Oleh : Mikael Tebai

Belum bisa ku rebut sebuah mimnpi yang perna ada. Di antara usia waktu, gelisah selalu pertanyakan keberadaan ruh ku kelak “ke negeri para leluhurku atau ke negeri para bajingan itu!.”
Langit malam merias bintang, berkalung senyum yang menawan. Berbalut bulatan asap rokok dan hitamnya kopi moanemani, aku memilih sendiri berteman sepi disudut kursi tua peninggalan almarhum ayahku.
Ada secuil rasa gelisah yang merenggut hatiku, ketika sahabat karibku, Efendi masih gamang berbusana adat. “Cuma hanya pake koteka dan de pegang busur anak panah saja de musti takut kah?, so ni ko pu adat pace!” gumangku seakan tidak percaya dengan kenyataan ini. Apa iya karena Efendi lahir di kota yang beranekaragam rupa budaya-nya, hingga menumbuhkan rasa malu?. Ahhk aneh sekali.

Sadar karena terlalu asyik bermain dengan imajinasi sampe aku dibunuh sang fajar untuk menutup mata. Saat mo memejamkannya, aku merasakan sebuah tangan lembut tertumpuh di bahuku sontak aku berbalik dan ternyata Efendi, sahabatku yang tengah tersenyum. Dia adalah telingah yang paling baik untukku.
“ Sesil, ko jang melamun trus! Nanti ko kerasukan setan lagi!” ucapnya memperingati.
“be sa tra melamun kok, Efendi!” kataku sambil memegang tangannya dan menyuruh duduk disampingku.

Teng…. teng…. teng…. “Sepertinya suara bunyi hanphone-mu, kawan.” Kata Efendi. Aku pun memeriksa hanphone-ku yang ada di dalam noken.
“Pa Longky suruh sa datang besok ke de rumah ”, Kataku sambil ku tunjukan kepada dia tentang pesan yang dikirim bapak Longky, dosen yang mengajar etnografi di Program Studi kami. Sayang, jang lupa ajak ko pu sahabat lagi, jang sendirian? Sa masih mo tetap deng ko sesil.kamu adalah sahabat yang aku punya,selaian kamu tidak ada orang lain didalamku. Raut wajah manjanya kembali bermain, tatapannya dengan berharap penuh. Sip sayang!.


Mentari mulai membakar setiap pori pori dengan api cahayanya. “Sesilius, Efendi mari tonk sante sedikit duluh ‘ni terlalu panas nanti bru tonk lanjut kerja” kata pak Loncky sambil menyodorkan segelas minuman kelapa susu buatan istri pak Loncky. Kami pun menyapa bapa disana.
“Bapa, sa boleh tanya kah!” ucapku sambil membuka percakapan, bagaimana anak? Jawabnya.
Begini pa ; “ kenapa sa pu generasi ni seperti semua kena kutukan kah, gula gula manis kah begitu!” Maksudnya bagaimana ni nak?.
Maksudnya begini bapak. “ Rata-rata perempuan Papua masih buta dalam hal meremas sagu dan membuat beden untuk menanam (ubi) petatas. Laki-laki Papua masih kaku untuk menggengam busur anak panah seperti Efendi ni dan memegang jala untuk menebar. Bahasa saja, kalo donk disuruh bicara bahasa daerah itu akan campur aduk pa!, ada Indonesianya ada juga daeranya. Tarian dan yospan saja sudah tidak perna di gemahkan, patolah dan tik-tok mah bagi mereka. Pake koteka dan cawat saja sudah dianggap basih bagi mereka!. Sa sakit sekali. sa takut,sa pu ruh tra bisa dapat tempat di negeri para leluhur”. Sa seakan terbawah suasana semua jadi hening, air mata menyapa pipi kusamku.


“Zaman terus-menerus berputar nak, kalian berada dimasa yang sangat menantang, kalau kam tra pegang teguh apa itu budaya yang selama ini memikat?, berarti kalian “Kalah” dalam pertarungan hidup.” Balas bapa sembari menyapa penuh optimis.
“Apa yang sekarang Sesil mo lakukan ketika melihat perkembangan yang terjadi diantara ko pu kawan-kawan” lanjut pa Loncky seakan meminta jawaban dariku
“Sesil, ko pu ide apa? Sa tetap dukung nanti!” dengan rasa penuh persahabatan Efendi merangkulku.
“Bapa…. Efendi…. saya punya mimpi; “Sa mo buat Festival Budaya yang mengarah kepada kebudayaan Papua. kalo sa su jadi kepala dinas pendidikan provinsi sa akan terapkan setiap Jenjang pendidikan ( SD, SMP, SMA ) harus ada mata pelajaran Etnografi Papua. Harus ada kegiatan Ekstrakulikuler berbasis budaya dalam setahun. “Seperti begitu bapa tapi,
Tapi kenapa?”, ko pu mimpi su bagus mo, semoga ko pu mimpi terwujud Sesil. Doa kami selalu mengantarkanmu kepada mimpimu yang indah itu”. Jawab pa Loncky
Setiap malam hanya ada gelisa yang belum bisa direbut, ketika mimpi akan semuanya belum bisa digapai hanya karena waktu. Hatiku seperti di sembelih.


Waktu Tuhan tetap terbaik. Dimana waktu itu bisa dinikmati kembali oleh sa saat memperingati Hari Puisi Nasional pada tanggal 28 april 2020 besok di Audit FKIP nanti.
“ Sesil, ko atur kata untuk ko pentaskan sudah” kata efendi sambil merangku pundakku
“ Ahk…. pentas apa?”
“Bah! Puisi tentang ko pu keraguan dalam kaca mata milenial tentang kebudayaan itu”
“Adoo Nogey sa rasa sa belum pandai merangkai kata, tentang ini”
Ado ko bukan Sesil yang sa kenal kali ini. Ko bukan Sesil yang duluhnya selalu punya ide yang cemerlang, pantang mundur, pandai merangkai kata dan sebagainya. Cuma hanya sebuah puisi ko tra bisa yo? So ko bukan manusia kali ini, Sesil.
Perkataan yang terus meredukan kesunyian hingga beberapa menit
“Ah jang begitu demi, sa bukan pengecut. Sa akan buktikan besok. Tapi ko harus bantu sa
“Hehe…. Ko tu seperti sa pu bayangan. Kita akan selalu bersama nogey.
Hehe sayang ahk ( sa deng efendi pun saling berpelukan)

Kabar baik ini sa beritahukan kepada sa pu ortu angkat, pa Loncky. Setiap malam hanya penyapaan hampa pada properti yang telah lama ditimang. Entah sa harus tuangkan apa, untuk pementasan Puisi besok yang diadakan dari komisariat.

Tinggal dua hari saja namun tinta hitam tak mampu merangkai kata sebagus yang diharapkan layaknya kegagalan menyapa.

“Ado…. ni so tinggal satu hari ko tra buat puisi juga… bru ko mo pentaskan apa. Ko pu nama Pecandu Kenangan tu sa su lapor ke Panitia donk, baru nanti ko urutan ke 13 (tiga belas) dari 15 (lima belas) orang lagi.

“Sa juga bingung Efendi….. sa mo tulis apa ni !”
“Sio… sa pu anak ee…. ko tulis yang perna ko bilang ke bapa tentang ko pu ide tu.” sahut pa Loncky dengan seberkas senyum yang mengiyakan
Nah! betul skali bapa. Hehe…. wa…h sekarang baru sa sadar ale. Sa tiki-taka de dolo.


20 April adalah hari kematian sang puitis 45 “ Chair Anwar” seperti biasanya Komisariat Bahasa indonesia kembali mengadakan acara pementasan puisi. Dimana seluruh Fakultas dan beberapa tenaga kerja Rektor da Fakultas turut hadir. Moment yang sangat dinantikan tiap tahun oleh setiap mahasiswa yang meminati puisi untuk mereka berpuisi. Sebentar sa juga akan pentas dan kali ini sa pake koteka sambil mementas
“Habis ini ko, Sesil, sa yakin pasti ko dapat yang terbaik.
“Sesil tatap bapa berapa menit ( saat menatap bapa, aku mulai sadar bahwa sebenarnya harapan mereka sangat besar untuk kita tetap melestarikan kebudayaan ini )”
“Panggilan kepada peserta nomor urut 13 boleh maju kedepan untuk mementaskan puisinya…”
“Pewara ada panggil itu, pi sana su” kata mereka dengan serempak.
Ada apa dengan generasiku
Oleh : Sesil

Tak senyata dulu
Saat leluhur kami meremas sagu sebagai Simbol kehidupan
Seperti para moyang mengangkat Petatas layaknya Dewa kehidupan

Tak segagah dulu
Ketika lelaki berbusana koteka menggengam busur anak-panah sebagai Simbol kebebasan
Melawan derasnya ombak demi menebarkan jala seperti Sang Mambri

Ada dengan dengan duniaku sekarang!
Mengapa masih ada separuh wanita yang takut meletakan jemarinya demi meremas sepenggal sagu, separunya masih sulit di temukan kehebatannya dalam setumpuk petatas

Ada apa dengan kehidupan ini!
Sampai gengaman lelaki berbusana koteka masih gamang menggengam busur kebebasan
Separuhnya terlena dalam jebakan jala sang modernisasi

Ada apa dengan duniaku sekarang!
Mengapa seusiaku terus ingin berlari menggapai langit asing, dan lebih mengutamakannya
Hingga percakapan leluhur tiada jejak di temukan se usiaku

Tak seperti dulu lagi
Kepingan kepingan penjajah meremuk semua keistimewahan duniaku
Semua hampir tak dilihat sisa-sisa kepingan

Atas nama generasi, aku menerimu sang perubahan
Semua terasa serba teknologi, mudah dan enak
Atas nama kehidupan aku berterimakasih

Namun masih ada secuil rasa gelisah yang lekas mengiris tulang di semua tubuhku
Rasa yang begitu menusuk sampai ke sum-sumku
Dongeng yang nantinya meneriakan kemaluan ratu cenderawasiku

Kelak ditempat para leluhurku “ aku takut mereka menolak ruh ku”
Aku takut ketika ditanyakan “Siapa kamu sebenarnya”
Oh Tuhan! Ada apa dengan generasi kami saat ini?
Jayapura 14 April 2019

Setelah sa baca puisi, sa kembali ke sa pu tempat duduk. Tapi anehnya, trada yang tepuk tangan apalagi bicara. Tiba- tiba salah satu bapa datang memeluk sa dengan menangis.

“Anak…. ko su curahkan sa pu perasaan yang selama ini sa pikirkan. Terimakasih anak.” Kata bapa itu

Karena sa juga mulai takut sa tatap sa bapa longky. “ Itu Bapa Ondoafi disini” Jadi peluk saja
Sejenak sa tenang sante dan baba ondoafi juga melepaskan pelukannya.

Akhirnya juga sa menjadi pemenang dalam pementasan Puisi kali dan saya mendapatkan kesempatan untuk memberikan sambutan. Saya Cuma katakan sepengal kata yakni, “Budaya itu cerita yang harus kita lantungkan agar terdengar indah disetiap generasi.”

Jayapuara 07 April 2020

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *