Oleh:Yulianus Magai

Akan sepih dan pencuci akan masuk bila kita tidak bersatu.
Pagi itu tak seindah biasanya matahari mulai terbit di ufuk timur pulau burung cendrawasih Papua, di atas gunung hamugai yang mengjulang tinggi di Mapia bomomani, matahari menebus pohon pohon, pohon daun otika yang ada di depan rumah ku sampai daun otika yang kering berhamburan di depan rumah ku para semut mencari makan di batang pohon otika matahari sampai menebus cakrawala, dirumah ku yang kemarin lalunya ramai dengan sahabat sahabat ku,


hari ini tak ada seorang pun, hanya aku seorang diri yang duduk di bawah pohon maii yang bersombar dengan beberapa potongan papa kayu bibihe aku duduk di atas Sombar itu, waktu pun terus berjalan matahari pun ikut naik di atas gunung, situasi juga mulai ikut dalam kesunyian.


Di rumah semakin sepih di sekitar itu yang aku dengan suara jangkrik dan beberapa ayam yang berbondong-bondong mencari makan di halaman rumah, dan para semut merah berbondong bondong dan berkejaran di batang pohon otika
Di atas gunung weilansd burung katu terlihat sekali awan satu pun tak kelihatan di lembah gunung wenlands terjun aihai maga pigihai maha sedang berpancurang macam ombak yang berombak di bibir pantai Nabire, Musim kemarau itu matahari membakar kulit, saat itu musim kemarau hari pertama suasana seperti ini aku tahu bahwa sahabat sahabat ku yang pergi liburan di dusun pasti bermain dengan kali TEUW, bersama bocah-bocah kriting si sana i
Ingatanku muncul di depan ku waktu bersama sahabat sahabat ku di dusun, aku pun memutuskan kan untuk kesana, setelah aku siapkan semua barang ku aku mulai berjalan kaki tanpa mengunakan sandal.


Sesampainya depan kios Mapia bomomani di pasar tak seperti biasanya beberapa mama mama sedang berjualan di depan kios mereka duduk di atas tanah dan jualan mereka di letakan di atas Karun Beras Bulog bekas yang terbelah tengah, aku membayangkan ini pemerintah daerah pernah lihat atau tidak, ibarat kan tak punya pemerintah pikirku.


Aku pun mulai melanjutkan perjalanan menuju ke tempat dimana tujuan ku pergi, aku berjalan beberapa langkah kaki ke depan Kaka ku muncul di depan ku ia adalah anak dari kakanya ayahku, seorang gembala yang tugas di kagode ia adalah anak pertama, dari bapak tua ku
aku mulai menanyakan kepada nya Hey obat dari mana kamu tanyaku sambil tersenyum, “saya ada cek kamu di rumah katanya Damianus iyai di rumah kamu sendiri tetapi kamu tak ada dirumah kebetulan saya ketemu kamu disini, oh ia Di kali sana teman teman SMP mu dan bocah bocah Kriting semua pada ke kali TEUW merek ada bermain dengan kali teuw di sana tadi kataku kepada mereka di sana saya mau pergi jemput kamu katanya di rumah kamu sendiri jadi saya terpaksa naik jemput kamu”kata saya obat magai, aku menjawab nya oh ia terima kasih banyak kk ku oh ia kita lanjutkan perjalan sudah kata ku, ia mari naik, ujar kk ku
Beberapa kilometer ke depan sesampainya di ujung aspal, beberapa truk milik penguasa keluar masuk, truk itu membawa aspal buatan alam mapiha aspalnya berwarna hitam trum yang berwarna putih sedang keluar dari tempat itu entah kemana bawah pergi tidak tahu.


di sekitar tempat perusahaan itu ada beberapa tumpukan batu krikil yang bertampun di pinggiran jalan, di bibir kali mapia, di PT itu tampungan batu krikil itu di pandang macam bukit-bukit kecil yang terletak sendiri nya di sebuah daerah. tidak cuman itu jalan raya pun di tengah tengah tumpukan bukit batu krikil milik penguasa, penguasa benar benar menguasai Papua.


Kami pun mulai melanjutkan perjalanan menuju ke tempat dimana tujuan kami, di pertigaan abaimaida Mapia barat piyaiye beberapa kampung kesana dan bomomani, moanemani dan beberapa kabupaten kesana dan Mapia tengah magode diyoudimi di pertigaan itu ibunda ku lewat dengan beberapa noken kacang tanah di samping nya, lewat mengunakan mobil yang sedang mencari penumpang di daerah itu,


sesampainya di sana beberapa teman teman ku dan bocah bocah kriting habis mandi berbondong bondong berkumpul di jalan masuk magode, sampai nya di depan mereka aku berkata kepada mereka, hey Kamu habis mandi kah ayo kita kembali mandi kah rasa ku ingin mandi ini, teman teman ku mengertawakan ku, kata dari armarhum Damianus iyai ini sudah jam 4 lewat jadi kita lebih baik pulang besok baru kita turun mandi lagi dengan bocah bocah kecil di dusun” aku cuman senyum saja jawaban dari sahabat ku, kami pun naik ke dusun dari kali teuw saya pun ikut naik dan rasa kesunyian ku pun hilang dari ku, di dalam perjalanan kami pun ketemu beberapa mama mama yang pulang dari kebun menuju ke rumah berbagai makanan yang mereka bahwa di atas bahu mereka, diatasnya ada bocah kriting yang mama mama gendong,


di jalan itu juga di buatkan semen dan sebelumnya saya pernah jalan tetapi tidak pernah setelah jalan itu sudah di semen tetapi kali itu saya sendiri menyaksikan bahwa jalan masuk ke dusun sudah di semen kata dari sahabat ku almarhum Damianus iyai ” beberapa kilometer ke depan sudah di semen rumput liar yang dulunya Pele jalan di atas PU sekarang sudah bersih dan di semen,” mendengar kata-kata dari temanku aku pun senang’ dan bahagia untuk melihat nya. Setelah beberapa hari di dusun saja kali pun kembali’ ke tempat di mana kami menempuh pendidikan.

Penulis adalah Siswa di SMA Negeri 3 Jayapura.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *