampilan fisik yang menarik, tapi tumbuh dari kualitas diri yang berjuang, bersedia pantang menyerah hingga tak pernah mengenal kata usai dalam meraih impiannya. Kombinasi dari itu semua disebut ‘grit’ atau tekad.

Grit atau tekad bisa dibangun dengan membentuk pola pikir. Mengapa bukan bakat dan intelijensi? Karena tidak selamanya bakat dan intelijensi bisa membuat seseorang memiliki tekad. Bahkan, bisa sebaliknya.

“Cara terbaik untuk membangun dan memelihara tekad adalah dengan membentuk pola pikir. Kita perlu mengumpulkan ide-ide terbaik dan intuisi terkuat yang kita punyai dan mengujinya dengan tantangan. Saat itu kita tahu, apakah kita cukup tangguh untuk berhasil, bersedia gagal, menjadi salah dan bangkit lagi bersama apa yang sudah kita pelajari atas itu semua. Memandang jika kegagalan bukanlah hal yang permanen, maka itu, ketika gagal, kita harusnya lebih tekun dan gigih,” tambahnya.

Albert einstein pengusaha sukses.
Ini mengingatkanmu tentang salah satu kalimat Einstein yang mengatakan jika dirinya tidaklah pintar, terlebih lagi cerdas, ia hanya bertahan dalam suatu persoalan dalam jangka waktu yang lama. Jadi, ini bukan tentang seberapa cerdas kamu menjawab soal-soal di atas kertas demi nilai dan skor IPK-mu, juga tidak mengenai seberapa hebat bakat yang tertanam dalam dirimu. Jika itu semua tidak diiringi dengan sebuah perjuangan tekad penuh komitmen – yang berani gagal dan belajar dari kesalahan – itu semua akan sia-sia. Karena, kerja keras dan tekad kuat akan membayar semuanya dengan sebuah kesuksesan.

)*Penulias adalah Mahasiswa STPK St. Yohanes Rasul Jayapur Papua.

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *