Diskriminasi dan Rasisme

Diskriminasi dan Rasisme

Ikatan Mahasiswa Papua di Sumatera Utara menggelar protes atas aksi diskriminasi dan rasisme terhadap mahasiswa di Surabaya, Senin, 19 Agustus 2019. (Foto: VOA/Anugrah Andriansyah)

Oleh: Matius Sobolim

Diskriminasi rasial bisa menyebabkan rusaknya tatanan seluruh lingkup kehidupan baik: kesehatan, mental, dan fisik seseorang. Sehingga, berpeluang besar terjadi berpecahan dan membuat suatu kelompok atau Negara.

Rasisme yaitu: suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya ternyata mempunyai dampak buruk bagi: kehancuran mentalitas, moralitas dan kesehatan, serta psikologis terhadap kaum minoritas atau ras tertentu.

Riset terbaru dari para ilmuwan di University of Manchester, Inggris, mengungkapkan bahwa diskriminasi rasial bisa menyebabkan rusaknya kesehatan mental dan fisik seseorang.

Studi yang diterbitkan dalam American Journal of Public Health meneliti pengalaman serangan rasial yang dialami sepanjang lima tahun. Serangan-serangan yang diteliti ini terungkap dalam bentuk makian dan serangan fisik. Selain itu diteliti pula upaya menghindari tempat tertentu dan perasaan tidak aman yang dialami kaum minoritas.

Ternyata kaum minoritas yang mengalami diskriminasi rasial akan mengalami lebih banyak masalah kesehatan, mental, gangguan psikologis dibandingkan kaum minoritas yang tidak didiskriminasi.

Dorongan stres terbesar adalah rasa takut untuk lewat tempat tertentu dan rasa tidak aman, tidak bisa makan ditempat umum karena takut di lihat, dan di ketawakan. Tidak berani naik Angkutan umum, karena sering terjadi bergeseran posisi duduk menghindari bau amis. Duduk bersama dan makan bersama dengan kelompok minoritas sangat sulit, karena ada tempok aparteid.

“Temuan ini menunjukkan bahwa paparan terhadap diskriminasi rasial sepanjang hidup, atau kesadaran adanya diskriminasi rasial yang dialami oleh orang lain, bisa terus memengaruhi psikologis, kesehatan, mental, orang-orang dari etnis tertentu. Pengaruh ini bahkan dirasakan setelah paparan awal diskriminasi rasial,” ujar Laia Becares, peneliti dari University of Manchester Jurusan Ilmu Sosial sekaligus peneliti di Center on Dynamics of Ethnicity.

Kami melihat bahwa semakin besar rasisme yang dialami orang-orang dari etnis minoritas, semakin besar penderitaan psikologis yang mereka rasakan,” tambah Becares.

Temuan ini sejalan dengan berbagai penelitian lainnya yang menunjukkan bahwa diskriminasi rasial berhubungan dengan stres, depresi, pilek, hipertensi, penyakit kardiovaskular, kanker payudara dan kematian.

Studi lainnya yang diterbitkan dalam jurnal Sociological Inquiry mengungkapkan bahwa 18,2 persen orang berkulit hitam yang mengalami diskriminasi rasial dilaporkan mengalami stres emosional, dibandingkan hanya 3,5 persen orang berkulit putih.

Di Amerika Serikat, misalnya, diskriminasi rasial terus menjadi masalah di perumahan, sekolah dan dalam penegakan hukum. Sebuah jajak pendapat tahun lalu yang dilakukan oleh CNN bersama Kaiser Family Foundation menunjukkan bahwa 69 persen orang kulit hitam dan 57 orang Hispanik mengalami masalah akibat diskriminasi pada masa lalu dan masa sekarang.

Pada zaman sekarang diskriminasi dan rasisme adalah salah satu racun yang disken serta dicegah oleh hukum dan HAM, namun kekuatan hukum dan ham tidak bisa dipercaya dan tidak berguna bagi klonial, rasialis, dan para diskriminator.

Karena kebencian para para mayor memiliki kekuatan siklus air yang meluap sampai takterhindarkan sampai pada kerusakan yang membarah, barulah kesadaran bersalah muncul dikemudian.

Atas dasar homogenitas para pemimpin dan masyarakatnya berteriak berlebihan tidak seharusnya berteriak. Menutup pintuh dan membendung jalan demokrasi tanpa mengerti jati diri sebagai pemimpin dan integritas bangsanya.

Para reaksoner mengeluarkan kata-kata yang mengandung unsur diskriminasi tanpa di perhatikan kontek. Emosional sesaat mangakibatkan menanamkan nilai-nilai aparteid dan hal itu mencutus sejarah baru bagi bangsanya. Dan dunia tahu bahwa Di Negara ini, pernah menjaja dan pernah pula mendiskriminasi ras tertentu.

Hal itu yang mempengaruhi sehingga berdampak pada hubungan bilatral ketika kelompok tertindas diakui sebagai sebuah nagara. Karena diskriminasi adalah ibarat lukah. Luka dalam diobati dan bahkan berjalannya waktu bisa sembuh sendiri. Tetapi bekas luka tidak akan hilang. Demikian pula negara bekas apartheid seperti Afrika.

Kami orang kulit hitam dimata orang barat dan Asia adalah kelompok minoritas dan kelas 3. Namun sebenar bukan demikian. Pemikiran itu muncul karena egois, indifidualis, rakus, ororiter itu yang membuat munculah kelompok minoritas.

Allah sang pencipta, kahalik langit dan bumi tidak pernah menciptakan manusia tiga kelompok. Kelompok sem, kelompok Ham, kelompok Yafet. Tetapi Allah menciptakan manusia itu menurut gambar dan rupa Allah. Yakni:Adam/Adama buka?

Baru manusia menentukan ras yang paling unggul itu dari mana? Apa dasar hukum? Apakah ada dalam Alkitab? Apaka ada tertulis dalam Alkuran? Apakah manusia/ras tertentu lebih unggul terhadap ras manusia lain?

Semua pertanyaan diatas adalah pertanyaan bodoh yang lahir dari pikiran orang bodoh yang tahu kebenaran tapi berpura-pura todak tahu itulah yang membuat.

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *