Legislator : Mahasiswa Exsodus Juga harus di bantu Pemerintah

Legislator : Mahasiswa  Exsodus Juga harus di  bantu Pemerintah

Jayapura, Suara Mee – Kementrian PUPR dan Pemerintah Provinsi Papua sudah siap memberikan ganti rugi kepada korban kebakara pasca demonstrasi menolak rasisme jilid dua tanggal 29 Agustus 2019.  Ha itu mendapat tanggapan dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua.

Legislator Papua, Komisi 5 Bidang Infrastruktur Nioluen Kotoki berharap bahwa pemerintah Provinsi Papua dan Kabupaten/kota di Papua harus memberikan bantuan kepada mahasiswa Papua yang Exsodus ke Tanah Papua.

Nioluen Kotuki mengatakan, bantuan dari pemerinta Pusat melalui Kemetrian PUPR dan Gubernur Papua suda memberikan dana yang cukup besar bagi korban kerusuhan.

“Bantuan yang diberikan itu dampak dari demonstrasi rasisme di Kota Jayapura, dan hari ini mahasiswa Papua juga merasakan dampak yang sama karena di ancam sejumlah ormas maka  mereka memilih pulang ke Papua,” katanya kepada wartawan, Senin (16/9/2019).

Nioluen mengatakan, akar masalah belum diselesaikan ini yang kita sibuk sekarang ini hanya dampak, maka penanganan harus serius. Ada dana dari Pemprov dan PUPR juga bantu, (korban Kerusuhan).

“Maka harus perlakukanya juga sama bagi mahasiswa yang exoduas ke Papua, karena akar masala juga sama mereka kena dampak,” katanya di Jayapura, Senin, (16/9).

Lanjut Nioluen persoalan makan minum bagi para  mahasiswa yang Exsodus ini harus dilihat oleh Pemerinta sebab mereka suda membuka posko, maka  bantuan bisa disalurkan disitu.

“Ini (Exsodus Mahasiswa Papua) tangungjawab kita bersama, pemerintah pusat, provinsi dan Kabupaten/kota mereka juga kena dampak dari rasia di beberapa kota studi,” katanya.

Nioluen mengatakan, DPRP akan melakukan pendataan dan meminta keterangan langsung diri mahasis yang pulang ke daerah.

“Kami akan melakukan kunjungan ke asrama Biak, Asrama Lanny Jaya, Tolikara dan lainya dan melakukan pendataan dan meminta informasih langsung dari mahasiswa,” katanya.

Kotoki juga menyangkan sejumlah pengalian isu yang tidak menyelesaikan subtansi masalah rasisme hingga saat ini.

“Sebenarnya akar maslaah belum selesai ini yang kita sibuk ini hanya dampak, maka penanganan harus serius. Mari kita fokus selesaikan akar masalah ini, masalah utama adalah ormas – oramas di beberapa kota studi itu mereka mengancam mereka,(mahasiswa Papua, maka kami minta Gubernur dan Bupati harus cepat tangani masalah ini, mengatasi ini karena perkulian suda berjalan trus jangan sampai mereka cuti,” katanya.

Selain itu, ia juga meminta agar para mahasiswa tidak menahan diri untuk berdiskusi dan menyelesaikan solusi bersama gubernur provinsi Papua dan pemerintah daerah.

“Pak Gubernur suda undang tapi mahasiswa tidak hadir, adik-adik mahasiswa juga jangan mempertahakan pendapat dan harus terus berkoordinasi dengan Pemprov dan Pemda untuk mencari solusi jangan sampai kalian koorban maka mahasiswa harus berpikir jerni, tapi mereka tidak  hadir untuk diskusi bersama gubernur, maka kami minta saling menghargai, kita juga minta pak gubernur minta semua mahasiswa kulia,” katanya.

Ia juga menambahkan ini maslaah terjadi di surabaya masyarakat papua hari ini diarahkan ke persolan lain, maka semua harua fokus masalah yang terjadi dibeberapa kota studi.

“Baiknya itu dalam waktu dekat pemerintah lebih cepat membentuk tim gabungan apa penyebap mereka pulang ke Papua yang kita lihat banyak berbicara di media tapi tidak selesai, dan hingga kini sekitar 200 san lebih mahasiswa lannya jaya telah pualang ke Papua tapi ada yang langsung ke rumah yang suda turun dengan Kapal dan Pesawat.

Salah seorang orang tua Mahasiswa Iman Wenda mengatakan, sebagai orang tua. Sangat pihatin dengan isu rasis da nisus rasisme yang dilabelkan kepada anak-anak kami di tanah jawa, Makasar, Manado, dan lainnya. 

“ketika kami menelepon kepada anak anak kami. Yang mereka menelepon kepada kami mereka takut ormas. Walaupun pemerintah Pusat sudah berjanji untuk menjamin kemanan. Tetapi hal itu tidak pernah diraskan oleh mahasiswa Papua. Kita disini saja merasa takut dengan. Apalagi mahasiswa Papua di sana,” katanya.  

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *