Bintuni, Suara Mee- Penyebaran Virus Corona di Kabupaten Teluk Bintuni sudah masuk dalam tahap zonah merah. Semua masyarakat pun diimbau agar tetap melakukan aktifitas di rumah atau Social Distancing guna memutus rantai penyebaran Covid-19

Aktivitsa pasar pun dibatasi,sehingga menyebabkan omset para pedagang merosot. Sedangkan para pembeli mulai khawatir membelanjakan kebutuhan di pasar.

Dalam kondisi seperti inilah,timbul ide dari lima warga Bintuni untuk membentuk sebuah komunitas pasar online. Dan ternyata, kelima inisiasi ini adalah anak anak asli Papua

Salah satu inisiasi Komunitas Pasar Online Yohanes Akwan saat bincang bincangnya dengan media ini menjelaskan, komunitas ini mengelar pasar daring dari hasil kebun masyarakat setempat.

Ide cemerlang ini kata Akwan, dilakukan ditengah Covid-19 agar perekonomian petani di Bintuni tidak terpuruk. Gerakan ini diinisiasi oleh saya dan empat pemuda lainya,”kata Akwan.

Lanjut Akwan, pihaknya terus mengumpulkan hasil kebun dari 20 kelompok tani dan diharapkan terus bertambah dan merambah ke Distrik Distrik lainya di wilayah Kabupaten Teluk Bintuni.

Dengan sosialisasi dan pergerakan yang masif, tidak menutup kemungkinan akan memicu gerakan para pemuda yang sama di tempat lain.

Dikatakan Akwan, cara ini jadi energy baru antara pemerintah dan petani agar saling membantu, bahu membahu untuk tetap menjalankan ekonomi kerakyatan di tengah tentag Covid-19.

“Dan kami pastikan bahwa, dengan gerakan pasar daring ini, konsumen tetap mendapatkan hasil kebun warga dalam keadaan segar dan berkualitas. Ide awal ini juga karena gerakan pasar daring yang dilakukan di pasar tradisional terbatas di tengah pendemi corona,”

Petani dan mama mama tetap berkebun. Karena kami sudah sepakat untuk saling mengenjot produksi dan produktivitas hasil kebun mama mama Papua agar bisa terdistribusi kepada pembeli secara daring,”ujarnya

Ditambahkan, Para konsumen tetap tinggal di rumah dan memesan hasil kebun melalui tellepon,sms dan whatshapp,nanti kami yang mengantar sampai ke rumah pemesan

Dalam mengantar pesanan konsumen, kami tetap memperhatikan keselamatan dan keamanan kerja ditengah pandemi. Jadi, tetap mengunakan masker dan menjaga jarak

Jadi, ada 7 orang anak anak Papua yang bekerja di lapangan. Dan untuk memback up gerkan secara manajemen dan jejaring serta narasi, kami dibantu sekitar 20 orang non Papua,”ucap Akwan

Sementara itu, dari data media ini, komunitas ini menjual 1 paket pangan local seharga 300 ribu rupiah. Di dalam paket tersebut ada pisang, keladi, rica, tomat,15 kg ikan asin, sayur,daun papaya, daun bayam dan lain lain.Dan hanya dalam sebulan lebih sudah hampir 600 pelangan yang memesan pangan local dari komunitas tersebut.

Reporter: Admin

Sumber: Sorotpapua.net

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *