Oleh:Yorim Sasaka
Kata damai digunakan dimana- mana atau sebagai bahasa sehari-hari dalam kehidupan ini. Dan damai terebut sebagai kebutuhan yang paling mendasar bagi setiap orang. Jika rasa damai itu peroleh dalam kehidupan, baik itu. setiap orang (individu), keluarga, dan kelompok orang. Dan pasti merasa bahagia, dan kata orang hidup berdamai itu indah. Dimana pun dan kapan orang hidup berdamai akan menciptakan suatu misteri dalam kehidupan itu, akan memperoleh, yakni: harminis akan Nyaman, bahagia, dan sejaterah bila, hidup dalam damai.
Damai ialah kebutuhan yang paling mendasar dalam kehidupan bagi umat Manusia, yang perlu di upayakan bersama untuk menyatakan dalam kehidupan sehari-hari. kebahagian ialah suatu keadaan perasaan aman damai serta gembira. Dengan kata yang lain, kebahagiaan melebihi hanya perasaan kegembiraan. Umumnya, kegembiraan amat berkaitan dengan sesuatu kejadian atau pencapaian yang khusus, sedangkan kebahagiaan berkaitan dengan keadaan yang lebih umum seperti kesenangan hidup atau kehidupan berumah tangga. Bagaimanapun, kedua-dua perasaan ini adalah amat berkait dan juga amat subjektif.


Kita semua tahu bahwa di Negara Indonesia dikenal sebuah multi agama. Ada 6 agama atau aliran kepercayaan yang diakui oleh negara, yakni agama islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik,Hinduh, Budha dan konfuchu. Daalam UDD 1945 pun mengatur tentang keberadaan agama-agama tersebut. Negara mengakui dan menjamin agama-agama dan kepercayaan setiap penduduknya, serta memberikan kebebasan kepadaa setiap orang untuk beribadah menurut agama dan keyakinannya. Namun dalam praktek kehidupan sehari-hari terkadang muncul pelbagai konfilik antara agama yang satu dengan agama yang lain.beberapa rumah ibadah dari agama tertentu dihancurkan. Selain itu terjadi pula diskriminasi dan intimidasi dari salah satu agama terhadap penganut agama lain. hal tersebut dilatarbelakangi oeh pemahaman bahwa agama tertentu lebih benar daripada agama yang lain.

konfilik horisontal terjadi dikalangan orang-orang yang tidak memiliki pemahaman yang baik tentang suatu agama tertentu, bahkan mungkin ia sendiri pun kurang memahami tentang agamanya. Terkadang oknum-oknum tertentu dari agama tertentu menyerang agama lain dengan konsep agama yang ia miliki. Dengan demikian perlu adanya saling menghargai dan menghormati, menerima antara satu keyakinan dengan yang lainnya. Dan membangun komunikasi yang baik agar konfilik horisontal yang terjadi di tanah ini bisa menghilang dan menciptakan papua yang penuh damai, penuh persaudaran diantara agama-agama yang ada. Serta menciptakan kehidupan yang harmonis.


Dengan pemahaman mendasr bahwa gereja ada karena ada manusia dan sebaliknya manusia ada dan hidup saling menghargai, menghormati serta saling menerima karena ada agama yang mengajarkan tentang nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan bersama. Namun juga menyadari bahwa tidak mudah untuk menjadikan persatuan sebagai suasana hidup yang membangun kehidupan. Kita alami adanya sekian banyak pertentanagan dan konfilik, karena menerima budaya yang aneka ragam, kadang tidak mudah. Kehidupan sosial yang diwarnai oleh sifat multikultural masyarakat harus diarahakan pada penghargaan dan penghormatan terhadap masing-masing budaya. Gereja juga ikut prihatin atas situasi multikultural yang kadang justru menelorkan situasi konfilik berkepanjangan, sehingga dalam salah satu pernyataan gereja menegaskan:“kegembiraan, harapan, duka, dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan, harapan, duka, dan kecemasan para murid kristus juga”( Gaudium et Spes art.1).inilah permujudan dari pemahaman bahwa gereja adalah bagian dari dunia. Konsekuensi dari penegasan ini adalah perlu adanya perubahan, baik itu cara hidup, berpikir, cara berpastoral dan cara berelasi dengan sesama, dengan umat alam semesta dan lingkungan sekitarnya.


Ungkapan diatas ini juga dimengerti sebagai ungkapan keterbukann gereja teradap dunia, khusunya yang menderita bahkan sampai pada persaan senasib dengan mereka. ini merupakan ketrbukaan yang bersifat “ad extra” ( ke luar), kepada pihak lain, dalam hal ini dunia dan masyarakat tempat gereja berada. ( Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF.Komunikasi dialog iman dan budaya. 2012:33-37)
Manusia sebagai makhluk sosial, selalu hidup bersama orang lain. tiap orang ingin diakui adanya, ingin diperhatihkan, dihargai dan dicintai oleh orang lain. Namun dalam mengkomunikasikan diri yaitu memancarkan seluruh isi hatinya kepada orang lain, sering terjadi kesalah pahaman, pengertian. Bahwa apa yang diungkapkan, tidak persis ditangkap seperti apa yang dimaksudkan. Hal ini sangat jelas misalnya terjadi salah paham, sakit hati, tersinggung dan lain-lain. untuk menghindari kesalapahaman dalam komunikasi, disatu pihak dituntut kejujuran dalam memancarkan isi hati, tidak mainsandiwara, berkedok dan bersembunyi dibalik topeng egoisme, keserahkan dan kesombingan dll. Dan pada pihak lain diharapkan keterbukaan yang selebar-lebarnya, menerima panca indra sesama tanpa prasangka, rasa curiga. Kalau kedua belah pihak menjaga hal ini baik-baik, maka ada secercah jaminan untuk terpelihara komunikasi sehat.


Namun dilihat realitas yang terjadi saat ini dan di sini bahwa sarana yang digunakan dalam komunikasi makin banyak, makin lancar dan berakibat luas. Kita lihat misalnya radio, TV, Film, suratkabar dan majalah-majalah. Sarana-sarana tersebut bisa disalagunakan dengan misalnya mengutamakan kepentingan diri, memutarbalikan fakta, memperbesar prasangka dan lian-lain. akibatnya kita bisa bayangkan atau lihat sendiri yang terjadi dalam kehidupan ini: Perpecahan, permusuhan, saling membunuh, dan saling berfitna dan sebagainya. Sebaiknya bila dipakai sarana komunikasi, saarana untuk meumbuhkan pendapat umum yang sehat, maka sarana-sarana tersebut sangat bermamfaat untuk membina persatuan umata manusia.


Bagaimana cara kita berkomunikasi? Kita menerima begitu saja atau jadi penonton?. Tentu pertanyan-pertanyan ini mengajak kita untuk melihat diri kita, sejahu mana kita menggunakan komunikasi kita secara baik atau tidak, apakah kita juga bagian dari pelaku terjadinya msalah-msalah diatas. Dengan ini perlu memahami dan memahami pentingnya alat komunikasi kita dan mamanfaatkan secara baik dan bertanggung jawab dalam situasi dan konsidi apapun. Kita harus menggunakan sarana-sarana komunikasi untuk mewartakan kabar baik, kabar Gembira bagi sesama kita. secara kreatif diharapkan untuk ikut serta dalam menjernihkan suasana keruh di bidang komunikasi demi kesatuan dan keselamatan umat manusia. Kita dapat mulai berlatih berkomunikasi secara sehat dengan membuka diri selebar-lebarnya untuk menerima panca isi hati orang lain tanpa prasangka atau rasa curiga. Kemudian ikut menggunakan sarana-sarana komunikasi sesuai dengan maksudnya yakni persatuan seluruh umat maunia dalam damai sejahtera.
Untuk menwujudkan keterlibatan gereja dalam mengusahakan kedamaian dan kerukunan hidup bersama dengan siap saja dari kelompok agama manapun budaya mana saja Gereja juga menegaskan penghargaannya terhadap apa yang benar dan suci dalam agama dan budaya lain. dalam Tugasnya mengembangkan kesatuan dan cintakasih antara manusia, bahkan antar agama, suku dan budaya masing-masng. Gereja mendorong para anggotanya supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, memulai dialog dan kerja sama dengan dengan para penganut agama lain mengakui, memelihara, dan mengembangkan arta kekayaan rohani dan moral serta niali-nilai sosial-budaya yang terdapat dalam diri siapa pun juaga (bdk.NA 1 dan 2). (NA artinya Nostra Aetate yang berarti masa kita, berisi pernyataan tentang hubungan gereja dengan agama-agama bukan kristen). Ajaran gereja seperti diatas bukan muncul begitu saja tetapi sudah ada dasar-dasar kitab suci yang melatar belakanginya. Ada beberapa kitab yang dikutib sebagai dasar yang berbicara tentang pentingnya persatauan dan kesatuan dan hidup harmonis.
Usaha yang kiranya baik dalam kehidupan bersama adalah mengembangkan adanya kerja sama antaranggota, saling membantu, saling mendukung, tetapi dala keanekaragaman. Dalam kerja sama itu diperluhkan sikap saling melayani, memperhatikan, meneguhkan, menghargai yang lain. Di dalam kerja sama juga dibutuhkan kerelahan saling berbagi, baik dalam kehidupan bersama sehari-hari maupun dalam kehidupan yang paling mendalam. (Suparno Paul, Saat Jubah Bikin Gerah, 2007:74).


Gereja sering mengangkat option for the poor adalah hal yang penting sebab itu diteladankan oleh Yesus sendiri. Dan tugas seprti ini harus dijalankan dengan jalan cinta kasih, yakni cinta yang tanpa batas. Dengan melihat situasi sosial yang terjadi di tanah Papua. Gereja perluh bersuara berdasarkan suara kenabiannya, karena masalah yang diadapi saat ini adalah masalah kemanusiaan.


Kita semua diajak untuk menjadi saudara bagi yang lain, menjadi diri sendiri, serta menjadi anggota masyarakat yang sama-sama dipanggil Tuhan. Dan semoga kita dengan rela dan gembira hidup bersama saudara bagi sesama kita yang lain.
Setiap kita dipanggil untuk menciptakan kedamaian di dalam kehidupan kita dengan cara dan gaya kita masing-masing. Menciptakan kedamaian harus bermulai dari dalam diri kita, keluarga, komunitas dimana kita berada dan hidup. Lalu membawa atau menciptakan kedamaian itu keluar ke masyarakat luas. Tentu untuk menciptakan kedamaian dalam diri kita dan di dalam lingkungan sekitar kita tidaklah mudah semua membutuhkan waktu dan membutuhkan suatu proses perjuangan yang panjang dan lama. Dalam membangun suatu kedamaian membutuhkan suatu komitmen, kemauan, niat dan kerja sama untuk meciptakan keharonisan dalam kehidupan kita.

Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi dan filsafat fajar timur Papua.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *