Oleh : Makda K. Semu)*

Menjelang di bulan ini (April) adalah kehilangan dunia seperti Petornela kehilangan seluruh daya, seperti aku kehilangan sebagian jiwa pula keberadaanku saat ini adalah telanjang keberadaan tak sadar saat, ketika itu ( tanpa sadar diriku) menghilang untuk pergi ke alam yang tak begitu sadar.  Petronela berduka cita atas kepegian kedua orangtunya. Meniggalakanku adalah hal yang palinng perih, juga mengambil jiwa oleh pihak ketika yang mencabut jiwa tanpa se-ijin Allah dan kepada Petornela sendiri.  Dirinya menganggap bahwa selalu ada rasa kasih sayang sama kedua orang tua, ia itu, anak kandung prempuan yang satu-satunya dari keluarga yang telah di tinggal (Hagamo-kopa/etnit Mapiha).

Malam itu, semilir angin Tiho Watiha yang berdesis lembut hampar wajahku. Aku keluar dan aku saksikan tatap di atas langit biru jadi penuh warnai malam itu setitik hujan membasahiku, getaran guntur terbawa-bawa kegunug Tiho lampias ke gunug Mouhago, pula kerasnya terdengar kekersannya terbukti di Oge-Toubai. Tak bisa tidur lagi ketika aku mendengar aksi bumi, malam pun tak bisa tidur pulas.

Semoganya, ternyata mimpiku juga demikian, kenyataan dengan kejadian tadi, dalam mimpi berharap juga bisa terbang bebas seperti se-ekor burung dan melukiskan indahnya melukis langit Phuyaka ini dalam mimpi yang besar, aku tatap samudara, berharap bisa berlari menggapai mimpi itu mengelilingi di pelosok Tiho-Watiha dan sekitasnya Alam yang penuh dengan banyak harapan jadi terdiam membisuh karena semilir malam sangat sedih dan tak sanggup pantasnya.

Pagi sekali, aku terbangun terlebih dulu. Cerah. Hanya gumpalan awan putih seperti kanvas, tapi terselimuti diatas puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi, gunung Tiho, gunung Mouhago, gunung Oge-Toubai dan di sekitar kampong Modio. Jemuri tubuh di pasasnya unggu, Sambil menunggu terik matahari di ufuk timur, di atas gunung Dogiyai yang banyak tumpuan harapan. Usai subuh, hingga waktuku di handphoneku sudah kubilang waktunya hampir setengah tujuh 06:45 WIT  menerangi terik mentari di pelosok Mapia.

Beberapa menit kemudian, HP (Hanphone-ku) terus berdering getar di lumuri dinding messeger, kontak pesan yang di pakai (stiker sedih/nangis) dan tiga kali log panggilan yang aku sengaja tak di terima, karena dingin embun pagi sangat minta ampun ketika itu. Ternyata kontak info tentang kehilangan kedua orang tua (almarhuma dan almarhum) aku terpaku tak sanggup ketika itu, sangat sedih kepergian kedua orangtuaku.

Aku tak rela. Disini saya di tinggal sendiri, hanya prempuan yang tahu mencucurkan air mata di atas pecek yang banyaknya tai simpanan binatang ternak bebas. Demi kepegian untuk menghilang selamanya (ayah dan bunda) yang penuh ada rasa inigin bersamanya, ayah kehilanganmu sepertinya : Aku kehilangan canda tawa bersama Ayah dan kehilangan bersama keluarga (kita) lain di sekitarku.

“Ibu, anakmu tak sanggup lagi. Ibu, apa benar, pergi untuk selamanya?” Tanpa Ibu, aku tak bisa tenang tinggal di rumah, “yoh?’Ibu meninggalaknku memukul hatiku terpanah. Ibu kepergianmu membawah segalanya. Ibu?”

Ibu, dari keringatmu aku sukses, Ayah dari tanganmu aku bisa selesai ( Dalam Dunia Pendidikan) namun, kini aku sudah kerja. Bagaimana bisa, sehingga keberhasilan penghasilan di terimana gajiku tak seenak menimati sendiri ( Ada rasa, ingin senang pakai bersama ayah dan ibu) membalas budi.

Doa hati kecil-ku

Ayah, selamat jalan kepangkuan BAPA. Yakin saja, karena perbuatan amal dan kasihnya. selamat ( bersama orang-orang kudus) bersenang RIA di taman FIRDAUS yang TUHAN menempatkan tempat bersuka ria. Kukenang Mazmur 116: 15 (TB) berharga dimata TUHAN kematian semua orang yang di kasihnya.

Selamat, Atas panggilan kedua orangtua, almarhum Ayahk, Andreas Semu dan almarhuma, Ibuku, Agnes Boga. Semoga ke tempat yang TUHAN menempatkannya. Pula, selamat berduka-cita keluarga besar Andreas dan Agnes, dan turut berduka bersama  keluarga di sekitarnya. Selamat duka malam yang ke-7 (Ke tujuh) selamat pula serta banyak berduka cita.

Maka Tuhan memberikan sesempatatan untuk mengambil keputusan bagaimana cara hidup yang aman damai dan sejahtera. Kukenang dan merenung kembali tiga hari tiga malam yang lalunya di renungkan kembali oleh Flater bahwa: Aman, damai, dan sejahtera terbentuk dari (BERTEKUN, HARAPAN, KEMAUAN DAN IMAN ), Amin!

Nabire,17 /05/20

)* Ditulis oleh : Magdalena K. Semu.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *