Oleh : Fransiskus yobee

Hak Asasi Manusia (HAM) menurut komisi HAM PBB Jan Materson adalah :hak hak yang melekat pada setiap diri manusia,yang tanpa hak hak tersebut manusia tidak mungkin dapat hidup sebagai manusia.
Jakarta memberikan otonomi khusus kepada papua adalah suatu pengambilan kebijakan akhir oleh NKRI untuk upaya peredaman dan upaya pembalasan NKRI atas tuntutan rakyat west papua lepas dari NKRI,Pada tahun 2001
Namun pelanggaran HAM bertingkat biasanya di west papua sangat statist,maka dapat di katakana bahwa pelangaran HAM sering bekembang dan memberikan pengaruh khusus. Kekhususan akan pengaruh pelanggaran HAM tersebut,berjalan beriringan pula dengan kebijakan kekhususan otsus bagi papua. Artinya,selama masa otsus tersebut berjalan di Papua kurang lebih 20 tahun pelanggaran HAM harus di minimalisir.namun faktanya terjadi di luar harapan baik kita orang papua.

Dalam konteks ini Otsus di berlakukan di Papua untuk untuk memajukan ketertinggalan,mensejaterakan masyarakat Papua, namun nyatanya terbalik,kehadiran Otsus di Papua sangat merusak keharmonisan hidup orang Papua,sebab setelah Otsus berlaku di Papua banyak pelangaran HAM di Papua yang terus menerus terjadi,kekayaan Alam Papua terus di ekploitasi.

Penjajah sismatik dan terstruktur di berlakukan di Papua,sebab banyak hal aneh di lakukan indonesi untuk memusnahkan orang Papua di atas tanahnya sendirinya

Disini saya akan menuliskan beberapa pelanggaran HAM yang saya ketahui sebbagai berikut:

  1. Paniai Berdarah
    pada tanggal 8 desember 2014 lalu,telah mengarahkan ujung senjata kepada masyarakat paniai;akhirnya hasil bidikan tersebut terjadi kena sasaran kepada ada 4 (siswa) mengalami korban. Yakni,Alpius youw,Alpius gobai,Simon degei,Yulian yeimo.kasus ini pimpinan gereja dan korban kasus penembakan siswa masih menunggu kapan pemerintah indonesia akan mengadili para pelaku.
  2. Dogiyai

a .Tepat pada tanggal 6 april 2018,pukul 18:00 terjadi penembakan di depan kali mauwa persisnya (kampong mauwa) kab dogiyai. Hasil rentetan tersebut mengenai pada Geri goo, dan Rudi auwa. Geri goo meninggal dunia setelah di opname dan di rawat di rumah sakit,namun peluru yang mengenainya membenam pada tubuhnya pun tidak mampu di keluarakan oleh pihak medis. Ia meninggal dunia dalam kondisi peluru masih terbenam dalam tubuhnya Geri.tetapi Rudi auwe masih hidup hanya kena luka besar akibat hasil rentetan.

b. Di kabupaten dogiyai 20/01/2017,beberapa oknum polisi mekakukan penyiksaan dan penganiayaan terhadap Ferdinan T, Deserius goo, Alex pigai,dan Oktovianus goo, dengan menggunakan potongan kayu balok berukuran 5×5 cm dan pangkal senjata di markas kepolisian sector (mapolsek) Moanemani.

  1. Deiyai
    penenmbakan oleh aparat gabungan terhadap puluhan warga sipil di kampong oneibo, distrik tigi, kabupaten deiyai,papua, selasa (2/08/2017) sore,terindikasi kuat sebagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang berat. “peristiwa dugaan penembakan terhadap 17 warga sipil, dimana satu diantaranya tewas atas nama yulius pigai di kampong oneibo,distrik tigi,kabupaten deiyai papua,

Maka kehadiran otonomi khusus di tanah papua adalah: jerat terselubung yang di pasang oleh Jakarta untuk memusnahkan orang papua yang menghuni di atas tanah papua.
oleh sebab itu, atas nama tulang belulang, atas nam alam papua , dan atas nama kaum yang tak bersuara, dengan tegas kami menolak, rancangan undang undang lanjutan otonomi khusus bagi papua yang sedang di rancang oleh para pengemis Jakarta dan Jakarta. Sebab selama mindset “kekhususan” itu terus menghantui kita maka yakinlah “kemerdekaan” itu tak akan berkunjung datang.

Penulis : Adalah Mahasiswa di Universitas Cendrawasih

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *