Cp: Penulis Fransina Sasaka

Oleh : Fransina Sasaka

Dengan berkembangnya arus globalisasi saat ini masyarakat Papua khususnya hampir kehilangan budaya sebagai identitas bangsa di dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya kaum muda. Banyak remaja yang menganggap bahwa budaya yang dimiliki masyarakat setempat (Papua) adalah budaya yang kuno dan tidak sesuai zaman atau ketinggalan zaman, terbelakang, primitif dan sebagainya. Salah satu dampak modernisasi dan globalisasi yang kita rasakan dan nikmati ialah pergeseran gaya berpakaian.

Hal ini disebabkan karena semakin pesatnya modernisasi di Papua memudahkan pengaruh perubahan sosial pola pemikiran masyarakat Papua yang awalnya tradisional menjadi modern. Peristiwa ini sebenarnya memberikan dampak positif dalam peradaban manusia, namun juga mendatangkan dampak negatif dalam kebudayaan setempat dalam atribut adat atau tradisional pada era milenial ini.

Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari perubahan yang dialami oleh masyarakat global. Globalisasi bukanlah istilah yang asing bagi kita karena hal ini sudah menjadi konsumsi publik dalam aktivitas manusia seperti gaya berpakaian, gaya hidup, informasi maupun teknologi, makanan instan dan sebagainya.

Dalam kehidupan masyarakat Papua, Globalisasi menimbulkan dampak positif yakni menerima perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat, interaksi sosial yang lebih mudah, cepat dan terjangkau, menikmati hasil produk, dan berbagai fasilitas yang membantu dan memudahkan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup. Juga globalisasi menimbulkan dampak negatif yakni terkikisnya nilai-nilai kebudayaan masyarakat asli karena mulai melebur dengan budaya asing dari luar pada gaya hidup Negara luar dan kesenjangan sosial. Dengan demikian masyarakat Papua bermodernisasi ke suatu tujuan tertentu.

Modernisasi adalah proses masa kini atau menuju masyarakat modern. Dalam hal ini menimbulkan sebuah tantangan yang membawa pengaruh terhadap masyarakat Papua kepada perilaku peniruan budaya luar terlebih pada masyarakat milenial yang kini lebih menyukai produk luar negeri dari pada dalam negeri. Misalnya pakaian.

Pakaian adalah bahan tekstil yang digunakan oleh tubuh manusia sebagai kebutuhan pokok manusia selain makanan. Adanya moderisasi membuat gaya berpakaian masyarakat Papua semakin berubah khusunya dikalangan remaja . Tentu sangat berbeda gaya berpakain masyarakat Papua zaman dahulu dan zaman sekarang. Dahulu masyarakat hanya menggunakan pakaian –pakain sederhana ( tradisional ) seperti koteka untuk pria dan cawat untuk wanita. Tetapi sekarang masyarakat Papua cenderung menggunakan pakaian dan cenderung menirukan gaya berpakaian luar sehingga pakaian tradisional dalam budaya orang Papua semakin punah.

Kebudayaan berpakain di Papua di era globalisasi ini telah jauh berubah dan cenderung mengarah ke gaya berpakaian orang luar dan produk luar. Di misalnya di kalangan remaja kini sudah mengikuti gaya berpakain dan gaya hidup negera tentangga ( PNG ) yang tanpa disadari samakin berkembang di masyarakat Papua terutama daerah-daerah perbatasan. Juga dapat dilihat dari cara berpakaian para artis dan penyanyi hip-hop yang sama sekali tidak mencerminkan budaya lokal dengan menggunakan pakain terbuka, memakai celana di bawah lutut, tetapi hal ini justru dianggap sebagai tren kekinian. Hal ini dapat merusak etika dan etiket serta moral orang Papua sebagai manusia berbudaya. Pengaruh westernisasi atau sebuah proses masyarakat Papua berada dalam pengaruh atau mengadopsi budaya barat dalam berbagai bidang seperti industri, teknologi, hukum, politik, ekonomi, gaya hidup, gaya makan, gaya bicara, gaya berpakain, bahasa, agama dan nilai-nilai lainya mengubah perilaku dak karakter masyarakat Papua.

Faktor – Faktor tersebut pada globalisasi saat ini sangat memungkinkan bahwa masyarakat Papua untuk melakukan perubahan yang tidak bisa dihindari untuk terus mencari new produk melalui beberapa hal, yakni pertama,Teknologi Informasi. Teknologi informasi yang berkembang saat ini mengakibatkan masyarakat Papua lebih mudah mengakses tentang berbagai dezine atau model pakaian dan melakukan peniruan budaya luar tersebut.

Kedua, Pendidikan. Pendidikan adalah salah satu faktor kedua dari perkembangan westernisasi dalam bidang gaya berpakaian masyarakat Papua. Kemajuan pendidikan di Papua yaitu dengan melanjutkan pendidikanya di luar negeri mau tidak mau mengharuskan para pelajar Papua harus menyesuaikan pakaianya dengan gaya berpakain asing. Ironisnya ketika kembali lupa mengenakan pakaian adat sendiri.

Ketiga, Imigrasi. Imigrasi yaitu perpindahan penduduk antar Negara terlebih di mana daerah yang berdekatan dengan Negara tentangga ( PNG ). Masyarakat yang berpindah dapat membawa pengaruh dan budaya baru bagi masyarakat setempat dapat mempengaruh budaya dalam berpakaian. Akibatnya masyarakat Papua dalam hal cara berpakaian telah bergeser ke gaya modern. Dikhawatirkan ialah punahnya budaya atau pakaian tradisional orang asli Papua di zaman ini. Misalnya dalam iven-iven budaya orang Papua tidak memakai kotek atau cawat dan menjadi penikmat budaya luar. Juga membuat pola perubahan sosial pada masyarakat Papua sendiri.

Nilai –nilai budaya yang dihasilkan oleh masyarakat Papua sendiri lambat laun akan menjadi budaya yang hilang atau punah, bahkan kebudayaan yang asli terkesan dibiarkan mati tertelan arus zaman.

Oleh karena itu, di tengah pengaruh globalisasi, modernisasi dan westernisasi orang Papua seharusnya menunjukan eksistensi budaya asli dengan model dan cara berpakaian tradisional sebagai pelestarian akan nilai dan jati dirinya. Diharapkan kepedulian dan kecintaan serta jiwa setiap orang Papua sebagai pemilik budaya untuk mencintai pakaian tradisional harus ditingkatkan di tengah arus gelombang zaman ini melalui pengembangan pendidikan, kesenian dan kebudayaan. Sehingga masing –masing individu atau kelompok untuk tetap menjaga budaya-budaya lokal agar kebudayaan itu tetap lestari dan tidak terkikis oleh arus zaman.

Penulis adalah Mahasiswi Asal Pegunungan Bintang, Di Universitas UNIBBA Bandung Bagian Agribisnis.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *