Oleh : Lambertus Magai

Rindu menggebu di hati . Semalam bermimpi tentang Ibunya yang jauh dari tanah rantau kota holandia, suasana hatinya menjadi sedih, dadanya pun terasa sesak bernafas. Ibunya ayah ade tinggal di kampung sedangkan lamekh,ricky, dan dua laninya, di kota untuk mencari ilmuh, demi masa depan, yang jauh dari orang tua.

Tiada hari tanpa bekerja, asrama kasih hagar jadi istanah meski hari libur atau, mewabah covid 19. Semua hari baginya sama, dua belas jam dalam sehari hanya habiskan waktu untuk dirumah.


Kadang,dalam hatinya memberontak namun apalah daya orang kecil hanya bisa bermimpi. Sesuatu yang paling murah dan gratis hanyalah sebuah mimpi, yang entah kapan bisa terwujud.
Malam yang dinging, lamekh asik main leptop? Jhon main Gem hanya bunyi tik tok yang terdengar ditelingaku, fredy mulai UTS dengan mengerjakan. Malam yang berseliweran itu yang tik tok yang jadi penguasa.


fredy mendesah, membelalakan kedua bola matanya ketika mentari pagi terbit secerah lampu kamar yang lupa dia matikan. Minai siap menyelinap, stel pakaian, sehari yang lalu, membagikan selembar kertas bertuliskan, selamat sukses wisudawan/ti RPM SIMAPITOWA.

Ting………ting…………..?.

Pagi mentari yang bersinar, terik matahari mulai memanas, yance meneloponnya kepada lamekh, lamekh menjawab…? Hallo kwan bagimana .. yance menjawab dengan suara yang keras , fostur tubunya ideal ,fisik yang kuat,beberapa bulan lalu tembus tentarra, dia juga perna bermain liga, tiga PERSINTAN Intan Jaya bersama kawan-kawanya,suruh,bilang fredi jemput Asnap.

Lamekh menjawab oke kwan disampaikan. Seusai meneleponnya.
Lamekh membagunkan lelaki yang masih tidur tergeletak diempat tidur, kamarnya Albino, lelaki itu rupanya, malam menemani dengan tugas, sehingga , tidur rupanya masih belum puas. Lelaki asal menou ini bertanya lamekh. Bagimana kwan, lamekh menjawab maaf kwan seusai ini yance menelepon ada titipan kata-kata dari yance sampaikan jemput saya di asnab. Fredi mulai bangun dan mengimpan.


Handphone milik lamekh mulai bunyi agak terasa getar, ada sebuah pesan singkat, dari adik berta yang baru lulus Sekolah Menengah Pertama sejak seminggu lalu tepat pada tanggal 5 juni 2020. Dengan suara yang halus , berta bertanya…………kaka antar saya ke polimak kha…?

Lamekh menjawab……baik adik siap-siap kaka antar, lamekh menaiki motor (zupra-z) merek Honda milik zaver Hiteigai,suasana sepanjang jalan tidak seperti biasanya,bunyi motor suara kletak kletak, tetapi kali ini dalam kesunyian, korona yang muncul dari Wuhan cina, yang berwal dari kelelawar yang biasa komsumsi masyarakat cina, akan terinfeksi korona, Covid 19 akan menyebar dalam sekecap waktu kebelahan dunia.


Stengah jam kemudian setibanya di kota raja, mulai menyapa……….
Selamat pagi semua apa kabar……….kaka nell menjawab puji Tuhan baik….kaka nell cerita kaka chika wisudah undang saya dibayangkara …..sekecap ucapam mulut.

Lamekh bertanya…? Adik sudah siap kah belum. Adik berta jawab, sudah kaka ayo jalan. Kaka nell sama merry ucap berupa nasihat, ucapan hati-hat dijalan, ucap Lamekh terimakasih kaka berdua, baik kami dua pamit.
Saya adik berta menaiki mmotor Honda beat hend body hijau, miliik kaka nell ,sejam ditumpangi polimak menyapa tanta sama,om. Dimana mereka sudah mengenal suara, menerimah dengan senang hati, melapisih dengan senyum.


Tidak lama ketemu dengan tanta mulai bercerita, situasi yang terjadi,lagi asik bicara ada suara orang memanggil depan, ternyata kaka albino,sama merry, ucap merry dengan suara yang keras bernafas tarik, ada polisi jaga tak memakai helm sehingga balik ujar merry dengan gementar.

Tanta menjawab nga papa kok…mari nak bentar kamu jalan, sejenak makan siang tepat pukul 00.00 kami meninggalkan tempat, om beryanya lamekh saya ikut kota gramedia tokoh buku…..baik om diantar……ucap om terimakasih.


Sepanjang jalan, hanya bolah mata bertacam depan, suara sunyi, jalan masuk bayankara mata jalan, membuat posko penanggang covet 19, perlahan naik TVRI telihat, kota jayapura bersih, hanya langit biru yang telihat, angin dari arah samudra fasipik menampar bibir terasa nyaman dengan keindahan.

Dibalik itu dunia sedang dalam tangisan………korona membuat banyak orang berjatuhan……bahkann kuburan jadi penuh, tak biasa ikut keluarga saat pemakaman.


Sesampai dibanyakara, aku memberanikan diri, mungucap salam, salam melampisi senyuman, bahkan fredi, yance, abi paul hanya sederetan duduk bercerita sambil main gem dibawah pohon sombar mililk warga bayangkara.

Rombongan kaka aman, ade eman, membagi makanan barapen, ada yang menonton hanya seharian kerja, capek.


Terlihat rupanya ketiga gadis Melanesia itu senyum, terlihat rupanya cantik , balai RMP SIMAPITOWA, mengelar acara syuran Wisudawan/wisudawati telihat bahagia, sudah menjadi sarjana, apa yang mereka impikan sudah tercapai melalui motivasi, nasihat dari dari berbagai pihak terutama bagi orang tua mereka juga, puji syukur atas terselesainya masa akhir study.

Sejam kemudian telihat sekecap menghilang sumua orang aku masih saja duduk dibawa pohon mangga yang tadinya bakar batu, hanya daun,batu batu ammpas yang tersisah.


Zaver memanggil, aku masih saja dalam dunia khayalan enta kemana, aku memboncengi kaka zaver, TVRI telihat kebawah lautan biru hanya ombak yang suara gemuruh. Parah nelayan petaruh nyawa mulai kini sunyi.

Hanya korona yang jadi penguasa, tra biasa beraktivitas, hanya keluarga jadi musuh seakan akan jaga jaga jarak 1 m, rumah ibadah jadi sunyi. Hanya public jadi perdebatan, berita yang beredar di media jadi masyarat terpercaya, hanya manusia jadi ketakutan.


Hanya konona tak berkuasa, yang berkuasa adalah Tuhan Yesus sang juruslamat umat manusia.

Sepulang sore, fredi mulai cerita om tadi saya mual-mual panas jadi pulang cepat kerumah, semalam mulai sakit. Seminggu yang lalu hondphone rusak unggap fredy, setibanya sore.


Terdengar suara dari orang/ angin yang sampaikan ke mama fredi, hondphone milik lamekh berdering, ternyata no baru, kupikir sedetik angkat, mama fredy. Anak bagimana,, mama mulai cerita, lalu fredi ceritakan semuanya ke mama.
Fredi berbicang-bincang dengan mama kemudian, fredi beranikan diri menhanpirinya. Fredi bercerita, om saya dengar saya pu mama pu suara ini, sebentar/ besok saya akan sembuh.


Suara mama adalah emas, seperti berliang burung di udara cenderawasih, kasih mama sepanjang masa, maka jangan mencejewakan orang tua, bahkan jangan menyakiti hatimu.

Mama yang mengandung sembilang bulan,dengan berbagai sakit yang ia alamih, bahkan menaruh nyawa demi anaknya.
Kasih ibuh sepanjang masa.


Penulis adalah Mahasiswa Universitas Cenderawasih Fakultas (FKIP) Jurusan imu Pengetahuan Sosial *

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *