Oleh Stefen Boma

Awal aku mengenal dirimu di balik senja. Ketika senja terbenam tinggalkan kenangan dan jadikan sebuah cerita. Sang rembulan menghiasi menggetarkan jiwa akan kesetianmu.

Aku bergegas menelusuri menemui diri di balik senja. Namun, kau yang aku kagumi di balik senja hingga terbenam bersama suram malam. Kau adalah juita idaman yang pernah aku kenal walau tak pasti sekalipun. Aku bertemu dan terbayang melalui mimpiku.

Cinta itu tidak membutuh dalih. Jika membutuhkan dalih, ketika alasan itu hilang, Cinta akan hilang bersamanya. Seseorang yang kita cintai itu menghilang, apakah kita juga harus menghilang bersamanya?

Dunia seakan terbalik sekejap demi memikirkan cintanya. Cinta yang baru bersemi akan bertumbuh subur, namun cinta yang sudah radikal akan berakar dan bercabang.

Air mata berlinang ketika matahari terbenam. Sebab, aku ingin kau terulang kembali untuk mengulas imajinasi dan menceritakan tentang kisah kita bersama pena hitam.

Tiada seindah kata selain kau adalah sebuah cahaya mengiluminasi bumi untuk menyinari entah jiwa meruntuhkan harapan. Walaupun dunia goncang aku tak akan pernah runtuh dan lupakan akan mencintaimu.

Akankah, kau menggetarkan jiwa di sela kerinduan ini! . Akankah, kau menerima aku ketika aku ingin memilikimu!. Jika demikian maka, aku akan lebih menyayangimu dengan sekuat tenagaku.

Keindahan senyummu, aku merasakan kenikmatan aromanya. Walaupun segelintir senyum kau menggoreskan hati dan mematahkan tulang. Jiwa yang lemah akan mengsegarkan senyum yang manis darimu.

Beri aku ruang untuk mencintaimu. Beri aku harapan untuk memilikimu. Beri aku tenaga untuk memeluk erat, sebab cinta membutuhkan kasih sayang dan pengorbanan.

Sungguh aku tak mampu melihat raukmu.
Pedihnya hati mengingat waktu bersamamu.
Kau bagai sebuah arjuna mematahkan tulang.
Kau bagai matahari yang membarah hingga mengalir keringat mengupas kulit.

Entah, Nestapa menginspirasi dalam jiwa. Melepaskan rindu, melekat hati. Lupakan masa lalu, jalani masa kini, untuk menentukan masa depan kita yang terbaik.

Harapan terus tersimpan dalam sangkar cinta. Terpupuk dan tersimpan akan perasaan hati, justru tak harus meleset cita rasa. Hiruk pikuk mesti terpelihara hingga tuliskan imajinatif dalam kalbuku.

Waktu tak menyakiti hati. Kesempatan selalu ada, kepekahan melihat wajah pelangi awan pun cera.

Rasa berat hati pikul bersama dan ringan di jinjing bersama. Walau mendominasi akan ada dalam setiap ruang dan waktu, kau akan menjadi yang terbaik bagiku.

Penulis adalah mahasiswa Papua yang menempuh pendidikan di Jayapura.

Jayapura, 08 Juni 2020 Bunani Manaa

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *