Para Penghianat dan Masa Depannya

Para Penghianat dan Masa Depannya

Cp: Presiden RI dan staf khusus kepresidenan Lenius Kogoya (google sourch)

Oleh: Maiton Gurik)*

DALAM perjuangan Kemerdekaan memang tak pernah semanis seperti yang ada di novel teenlit. Ada saja begitu banyak para pengkhianat yang begitu dicintai, namun lantaran satu dan lain hal ia ternyata berkhianat terhadap negeri dan sahabat-sahabatnya sendiri. Pasti rasa sakit dan kebencian terhadapnya akan terus diingat sampai mati – sejarah juga telah mencatat itu bahwa banyak pengkhianat yang rela menjadi dirinya dibenci setengah mati gara-gara kelakuannya yang menyakitkan banyak orang.

Katakanlah, Yudas Iskariot, si pengkhianat yang menukar Yesus dengan uang, 30 keping perak. Bagi umat Kristiani, tak ada pengkhianat yang paling mereka benci selain Yudas Iskariot. Berbeda dengan Mustafa Kemal Attaturk, si penghancur Islam. Mustafa, dianggap sebagai salah satu tokoh pemecahan belah Islam di Turki dan banyak diduga ia sebagai agen dari pihak tertentu yang misinya memang menghancurkan kejayaan Islam. Pun ada Mir Jafar, sang pengkhianat India, masa kerajaan Bengal, pada tahun 1747. Mir sangat ambisius untuk bisa mendapatkan tempat yang lebih tinggi terhadap kerajaan Inggris dan membuat perjanjian dengan Inggris lewat salah satu komandan pasukan bernama Robert Clive dengan misi menghianati negerinya.

Tak lupa, Vidkun Quisling, berjuang membela tanah air di Jerman pada masa kejayaannya bersama Hitler berhasil melakukan banyak ekspansi wilayah. Vidkun adalah sosok penting Norwegia dengan posisinya sebagai salah satu petinggi militer di sana. Namun di saat yang sama, ia juga sangat menyanjung Hitler. Akhirnya keduanya pun bersepakat untuk membuat Norwegia berada di kaki Jerman. Vidkun yang mengetahui secara pasti kekuatan dan strategi Norwegia, membeberkan hal tersebut kepada Hitler. Rencana ini sukses besar dan Vidkun diangkat menjadi salah satu orang penting di Norwegia jajahan ini. Namun, pada akhirnya nasib berbalik, Norwegia mampu lepas dari Jerman ketika Hitler kalah di Perang Dunia II. Vidkun, akhirnya pun mati secara tidak terhormat di tangan eksekutor atas tembaknya. Apalagi, Wang Jingwei, pengkhianat China yang menjilat Jepang Peristiwa Nanjing di tahun 1937 merupakan babak paling kelam dalam sejarah China. Saat itu, sekitar 300 ribu orang China dibantai dengan kejam oleh tentara Jepang. Bahkan tak hanya itu, para wanita pun diperlakukan seperti hewan. China sangat menderita saat itu. Namun anehnya, ternyata ada pria Tiongkok yang justru tidak simpati dengan bangsanya sendiri yang diperlakukan seperti ini. Wang Jingwei melakukan pengkhianatan dengan bergabung dengan Jepang. Ia bahkan mendukung langkah negeri matahari terbit itu untuk membentuk negara boneka di China saat itu. Wang pun mati tak lama sebelum Jepang akhirnya menyerah di Perang Dunia II.

Dalam konteks itu, nasib para penghianat memang buruk dan masa depannya penuh dengan sandiwara dan tidak ada kepastian hidup yang berfaedah. Sejarah pun telah banyak mengingatkan kita bahwa dalam perjuangan kemerdekaan ‘SETAN’ yang bernama ‘penghianat itu pasti ada dan akan terus hidup tumbuh di segala macam sendi-sendi perjuangan kemerdekaan. Misalnya, perjuangan kemerdekaan Papua Barat. Kita pun sedang menghadapi tantangan yang sama (internal) bukan saja melawan tantangan kekejaman dan kekerasan negara (eksternal) melainkan melawan kuatnya sahabat sendiri yang bernama si ‘penghianat itu. Semoga!

Maiton Gurik, M.Sos. Waktu 02:22 Wib. Jakarta, 22 Agustus 2019.

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *