Oleh: Jhon NR. Gobai

Aksi rasisme yang ditantang orang Papua pada bulan Agustus 2019, aspirasi murni masyarakat papua diduga dirusak oleh orang dan kelompok tertentu diduga secara terorganisir atau juga dilakukan secara spontan.

Diduga orang atau kelompok ini telah memprovokasi masyarakat, sehingga saat itu terpolarisasi, padahal selama ini tidak ada seperti itu atau juga dilakukan secara spontan.

Orang atau kelompok ini diduga memprovokasi Masyarakat Papua dan masyarakat non Papua, demikian kalimat kalimat yang provokatif,yang mengadu domba, membuat beberapa masyarakat menjadi korban termasuk perkantoran dan tempat usaha.

Pemimpin Pemimpin aksi yang saat aksi berusaha menenangkan masa dan mengendalikan masa kemudian ditetapkan sebagai tersangka, padahal merka bukan pelaku pengrusakan atau pembakaran,atau diduga juga bukan mreka yang menyuruh melakukan pembakaran, sehingga bisa disebut merupakan tanggung jawab komando, ini yang saya sebut, sudah jatuh. Ini termasuk juga disebut MONYET.

Dalam pemeriksaan dan proses hukum kemudian ada yang dituntut dengan 7 tahun penjara ada juga yang 4 tahun penjara, belum tahu yang lain akan dituntut berapa tahun lagi, ini yang saya maksudkan tertimpa tangga.

Pertanyaannya adalah orang atau kelompok yang diduga melakukan provokasi atau diduga memfasilitasi dan juga melakukan kekerasan apakah sdh diamankan?

Menurut saya sesuai KUHAP, Ini masih tuntutan semoga pengacara kita dapat membuktikan bahwa benar mreka yang ditahan, bukan membakar atau merusak fasilitas umum dan pribadi warga kota Jayapura, sambil aparat juga mesti menjelaskan hasil temuan mreka tentang sesungguhnya siapa yang bermain dan mendorong orang atau kelompok yang saya sebut diatas

Semoga kita tidak jatuh, tertimpa tangga kemudian diinjak lagi dengan putusan yang terlalu memberatkan yang tentunya tidak adil jika dibandingkan dengan putusan terhadap pelaku tindakan RASISME.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *