Oleh : Elka Mimin*

Makanan merupakan salah satu kebutuhan manusia yang bersifat utama atau primer. Manusia tidak bisa hidup tanpa makan sehingga makanan berperan utama dan penting dalam proses kehidupan manusia. Abraham Maslow dalam teorinya mengenai tingkatan kebutuhan manusia mengatakan bahwa makanan adalah kebutuhan fisiologi (fisik) yang harus dipenuhi terlebih dahulu kemudian kebutuhan lainnya dapat dipenuhi. Manusia mengkonsumsi makanan untuk keberlangsungan hidupnya.

Makanan pada setiap bangsa berbeda dan memiliki ciri khasnya tersendiri sehinga sering disebut sebagai makanan pokok lokal. Makanan pokok lokal adalah makanan khas yang berada pada setiap daerah (budaya) yang diyakini sebagai pemberian Sang Maha Pencipta sehingga keberadaannya selalu dijaga, dilestarikan dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi tua kepada generasi muda. Artinya makanan pokok lokal memiliki relevansi yang kuat dengan budaya dan adat istiadat suatu bangsa.

Makanan pokok lokal tidak hanya sebagai bahan energi dalam memenuhi kebutuhan tetapi makanan berkaitan erat dengan budaya. Menurut Amalia (2016) dalam Amalia dan Marta (2018) mendefinisikan bahwa “Food has an important role in cultured life. Food is not only as a means of fulfilling energy needs but food also has economic value as well as cultural value (Makanan memiliki peran penting dalam kehidupan berbudaya.

Makanan tidak hanya sebagai sarana pemenuhan kebutuhan energi tetapi makanan memiliki nilai ekonomi serta nilai budaya). Artinya makanan pokok lokal memiliki multi value (banyak nilai) yakni nilai ekonomi dan nilai budaya. Sehingga keberadaan makanan pokok lokal patut untuk dipertahankan eksistensinya di era modern ini.

Hadirnya era modernisasi yang merembes ke tatanan budaya selalu terjadi akulturasi kebudayaan antara budaya asing dan budaya lokal yang saling berbenturan. Masyarakat Papua saat ini memasuki era modernisasi. Karena itu mental dan sikap masyarakat Papua diarahkan untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan masa kini. Hantaman budaya asing sangat berdampak pada terkikisnya budaya masyarakat Papua dalam segala unsur seperti bahasa daerah, kesenian lokal dan nilai-nilai budaya serta makanan pokok lokal. Masyarakat di Papua memiliki makanan lokal yang dijadikan sebagai makanan pokok dan diwariskan secara turun temurun seperti ubi talas (keladi), ubi kayu (singkong), ubi rambat (ubi jalar) dan sagu. Makanan pokok lokal Papua yang dikonsumsi sebagai makanan pokok sehari-hari sedang terancam oleh hadirnya makanan asing seperti beras.

Masyarakat Papua sudah hidup tergantung pada beras yang notabenenya adalah makanan pokok lokal masyarakat dari wilayah lain, seperti Jawa. Masyarakat Papua menjual hasil bumi seperti ubi jalar adalah hanya untuk membeli beras. Seluruh ubinya dijual untuk menggantikan beras. Artinya beras digantikan dengan ubi karena beras sudah menjadi makanan sehari-hari. Ketergantugan akan beras juga dipengaruhi oleh harga beras dipasaran. Harga beras perkilogram dijual lebih murah daripada satu (1) tumpuk umbi-umbian. Misalnya, satu (1) kilogram beras berkisar antara 10.000-15.000, sedangkan satu (1) tumpuk umbi-umbian diberi harga 20.000. Perbedan harga ini turut mempengaruhi daya beli beras lebih tinggi dari pada umbi-umbian. Sehingga makanan pokok masyarakat Papua (ubi kayu, ubi talas dan ubi jalar serta sagu) hanya sebatas kata saja karena faktanya tidak diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain penjelasan di atas, ciri-ciri lainnya yang menunjukkan bahwa makanan pokok lokal sudah terkikis eksistensinya adalah sebagai berikut: Pertama, Masyarakat Papua lebih memilih mengkonsumsi beras dibanding umbi-umbian dan menjadikan beras sebagai makanan utama. Beras menjadi makanan pokok dan umbi-umbian sebagai makanan pendamping. Nasi sebagai hidangan utama dalam makan besar (siang dan malam) sedangkan umbi-umbian dijadikan sebagai snack yang diolah sedemikian rupa untuk makan kecil teman minum teh seperti pada pagi atau sore hari.

Kedua, Gaya hidup yang semakin trend membuat masyarakat Papua kalangan menengah ke atas mengkonsumsi makanan luar lebih tinggi dibanding makanan lokal. Gaya hidup demikian meningkatkan usaha fast food (makanan cepat saji) membumi dimana-mana karena tingkat permintaan yang semakin meningkat. Pola konsumsi masyarakat juga beralih pada makanan-makanan cepat saji yang bisa didapatkan di restoran. Pizza, spaghetti, hamburger, fried chicken dianggap lebih menarik daripada makanan lokal (Mubah. 2011).

Ketiga, munculnya pola pandang baru bahwa makanan lokal adalah makanan kampung yang kadang diartikan bukan zamannya lagi. Sedangkan makanan fast food adalah makanan modern sehingga layak dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari. Selain itu terkadang pandangan bahwa fast food adalah makanan high class (kelas tinggi) sedangkan makanan lokal yang diolah secara sederhana dianggap tidak berkelas. Pola pikir demikian menjamur kuat pada kalangan anak-anak, remaja bahkan dewasa sehingga turut mempengaruhi daya jual beli pasar yang berdampak buruk pada eksistensi makanan pokok lokal.
Keempat, peran media juga turun memberikan dampak besar secara mental dan sikap pada masyarakat Papua. Banyaknya tayangan iklan makanan di media (masa dan elektronik) secara tidak langsung menggiur masyarakat untuk mencoba makanan-makanan yang ditampilkan. Hampir semua iklan yang ditayangkan atau dipromosikan adalah makanan asing bahkan lebih dominan adalah makanan barat. Promosi makan lewat media sesungguhnya mematikan mentalitas masyarakat untuk mengkonsumsi makanan lokal.

Berdasarkan perubahan yang begitu cepat dan disertai dengan beragam problematika yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, maka berikut adalah beberapa rekomendasi yang perlu diperhatikan untuk meyelamatkan makanan pokok lokal:

(a) Penting bagi setiap perempuan yang sedang hamil untuk mengkonsumsi makanan lokal secara rutin setiap hari. Agar pola konsumsi makan tersebut dapat terbentuk anak sejak dalam kandungan sehingga ketika anak lahir, anak dapat menerima dan mengkonsumsi makanan lokal sebagai makanan sehari-harinya.

(b) Pemerintah, dalam hal ini dinas pendidikan dan kebudayaan perlu membuat program dengan ketentuan jangka waktunya mengenai makanan pokok lokal pada semua tingkat pendidikan, yaitu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dengan begitu setiap sekolah dapat memasukkannya dalam daftar program dan merealisasikannnya pada proses pembelajaran.

(c) Pemerintah perlu menyelenggarakan lomba festival kuliner makanan pokok lokal setiap tahun yang diikuti oleh seluruh kalangan masyarakat. Momen seperti ini membantu menghidupkan kembali makanan poko lokal masyarakat.

(d) Pemerintah perlu membuat program jangka panjang dengan memberdayakan kampung sesuai kemampuan sumber daya alamnya. Misalnya, kampung penghasil keladi terbaik, kampung penghasil singkong terbaik dan kampung penghasil ubi terbaik serta kampung penghasil sagu terbaik perlu di dorong. Semua kampung terbaik diatur dan didorong sistem produksin, distribusi hingga pemasarannya termasuk memperhatikan harganya.

(e) Pemerintah perlu membuat peraturan daerah yang mengatur tentang perlindungan terhadap keberadaan hutan dan lahan perkebunan penghasil bahan makanan lokal (umbi-umbian dan sagu).
Upaya-upaya di atas penting untuk dilakukan agar makanan pokok lokal masyarakat Papua sebagai identitas budaya dapat diselamatkan dan tetap eksis di era modernisasi ini. Kalau tidak maka konsekuensinya akan ditanggung oleh masyarakat.

Referensi:
Amalia R. M dan Marta. D.C.V. 2018. Jurnal Online. Preserving Traditional Food from West Java: An Effort to Maintain National and Regional Food Security. https://www.arcjournals.org/pdfs/ijsell/v6-i9/1.pdf. Diakses 01 Juni 2020.
Mubah, S. 2011. Jurnal Online. Strategi_Meningkatkan Daya Tahan Budaya Lokal Dalam Menghadapi_Arus_Globalisasi. https://www.academia.edu/29537491/. Diakses 01 Juni 2020.
Surjadi, C. 2013. Jurnal Online. Globalisasi dan Pola Makan Mahasiswa-Studi Kasus di Jakarta. https://www.academia.edu/34980151/. Diakses 01 Juni 2020

*Penulis Adalah Anggota Aplim Apom Research Group (AARG)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *