Tangisan Anak bangsa West Papua

Oleh :Yorim W .Sasaka

luar biasa bahwa di dalam dunia dengan penderitaan yang mengerikan seperti ini, banyak orang dapat bertahan dalam kepercayan akan Tuhan yang baik dan penuh cinta kasih. Meskipun kejahatan ada, dan juga bukan karenanya, orang-orang itu tetap berpegang pada iman. Kenyataan akan adanya penderitaan merupakan alasan yang paling kuat dan paling nyaring untuk melawan adanya Tuhan. Dengan mengalami suatu penderitaan kita sering mempertanyakan pada diri kita dan sesama kita “Dari manakah datangnya sebuah penderitaan? Jika Tuhan yang menciptakan dunia ini adalah Tuhan yang baik, bagaimana Tuhan bisa memberikan penderitaan, Ketidak adilan dan kematian terus terjadi di dunia ini? dan jika Tuhan bertanggung jawab terhadap semua penderitaan yang kita saksikan, Namun, jika penderitaan ini bukan berasal dari Tuhan, lalu dari manakah datangnya penderitaan ini.

Lembaran tahun 2020 baru saja dimulai, namun dengan segera halaman-halamannya di penuhi dengan tragedi. Sebulan sebelum Pilkada, PON dan paskah 2020, hampir setengah juta orang di dunia ini mengalami suatu musibah atau penyakit yang memakan banyak korban di seluruh dunia. Dunia menghitung banyak korban nyawa tak berdosa, yang telah dibinasakaan oleh salah satu penyakit terbesar di dalam sejarah itu. Di seluruh dunia, orang-orang berduka karena kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Tayangan video maupun berita-berita melalui media sosial, baik TV, radio cepos, jubi, Kompas, tribunpapua dan beberapa media lainnya lokal maupun nasional bahkan internasional benar-benar menghadirkan rasa ngeri ke seluruh dunia. Masing-masing pemimpin di dunia baik pihak pemerintah, Gereja di seluruh dunia mencari solusi untuk mengatasi penyebaran penyaluran pandemik COVID-19 demi keselamatan masyarakatnya. Di seluruh Indonesia, masing-masing pemerintah daerah juga mengambil suatu kebijakan demi keselamatan masyarakat. Mereka masing-masing mencari jalan terbaik untuk mengurangi penyebaran pandemik.

Situasi Covid-19 memperparah penderitaan manusia. Kita bisa melihat bahwa manusia yang bertujuan menciptakan penderitaan manusia, menimbulkan luka-luka yang mematikan terhadap diri mereka sendiri dan terhadap musuh mereka. “kekuatan manusia untuk menghancurkan dirinya sendiri seperti itulah yang telah mendorong Sir Martin Rees, seorang bangsawan sekaligus astronom, dengan lantang menyangsikan bahwa apakah kita memiliki kesempatan lebih dari 50% untuk menyelamatkan manusia generasi berikut. Meskipun atau karena berkat kemajuan teknologi, sekarang kita memiliki kemampuan untuk menciptakan suatu penderitaan mental dan fisik dengan kadar baru bagi diri kita sendiri (Jones, 2010:8).

Pandemik yang telah memakan banyak nyawa ini kemudian diduga merupakan suatu perbuatan manusia untuk kesenangan, kenikmatan diri, kelompok tertenu bahkan negara tertentu, dan pengaruhnya sangat luar bisa mengancam nyawa manusia di seluruh dunia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin membuat orang berlomba-lomba dalam hal baik maupun yang jahat. Ketika kita mengalami suatu penderitaan maka penderitaan ini kemudian membawa kita pada ambang keraguan akan keberadaan Allah. Sebenarnya penderitaan itu sendirilah yang menciptakan tembok kuat terhadap keterbukaan dan kepercayaan. Penderitaan juga merupakan hambatan terbesar bagi iman kita akan Tuhan, Namun penderitaan juga merupakan pendorong yang terbesar akan iman kita untuk tetap meyakini keberadaan Tuhan.

Dengan melihat dan mengikuti perkembangan virus corona ini, mau menyadarkan kita untuk lebih menyadari bahwa penyakit ini sangat berbahaya bagi keselamatan diri kita dan sesama kita. Pemerintah dan gereja tak henti-hentinya menyuarakan pentingya menjaga kebersihan dan melindungi keselamatn diri dan melindungi keselamatan sesama dari bahanya Covid-19 yang kini merajalelah. Maka yang perlu menjadi tugas kita bersama ialah saling menjaga agar penyakit ini tidak semakin menular. Kita bisa mengurangi atau mencoba mengatasi penyakit ini dengan isolasi diri di rumah sesuai himbauan pemerintah.

Covid-19 menambah daftar panjang penderitaan manusia Papua pada umumnya. Sebelumnya kita tahu bahwa penderitaan di Papua dari berbagai aspek kehidupan sudah seringkali marak terjadi. Hilangnya nyawa manusia Papua adalah ‘hal yang biasa’ terjadi. Tak mengherankan berbagai peristiwa karena konflik kepentingan menjadi dalangnya. Banyak orang mati karena ditembak, dibunuh, diperkosa, disiksa. Mereka mengalami ketidakadilan yang masif. Sementara semua peristiwa ini berlangsung, Covid-19 masuk ke Papua dan menambah daftar panjang penderitaan tersebut.

Harapan Papua di tengah serangan Pandemik Covid-19
Tanah Papua saat ini mengalamai beragam konfilik, baik secara horizontal maupun vertikal yang mengancam seluruh eksistensi keberadaan orang Papua di Tanah Leluhur mereka sendiri. Dengan terciptanya beragama konfilik seperti kerusuhan dimana-mana, pertikaian, pembunuhan, pemerkosaan tak hentih-hentinya oleh berbagai oknum yang tidak bertanggung jawab menjadi dalang bagi suburnya muncul beragam konfilik di tanah Papua ini.

Pada bulan maret tahun 2017 SKPKC Fransiskan Papua menerbitkan buku berjudul “Papua Diambang Kehancuran-Beragam peristiwa dan fakta hak asasi manusia di Papua 2016”. Peristiwa yang dimaksudkan adalah peristiwaa kekerasan, penangkapan, penyiksaan dan pembunuhan terhadap masyarakat sipil di Papua. Pengakuan hukum amat lemah, khusunya yang berkaian dengan kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan. Impunitas para pelaku pelanggaran HAM masih tebal sekali, lebih-lebih bila anggota aparatlah yang terlibat.

Surat gembala yang pada 29 Mei yang baru lalu dikeluarkan sebagai pernyataan pres oleh pimpinan tiga gereja di Papua, yaitu GIDI, BAPTIS dan KINGMI yang tergabung dalam “Forum Kerja Oikumenis Gereja-Gereja Papua”. Pimpinan Ketiga gereja ini menyampaikan kepada jemat bahwa-mengingat banyak peristiwa kekerasan, penangkapan, penyiksaan dan membunuh terhadap masyarakat di sipil di Papua. (Berita Keuskupan Jayapura nomor 175. 2017:27) Termasuk kejadiaan beberapa kabupaten di Tanah Papua (baik di Nduga dan Oksibil Pengunungan Bintang akhir-akhir ini). Dengan tindakan seperti ini membangkitkan atau menghidupkan trauma masa lampau pada masyarakat, dan banyak orang asli Papua yang mengalami gannguan psikologis, Melihat rentetan peristwia konflik yang tak kunjung usai ini maka sebagian besar orang Papua berpendapat bahwa tidak ada masa depan bagi bangsa papua dalam sistemnya Indonesia.

Dengan melihat, mengalami banyaknya pelangggaran HAM yang kini masih tersubur di Tanah Papua. Maka, Allah sendiri sebagai kasih tentu memiliki rencana dan misinya untuk semua manusia dan manusia Papua pada khususnya. Allah sebagai kasih bertindak hendak menyelamatkan manusia yang ia kasihi melalui orang-orang pilihannya. Berdasar pada kasih Allah inilah kita bisa bercermin pada Sang Kebadabi alm. Pastor Dr. Neles Tebay yang tergerak hatinya untuk bersuara bagi negerinya sendiri. Ia bertindak sebagai nabi, imam dan raja ditengah hiruk-pikuk konfilik di atas tanah Papua ini melalui jalan perdamaian tanpa kekerasan (without non violence).

Alm. Pater Neles menyadari dirinya sebagai Sang pembuka jalan (Kebadaby) serta mengayati panggilannya sebagi imam, nabi dan raja dan dengan keprihatinannya terhadap manusia di tanah Papua. Sebagai putra asli Papua, kondisi ini menjadi pendorong untuk membuka suara kasih, hendak menegakan hukum cinta kasih Tuhan di atas tanah Papua. Oleh karenannya dialog hadir sebagai jembatan dan jalan satu-satuhnya menuju harapan keselamatan mansia dan di sana ada kasih dan pengampunan, cinta dan damai, suka cita, keadilan antara kedua belah pihak (NKRI Harga mati dan Papua merdeka harga mati) Yang seolah-olah terlihat sudah mati. Ini artinya gagasan dari pandangan kedua belah pihak menjadi sangat berkonotasi negatif yang hendak mempertahankan kebenaran masing-masing, tanpa memikirkan yang lain dan pada akhirnya pandangan mereka mengorbankan yang lain, tanpa mempertimbangakan nilai-nilai dan harkat manusia.

Paskalis Kossay dalam bukunya “Jalan Damai Menuju Papua Sejahtera 2015 ” Penulis sebagai masyarakat Papua yang ingin menikmati suasana damai di Tanah Papua, demikian juga bagi kita semua sebagai warga Papua agar boleh beraktivitas bebas mewujudkan cita-cita hidupnya yang bahagia aman dan sejahtera. Ia merasa tidak bisa dibiarkan konfilik dan kekerasan di tanah Papua selalu tersubur dan terus berlangsung. Mesti ada upaya untuk menghakiri konfilik dan menciptakan perdamaian. Untuk itu, sudah banyak konsep dan kerangka acuan perdamaian yang diusulkan oleh berbagai pihak. Tinggal kemauan politik dari pemerintah untuk segera meresponnya. Karena tidak cukup diambil kebijakan baru unuk perdamaian secara tiba-tiba, tetapi harus diletakan pada niat tulus dengan landas kajian yang sistematis dan komprehensif dengan pola dialogis, komunikatif, dan menemukan akar masalah sesungguhnya barulah bisa menyusun strategi mengembangkan kerangka konsep perdamaian yang diinginkan bersama. Tidak bisa menciptakan perdamaian di tanah Papua, justru akan semakin mmemperburuk dan memperpanjak konfilik dan yang menjadi korban ialah OAP yang hidup di tanah leluhur mereka sendiri. Sehingga salah satu tawaran yang bisa kita gunakan untuk menciptakan papua tanah damai ialah tawaran yang di tawarkan oleh Alm. Pastor Dr. Neles Kebadaby Tebay Sebagai pembuka jalan Damai.

Pada zaman globalisasi ini, manusia sering jatuh pada sikap yang hanya berorientasi pada diri sendiri. Misalnya, kesuksesan dan keberhasilan dihayati sebagai usaha sendiri semata-mata. Ketika orang sudah terjebak pada orientasi dari belaka, maka kesenangan-kesenangan diri pun hanya dicari dari dalam diri sendiri. Ketenangan, kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan dicari dan diukur dari dalam sendiri. Maka, tidak jarang muncul sikap tidak peka terhadap penderitaan-penderitaan orang lain. Hati buta akan sentuhan kasih Allah.

Ketidakmampuan merasakan sentuhan Allah menggiring orang untuk memenjarakan diri. Orang akan berorientasi kepada diri sendiri dan tidak mempedulikan lingkungan sekitarnya. Orang tak ingin menderita karena sesama. Mungkin benar, apabila kita turun dan menanggapi permohonan mereka, kita akan lelah, sakit, menderita, dan tentu kita akan dicaci maki serta dikucilkan oleh kalangan kita, tidak menutup kemungkinan juga kita akan kehilangan nyawa kita sendiri. Konsekuensi hidup bersama dengan orang kecil adalah kita akan dipandang sebagai orang kecil juga. Orang cenderung mencari enak sendiri. Melihat tantangan-tantangan itu memang orang yang ingin mencari enak diri akan membuat tembok-tembok diri. Dengan tembok diri, kita memang sengaja tidak mau melihat keadaan orang yang menderita. Sementara orang-orang disekeliling kita kelaparan, kita tidak tergerak hati untuk melihat dan merasakan penderitaan bersama mereka, kita lebih mementingkan diri kita sendiri, singkatnya kita melihat namun seolah-olah tidak melihat.

Realita saat ini orang Papua pada umumnya sungguh-sungguh hidup dalam suasana penderitaan dan penjajahan, baik secara psikologis, politis, ekonomis, pendidikan, kesehatan, idiologis, keagamaan maupun adat-istiadat. Orang Papua saat ini sedang berada dalam suasana “antara harapan masa depan yang cerah” dan “kesusahan masa depan akan kehancuran identitas dan marabatnya” sebagai manusia. Karena itu, tumpuannya adalah bantuan belas kasih dan kemurahan hati Tuhan Yesus. Oleh sebab itu, mereka berbondong-bondong datang kepada-Nya. Banyak ibu-ibu Papua yang saat ini menangis karena anak-anak mereka terjun ke dalam dunia kehancuran. Hati ibu-ibu (para perempuan) Papua saat ini sedang dilanda “kecemasan” karena kehilangan anak-anaknya, kepunahan generasi dan jati dirinya, serta kehancuran rahim bumi (alam) Cendrawasih yang indah.

Perjuangan ini tidak menempuh atau menggunakan metode “kekerasan” atau senjata (violence method), tetapi menempuh jalan “damai dan cinta” (peace method). Kita tidak berjuang dengan membunuh hak hidup orang lain agar kita bahagia diatas darah orang lain. Kita tidak menempuh perjuangan melalui cara kekerasan seperti kelompok teroris yang berkeinginan mencapai cita-citanya dengan menggunakan kekerasan atau bom. Sebagai orang Kristiani (pengikut Kristus yang sejati) hendaknya perjuangan untuk mencapai tujuan pembebasan sejati sebagai manusia yang utuh dengan menggunakan cara-cara damai, cinta dan persaudaraan. Orang Papua menginginkan kehidupan yang penuh dengan kedamian, karena dengan demikian mereka pun dapat hidup bahagia dalam persaudaraan dengan siapa saja. Harapanya, Negara harus menghentikan tindakan kekerasan terhadap OAP yang pro “M”. Masyarakat yang berseberangan satu sama lain mengenai maslah “M”, dapat saling mengerti dan saling menghormati pandangannya. Gereja yang ada di seluruh dunia, Indonesia dan di dapat menentukan peran yang harus di pegangnya dalam menanggapi situasi Papua saat ini.

Sebenarnya, persoalan penyakit sosial merupakan persoalan yang semestinya ditanggapi secara serius, tetapi tetap elegan (sopan). Artinya. Kita sebagai umat beragama yang mencintai kedamaian dan kebahagiaan, mestinya menanggapi hal ini sesuai dengan kehendak Tuhan.

Hemat saya dengan melihat realitas ini berusaha mengajak kita semua untuk berbagi “Damai dan Bahagia” kepada siapa saja, yang membutuhkan secangkir kehangatan dari rasa cinta yang khas dengan sifat dan sikap lepas bebas. Kita juga harus kritisi terhadap realitas yang terjadi saat ini. Jangan berdiam diri seolah-lah di sekitar kita tidak ada persoalan hidup yang dialami oleh masyarakat kita, kita perlu mengambil suatu sikap bersama untuk mencapai dan membangun kedamaian dan kebahagiaan dalam kehidupan bersama.

Penulis adalah Mahasiswa STFT “fajar timur” dan Anggota Aplim Apom Research Group

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *