Oleh : Stefen Boma

SEEKOR burung kecil berusaha untuk pindah rumah. Lalu burung kecil bertemu dengan tetangganya.

Setelah itu tetangga bertanya!
Anda mau kemana?
Burung kecil pun menjawab “Aku mau pindah rumah di seberang sana”
Tetangga pun menjawab “Anda tinggal disini lebih nyaman dan cukup lumayan, kenapa kamu mau pindah?”
Burung kecil menjawab “karena saya melihat kebanyakan orang-orang disini tidak suka dengan suaraku”
Tetangga pun menjawab “kalau kamu pindah tentu orang-orang disana juga akan memarahi anda jika suaramu seperti begitu, mulai sekarang mesti anda mengubah suaramu pada saat anda kicau agar orang-orang disekitar anda senang denganmu.

Akhirnya burung kecil pun tunduk dan menangis sambil merenung sejenak suaranya pada saat berkicau, entahlah.

Kisah seorang burung sangat menyedihkan hati seandainya seorang insan pernah mengalami seperti narasi diatas, maka semestinya akan memuaskan dan merenung sejenak.

Seekor burung kecil sangat pintar ketimbang manusia punya akal sehat, mengapa seorang burung pintar? Karena dia bisa mengoreksi diri sendiri atas kesalahannya, tanpa orang lain mengoreksi bahwa pada saat burung kecil berkicau, tentu suara dia pada saat berkicau kedengaran orang lain disekitar dia pasti tidak senang dengan suaranya.

Sehingga burung kecil pun berusaha untuk memindah rumah namun realitanya ia pun bisa bertahan hidup ditempat dan kemudian seterusnya burung kecil pun mengubah suara pada saat ia kicau.

Narasi seekor burung mengajarkan insan untuk sebuah pelajaran yang berharga dalam dinamika kehidupan sebagai makhluk yang bisa bertahan hidup desahnya.

Keindahan alam yang begitu indah terpesona menghirup aroma ke kicauan burung entah pagi siang sore bahkan malam sekalipun, untuk memberi semangat dan membawah harapan yang indah bagi setiap insan agar memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien.

Andaikan aku ini, seekor burung yang punya sayap. Aku bisa terbang hingga setinggi langit namun karena insan maka aktivitas seharian tidak jauh dari jalan di persipangan walau orang lain memandang sebelah mata sekalipun.

Di pagi hari tangisan gertak dihutan belantara dimana seekor burung meminta tolong untuk menyelamatkan dari sarang, maka siapa yang bisa dan mampu untuk menyelamatkan, jika burung itu barang makan!
Tentu, serata insan hasrat untuk bunuh dan bakar tapi inisiatif seseorang untuk menyelamatkan, dialah yang akan mendapatkan hikmah dan berkah kehidupan yang begitu berlimpah ruah pula aroma burung pun terus terinspirasi dalam kalbu.

Sejenis burung memberi sebuah ilustrasi secara instan untuk setiap insan mengubah kebiasaan, sikap, kelakuan, mental dan harapan hidup yang bertubi hingga kelak agar manusia belajar kesadaran diri dari ilustrasi seekor burung.

Jayapura, 12 Mei 2020
Karya Bunani Manaa

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *