Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman,MA

Perempuan Lani identik dengan keberhasilan seorang laki-laki, artinya, peran penting perempuan Lani ialah selalu menangkat martabat seorang laki-laki dan dinobatkan menjadi seorang pemimpin hebat yang dihormati oleh orang Lani dengan gelar “Ap Nagawan” atau “Ap Ndumma” yaitu laki-laki pengayom masyarakat, pelindung rakyat, pembawa damai, penutur kebenaran, keadilan, kasih dan kedamaian.

Perempuan Lani identik dengan pembawa damai. Perempuan Lani sering tampil di depan medan perang dan menyatakan perang harus dihentikan, maka perang pun berhenti.

Perempuan Lani ditempatkan dalam ruang kehidupan lebih sentral sebagai sumber kekayaan dan kehidupan. Karena itu, orang Lani selalu menghormati Perempuan Lani sebagai roh dari keluarga dan masyarakat suku Lani.

Perempuan Lani adalah jantung, urat dan darah orang Lani. Dalam suku Lani menempatkan perempuan ditempat terhormat. Perempuan Lani sangat dihormati oleh orang Lani karena dalam tangan perempuan ada kekayaan dan kehormatan suku Lani dan lebih khusus dalam keluarga.

Jangan heran, kalau dalam suku Lani sering terjadi perang besar karena masalah perempuan. Memang, pada umumnya terjadi perang karena tiga masalah besar, yaitu: TANAH, Perempuan dan babi.

Laki-laki suku Lani sangat menghormati perempuan sejak turun-temurun karena perempuan Lani sebagai pembawa kesuburan. Jadi, laki-laki suku Lani jarang merendahkan dan meremehkan martabat perempuan Lani. Intinya, perempuan Lani itu sumber air, sehingga sumber air itu harus dijaga, dilindungi, dan dipelihara kejernian sumber air itu dengan penuh rasa tanggungjawab.

Dalam suku laki, soal “mas kawin” perempuan itu sesungguhnya bukan bayar atau beli perempuan. Ini pemahaman yang sangat keliru dan salah dikembangkan oleh orang-orang dari luar yang tidak tahu dan mengerti makna “mas kawin.”

Orang Lani tidak pernah “bayar atau beli” perempuan. Beberapa ekor babi yang diberikan pihak laki-laki kepada pihak perempuan itu dengan beberapa tujuan:

  1. Tanda bahwa perempuan itu sudah tidak muda atau nona lagi, dan sudah menjadi milik laki-laki, sehingga tidak ada laki-laki yang melirik atau menggoda gadis itu;
  2. Tanda membangun hubungan harmonis turun-temurun antara pihak laki-laki dan perempuan supaya terpelihara rasa saling hormat pihak laki-laki dan perempuan.
  3. Tanda ucapan terima kasih dari pihak keluarga laki-laki kepada pihak perempuan, karena kedua orang tua perempuan dan saudara-saudaranya telah memelihara dan membesarkan anak gadis perempuan. Singkat kata, laki-laki minta permisi dengan cara terhirmat dan bermartabat untuk menyambut gadis itu sebagai teman hidupnya.
  4. Yang terakhir, untuk menghindari supaya perempuan itu tidak merasa bebas dan tidak ada beban moril karena laki-laki belum atau tidak pernah berterima kasih kepada orang tua dan keluarga yang membesarkan perempuan Lani.

Dalam suku Lani, perempuan dilarang kerja keras seperti membuat honai, membuat pagar, kerja kebun dan pekerjaan yang membutuhkan tenaga. Perempuan Lani adalah wanita-wanita mulia dan terhormat di hati laki-laki suku Lani. Perempuan Lani adalah surganya laki-laki suku Lani.

Jadi, di depan mata laki-laki suku Lani jangan pernah marah atau pukul saudara perempuan. Pihak perempuan seluruh kampung itu akan marah dan menyerang keluarga laki-laki yang meremehkan dan merendahkan harga diri saudara perempuan mereka. Karena di dalam peradaban hidup orang Lani bahwa perempuan itu mulia dan segala-galanya.

Kalau ada laki-laki Lani yang memukul dan melukai istrinya itu patut dipertanyakan. Perbedaan pendapat dalam rumah tangga itu sudah merupakan dinamika dalam keluarga dan hal yang normal. Memukul isteri itu bukan nilai hidup orang Lani.

Selama ini dikembangkan mitos bahwa laki-laki Lani membayar “mas kawin” dan ia perlakukan perempuan itu sesuka hatinya karena sudah “bayar mas kawin”, ini mitos yang sangat menyesatkan dan salah.

Yang benar ialah laki-laki Lani sangat menghormarti istrinya sebagai pengganti mamanya dan laki-laki Lani juga sering tunduk pada wibawa dan otoritas istrinya. Laki-laki Lani menempatkan istrinya sebagai teman seumur hidupnya, sahabat dalam suka dan duka. Hampir mayoritas laki-laki suku Lani sangat menghormati perempuan.

Ita Wakhu Purom, 13 Mei 2020

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *