Oleh : Paskalis Magai (Pekerja Social)

“Mobilitas manusia ke kabupaten Nabire cukup tinggi membuat pergolakan sosial kian Terasa”

Kehadiran Anak adalah sebuah anugrah yang terindah dari Tuhan dan patut di syukuri oleh orangtua dengan menjaga dan memberikan nafkah. Namun seberapa jauh
peran dan tanggung jawab keluarga terutama orang tua yang dapat diberikan kepada anaknya?

Kondisi anak menjadi isu yang sensitif dan bila tidak ada perhatian serius dari keluarga dan pemerintah maka kemungkinan akan terjadi generasi yang terhilang (lost generation). Mereka akan menjadi generasi tidak produktif dan menjadi objek dalam mengisi pembangunan.

Beragam Kondisi masalah anak di kabupaten Nabire perlu mendapatkan perhatian yang serius. Pasalnya anak-anak ini yang seharusnya hidup di dalam rumah dan dinafkahi oleh orangtua, namun kini menjadi problem karena sebagian dari mereka mengalami ketidak beruntungan, salah pergaulan sehingga harus tinggal terkatung-katung di jalan-jalan, perempatan ruko, di los-los pasar hingga tinggal di taman-taman kota di kabupaten Nabire.

Kebiasaan menghirup cairan adictif dari lem fox/Aibon dan mabuk-mabukan membuat kondisi tubuh mereka kian terpuruk, sakit-sakitan, hingga tubuh fisik mereka menjadi kerdil dan kurus. Apalagi terutama anak-anak perempuan sangat rentang mengalami kekerasan seksual, kondisi ini menjadikan mereka korban atas tindakan pelaku dari sesama teman-teman atau orang lain yang memanfaatkan kondisi yang mereka alami.

Perlindungan terhadap anak jalanan atau anak terlantar sangat minim. Hal ini terlihat dari pengalaman anak –anak yang berada di jalanan hampir semua bentuk kekerasan dan pelecehan pernah mereka alami, dari pemukulan, pemerasan, penodongan, penggarukan,
ancaman, sampai perkosaan atau pelecehan seksual, atau juga korban narkoba. Sedangkan bentuk lain yang juga sangat rawan dan memprihatinkan bagi perkembangan jiwa si anak adalah adanya perlakuan perkosaan dan
pelecehan seksual yang hampir pernah dialami oleh sebagian besar anak jalanan ini.

Nabire Sebagai kabupaten tempat suplay barang ke beberapa kabupaten di pegunungan tengah papua bagian barat, menjadikannya kota yang ramai untuk di kunjungi. Hal ini terbukti mobilitas manusia dari kabupaten intan jaya, Puncak Papua, Panian, Deyai, dan dogiyai cukup tinggi ke Kabupaten Nabire sehingga warga dari pedalaman memberikan dampak yang signifikan bagi pertumbuhan di nabire. kini warga lokal dari pedalaman di perhadapkan dengan masalah sosial membuat mereka berputar dalam lingkarang kemiskinan yang baru.

Pengaruh sosial yang signifikan membuat orangtua mereka ikut-ikutan main togel, main judi, berbanding dengan tidak ada lapangan kerja karena keterbatasan pengetahuan ( life skill), hal ini membuat Kebiasaan berkebun di tinggalkan, kebiasaan berternak menjadi jarang karena persaingan warga cukup tinggi.

Hal ini berdampak kepada kehidupan keluarga mereka terutama soal pengasuhan anak di dalam keluarga dimana anak -anak tidak diurus dengan baik, mereka meninggalkan sekolah, meninggalkan pembinahan Di gereja dan terjebak dalam pergaulan sosial yang buruk.

Di lain sisi ada pelayanan yang telah diberikan dari yayasan, seperti Penggiat sosial dan pelayan Tuhan, Bapak Amos Yeninar, yang mana telah memberikan perhatian dengan pelayanan diakonia bagi anak-anak kurang beruntung, Kini pelayanan anak pada yayasan siloham Papua milik pak Amos dalam panti berjumlah dua anak dan luar panti berjumlah 25 snap.

Kita berharap dari berbagai stakeholder perlu dukung dengan membangun kepekaan social antar sesama wilayah adat, sistem layanan yang memadahi, kebijakan afirmatif yang menyentuh, hingga regulasi yang mengikat sehingga pelayanan itu benar-benar tersentuh, dirasakan dan berjalan sesuai yang diharapkan.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *