Oleh: Cristian P. Tabuni


1.PENDAHULUAN
Dalam artikel ini penulis mengutip ada sejumlah data penjajah kolonial Indonesia mengenai bangsa West Papua.

Di sini penulis berikan tulisan berupa kajian sistematis setiap obyek yang ada dan memiliki permasalahan sehingga tulisan dapat menarik kembali sejarah masa lalu Papua agar supaya kita berdiri bersama rakyat bangsa West Papua di atas tanah kita sendiri.

Pulau Papua merupakan satu daratan bagian dari negara Papua Niugini. Mempunyai filosofis yang berbeda dan memiliki daratan yang luas kurang-kurangnya tiga kali luas pulau Jawa. Kini penduduk Orang Asli Papua (OAP) sangat kurang sekali. Jumlah penduduk OAP dengan masyarat Nusantara lebih banyak masyarakat Nusantara di bandingkan dengan OAP.

Indonesia masuk ke Papua hannya kepentingan jabatan, golongan, untuk menjajah tanah Papua dan orang Papua. Semenjak Papua dipaksa gabung dengan NKRI, OAP sendiri tidak pernah hidup tenang dan aman, tiap saat terjadi operasi besar-besaran, sehingga tidak ada damai di tanah Papua. Bahkan yang lebih aneh lagi, Indonesia melihat kami OAP tidak ada nilai di mata mereka.

TNI dan Polri yang bertugas di West Papua bukan melindungi rakyat, tetapi membunuh rakyat Papua, pemerintah Indonesia juga hadir hannya mengurus kepentingan pemodal untuk merampas kekayaan yang ada diatas tanah Papua.

Bagi orang-orang terdidik sebenarnya tugas kita menjadi pelopor keadilan dan penegak nilai kebenaran serta martabat manusia untuk menciptakan dunia yang beradab dan berkeadilan serta kedamaian. Artinya para kaum terpelajar tidak mewariskan dan memelihara serta mempertahankan sejarah yang busuk, salah, bengkok yang menyebabkan penderitaan panjang dalam sejarah kemanusiaan di West Papua. Kita berkewajiban untuk menciptakan Papua yang harmoni, berperadaban dan manusiawi, kutipan dari. Gembala Sofyan S. Yoman, MA.

Dalam misi mulia ini, kita harus melangkah dalam tindakan nyata, yaitu menulis sejarah dengan jujur, benar dan obyektif. Karena yang abadi adalah sejarah itu sendiri. Kita harus hindari penulisan sejarah karena kepentingan dan pesan sponsor. “Setiap dusta harus dilawan. Menang atau kalah. Lebih-lebih dusta yang mengandung penindasan“ (Mayon Soetrisno: Arus Pusaran Soekarno Roman Zaman Pergerakan, 2001, hal.369)

Rakyat Papua menentang dan menolak hasil PEPERA 1969 selama ini. Karena PEPERA 1969 dimenangkan oleh ABRI (sekarang: TNI-Polri). Apakah benar Pepera 1969 di Tanah Papua dimenangkan oleh TNI-Polri?

Apakah benar Indonesia menduduki dan menjajah rakyat dan bangsa West Papua secara ilegal melalui Pepera 1969 yang cacat hukum Internasional?
Apakah ada bukti-bukti kuat yang dapat dipertanggung jawabkan? Dalam proses dimasukkannya Papua ke dalam wilayah Indonesia, militer Indonesia memainkan peran sangat besar sebelum hingga masa pasca Pepera 1969.

Terlihat dalam dokumen militer Surat Telegram Resmi Kol. Inf. Soepomo, Komando Daerah Militer XVII Tjenderawasih Nomor: TR-20/PS/PSAD/196, tertanggal 20-2-1967, berdasarkan Radiogram MEN/PANGAD No: TR-228/1967 TBT tertanggal 7-2-1967, Perihal: menghadapi referendum di IRBA tahun 1969: Mempergiatkan segala aktivitas di masing-masing bidang dengan mempergunakan semua kekuatan material dan personil yang organik maupun yang B/P-kan baik dari Angkatan Darat maupun dari lain angkatan.

Berpegang teguh pada pedoman, referendum di IRBA tahun 1969 harus dimenangkan, harus dimenangkan. Bahan-bahan strategis vital yang ada harus diamankan. Memperkecil kekalahan pasukan kita dengan mengurangi pos-pos yang statis. Surat ini sebagai perintah OPS untuk dilaksanakan. Masing-masing koordinasi sebaik-baiknya. Pangdam 17/PANG OPSADAR.

Penguasa Kolonial Infonesia Membusukan Hati Bangsa Weats Papua


Penguasa kolonial Indonesia di bangun di atas dasar yang rapuh, yaitu di atas tulang-belulang selama 58 tahun, tetesan darah, cucuran air mata dan penderitaan orang asli Papua.

gembala Dr. Soctrantez, MA. Pernah mengatakan dalam bukunya saya hadir bersama karier bapa gembala memberikan penah yang utuh untuk diteruskan kembali menjawab dengan kebenaran keadilan dan martabat, sementara kebenaran sejarah bagi bangsa yang diduluki dan dijajah selalu ditulis yang buruk-buruk saja dan bahan menggelapkan kebenaran sejarah dengan cara membakar semua buku-buku dan simbol-simbol sejarah. Realita ini yang dialami dan hadapi rakyat dan bangsa West Papua yang sedang duduki dan dijajah bangsa kolonial Indonesia.

Penjajah ini sudah membusuk hati rakya West Papua sebagai manusia martabat mempunyai nilai-nilai kehidupan itu sendiri dalam perjalanan, waktu yang tidak terlalu lama, kolonial Indonesia menduduki dan dijajah melapeta nubuat-nubuat ini pada prinsipnya; kenyataan saat ini adalah dari TNI & Poldri yang dilakukan kekerasan penidasan bangsa West Papua, TNI & Poldri yang diduduki dan dijajah, TNI & Poldri yang siksa bangsa West Papua, kolonial Indonesia seperti semut keluar masuk tanpa batas suatu tempat yang mereka bertelur,

Penulis menulis dengan kata caci-maki karena kejahatan dan kebohongan berbagai informasi keluar dari media yang dikontrol penguasa Indonesia yang militer, sekian lama kolonial ini tindas dari tahun 1969-2020. Kekeras yang dipajungi merupakan penguasa yang dilakukan manifestasi berbagai media diilustrasikan kebenaran yang ditutupi, rakyat West Papua bukan bangsa bagian dari contoh oleh dunia lain, tapi catatan (A-Z) merupakan kolonial Indonesia pada dasarnya pemimpin ke pemimpin menonjolkan para pahlawan dan kehebatan mereka. Sesungguhnya semua kebohongan penipu di atas penipuan.

KESIMPULAN
Sudah lama luka membusuk di hati rakyat Papua bangsa West Papua, Rakyat Papua akan menjawab sendiri kebenaran bangsa Papua yang brutal, kami rakyat Papua bagian dari ras melanesia itu sendiri, memiliki nilai-nilai kebenaran dan memiliki hak ulayat dari leluhur hingga saat ini.

Penulis memiliki kehormatan bangsa yang monumental apa yang dilakukan kolonial Indonesia menimbulkan kesan peringatan pada istigma-istigma pasca kolonial modern ini, seiring angkat bicara kebenaran gembala Rohani ialah Gembal Dr. Soctrantez S. Yoman, MA., Gembala Dr. Beni Gyai dan kawan-kawan.

Di kaderkan generasi penerus berwawasan global yang berpikir kritis memiliki potensi untuk melawan kolonial Indonesia, dengan cara kehormatan dan kebenaran ini masih banyak berbagai daerah sedang diperjuangkan ini dikemudian hari akan hadir.

Yogyakarta, 11 Mei 2020

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *