Nabire, Suara Mee- Kegiatan peribadatan di Kabupaten Nabire telah dilonggarkan atas kesepakatan bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Badan Kerja Sama Antar Agama (BKSAG), Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta seluruh pimpinan agama di Kabupaten Nabire.

Kebijakan itu diambil melalui rapat evaluasi bersama Forkopimda pada Jumat, 29 April 2020 dan rapat evaluasi bersama para pimpinan agama yang digelar pada Sabtu, 30 Mei 2020 di ruang rapat sekretariat daerah Kabupaten Nabire..

Sekretaris Daerah Kabupaten Nabire, Daniel Maipon, S. STP didampingi Ketua Harian Gugus Tugas, Victor Fun, S.STP., M.Si dan Juru Bicara Gugus Tugas, dokter Frans Sayori usai rapat bersama Pimpinan agama menjelaskan, “Ini adalah kelonggaran peribadatan yang pokok di setiap agama. Misalnya, hari Minggu bagi umat Kristen, Jumatan bagi umat muslim, hari Sabath bagi umat Adven dan agama lain disesuaikan dengan peribadatan pokok di setiap agama. Bisa mulai disiapkan masing-masing agama mulai hari ini (30 Mei). Tetapi pelaksanaanya disesuaikan dengan edaran Bupati pada hari Selasa 2 Juni 2020. Kelonggaran ibadah ini tetap dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19.”

“Dalam melaksanakan ibadah, setiap agama wajib patuhi protokol kesehatan. Masing-masing pimpinan agama mengatur jumlah umat saat ibadah. Artinya, gereja yang jemaatnya banyak, ibadah bisa dilakukan dua kali atau tiga kali agar tetap menjaga jarak, minimal 1 meter, disesuaikan dengan jumlah umat atau jemaat. Kemudian, dalam melaksanakan ibadah, tidak boleh berjabat tangan, setiap rumah ibadah menyediakan tempat cuci tangan di pintu masuk, satu deret kursi hanya satu keluarga, serta setelah tempat ibadah digunakan disterilkan kembali sebelum digunakan lagi,” kata Sekda.

Jadi, kata Sekda, “Ini bukan kebijakan “new normal” atau kehidupan normal baru sebagaimana sedang diwacanakan. Ini hanya khusus beribadah, kita masih tetap pada status siaga darurat. Aspek kehidupan sosial yang lain serta akses transportasi udara, darat dan laut masih tetap berlaku Edaran Bupati yang lama sampai nanti ada Edaran baru dari pemerintah daerah.”

Dijelaskan Sekda, kebijakan kelonggaran beribadah ini didasarkan atas sejumlah pertimbangan.

Pertama, berdasarkan evaluasi Forkopimda dan Pimpinan agama dengan memperhatikan perkembangan kasus Covid-19 di Kabupaten Nabire. Secara kumulatif memang ada 19 kasus tetapi jumlah kesembuhan hingga saat ini sudah 9 orang dan sisa 10 orang ini pun 5 orang negatif pada swab pertama dan tunggu swab ketua. Kemudian, yang masih positif ada 5 orang dan mereka ini masih satu klaster, yaitu klaster Goa. Mereka telah diisolasi dan sedang ditangani dengan baik oleh tim medis. Saat ini, di Nabire, belum terjadi penularan lokal. Ini karena pertolongan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Kerja Keras dari seluruh Tim Gugus serta dukungan dari masyarakat Kabupaten Nabire dalam bentuk kepatuhan pada edaran dan himbauan pemerintah daerah.

Kedua, memperhatikan masukan dari para pimpinan agama dan umat yang merindukan kelonggaran beribadah. Kurang lebih 2 bulan masyarakat tidak beribadah dan ada rasa rindu. Itu menunjukkan bahwa masyarakat Nabire adalah masyarakat religius yang mesti didengar kerinduannya dan pasti akan mematuhi edaran dan himbauan pemerintah daerah.

Ketiga, sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang Mahakuasa atas perlindungannya. Kita ingin menaikan rasa syukur secara bersama-sama di tempat ibadah masing-masing bersama umat sekaligus memohon pertolongan Tuhan dalam menghadapi Pandemi Covid19 ini.

Ditegaskan Sekda, masyarakat tetap harus mematuhi edaran dan himbauan pemerintah, tetap harus jaga jarak, pakai masker, dan cuci tangan, jika tidak penting jangan keluar rumah.

“Covid -19 ini bisa kita cegah dengan ketaatan warga pada edaran pemerintah, keseriusan pemerintah, dan doa dari seluruh warga,” kata Sekda optimis.

Para rapat evaluasi, para pimpinan gereja juga menaikan syukur kepada Tuhan dan memberikan apresiasi kepada pemerintah daerah Kabupaten Nabire yang telah bekerja keras menekan penyebaran Covid-19.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama, Pendeta Yunus Mbaubedari, S.Th mengatakan, “Puji Tuhan, Tuhan sayangi kita semua. Saya sebagai pimpinan FKUB dan seluruh pimpinan gereja memberikan apresiasi atas kerja keras pemerintah daerah untuk memutus mata rantai covid-19 sehingga menurun. Ini prestasi yang baik. Para gugus tugas dan tim medis luar biasa. Kami terus mendukung dengan doa. Kita harapkan agar Kabupaten Nabire segera bebas dari Covid -19.

Senada dengan Ketua FKUB disampaikan juga oleh Ketua BKSAG, MUI dan dan pimpinan agama.

“Kami sampaikan apresiasi kepada Pemda. Kami tetap mendukung dan mendoakan Pemda dan gugus tugas,” kata wakil dari BKSAG.

Pendeta Alfi dari Pentakosta mengatakan, kelonggaran ini terjadi karena ada kerja keras dari Pemda untuk menekan penyebaran Covid-19 sehingga bisa menjawab kerinduan jemaat.

Pendeta Bernadus Miagoni dari GKI juga menyampaikan hal senada. “Kami dukung dan luar biasa kerja Pemda di Nabire. Luar biasa, kami berikan apresiasi atas kerja selama ini. Kami sekarang bisa beribadah tetapi kami harus patuh pada protokol kesehatan yang tadi disampaikan.”

Ketua MUI dan Ketua Dewan Masjid Kabupaten juga menyampaikan hal yang sama dengan pimpinan agama lain.

“Kami sampaikan apresiaai kepada Pemda Nabire. Umat muslim sudah mulai karena MUI sudah tidak tahan lagi menahan arus desakan dari umat. Kami akan laksanakan dengan taat pada protokol pencegahan covid-19. Kami ambil keputusan karena desaknya tinggi. Fokus kami, sholat 5 waktu tidak masalah tetapi kami akan atur soal sholat Jumat dan hari besar. Kami akan taat kepada pemerintah,” kata wakil dari MUI Kabupaten Nabire.

“Pemimpin masjid desak agar izinkan karena menurut mereka masjid adalah tempat yang paling bersih karena ada air wuduh. Kami dari masjid ingin agar ibadah bisa jalan. Tetapi ikuti aturan dan terima kasih karena telah mendengar keluhan. Yang utama adalah disiplin. Kita terima kasih karena Nabire sudah menurun,” kata Ketua Dewan Masjid Kabupaten Nabire.

Perwakilan dari Hindu dan Budha menuturkan hal yang sama dan mengatakan akan tetap ikuti himbauan dan ikuti edaran yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah.

Mewakili Gereja Katolik, Sekretaris 1 Dewan Paroki Gereja Kristus Raja, Yohanes Reyaan mengatakan, “Kami sampaikan apresiasi kepada Pemda karena kami terus ikuti laporannya. Luar biasa. Himbauan dan edaran dari gereja dikeluarkan dengan mengacu pada Edaran Pemda dan Edaran Administrator Keuskupan Timika.”

Reporter: Andy Yeimo

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *