Oleh : Magapai Badakii Yamee

Pemekaran ibarat sebuah permen, para elit sebagai pemimis dari permen itu tidak sadar apa yang terjadi didepan mata mereka. Isu pemekaran hanya meredam persoalan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi di Papua selama ini.

Para elit Politikus tidak sadar akan situasi dan kondisi yang terjadi saat ini di Papua, dan buta mata bantinnya sehingga mengejar gula-gula atau permen yang di berikan oleh pemerintah pusat.

Tidak sadar bahwa rakyatnya yang menderita diatas tanahnya sendiri dan belum mendapatkan kebahagiaan yang seutuhnya serta tidak merasakan pembangunan yang mapan dan efisiensi untuk di nikmati oleh masyarakat sebagai akar rumput.

Para elit papua tidak sadar juga bahwa, sampai saat ini Tahanan Korban Rasisme Buctar Cs, masih dalam proses dan dijatuhi hukuman lebih berat dari pelaku rasis yg divonis lebih ringan. Apakah mereka bukan Orang Asli Papua (OAP)?, hal ini menjadi catatan terpenting kepada para elit politik yang masih haus akan jabatan yang sementara itu.

Sampai saat ini ujaran-ujaran rasisme terhadap OAP masih saja tercium di hidung mereka serta mereka menjadi saksi mata dari ujaran rasisme itu sendiri, namun para elit politikus di butakan dengan kekayaan, harta serta jabatan.

Pemekaran DOB hanya menggancurkan tatanan kehidupan bagi kami Orang Asli Papua. Dengan adanya pemekaran kehidupan rukun dan damai terpecah bela serta tercerai berai hanya karena hal itu.

Para elit politikus tidak membandingkan kehidupan sekarang dan kehidupan sebelumnya, akan tetapi haus akan jabatan sehingga entahlah akan terjadi apa nantinya itu para politikus masih belum pikirkan.

Dengan pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) hanya mempetakkan dan mengotak atik OAP sebagai bagian dari rasis itu sendiri.

Kemungkinan juga akan terjadi, satu keluarga akan jadi satu Kampung, satu Distrik, satu Kabupaten serta satu Propinsi. Sebab di lihat dengan perkembangan sekarang seakan berlombah untuk mendapatkan kekuasaannya sendiri di daerah.

Yang menjadi pertanyaan itu, apakah pemekaran itu murni dari masyarakat pribumi sebagai akar rumput ataukah hanya kepentingan oleh segelintir orang yang haus akan jabatan?.

Sayang sekali penderitaan dan tangisan dari rakyat yang sampai saat ini masih belum rasakan kedamaian di tanah papua sebagai tanah damai.

Tanah Papua masih dalam kedukaan, tanah Papua dalam tangisan untuk merindukan akan keadilan dan perdamaian. Namun, para elit politikus lainnya ramai-ramai untuk berjuang mendatangkan daerah otonomi baru untuk menambah penderitaan diatas penderitaan.

Aneh sekali para pemangku-pemangku politikus yang haus dan gila akan kekuasaan serta jabatan yang hanya 5 hari. Tidak memikirkan orang lain yang masih menderita, apakah dalam hati mereka ada hati nurani?.

Pemekaran hanya datang membawa beban penderitaan kepada rakyat yang sudah ada sejak aneksasi papua kedalam indonesia hingga kini belum usai, karena intimidasi serta teror oleh TNI-POLRI, pelanggaran HAM, perampasan tanah, OAP termarjinalisasi dalam segala bidang, hukum yang tidak adil dan rasis, ini masih saja terjadi di tanah Papua.

Apakah mereka ada mata untuk melihat?
Apakaha mereka ada telinga untuk mendengar?

Kepada para elit politikus yang terhormat,
mohon untuk mempertimbangkan hal itu dan membaca situasi Papua yang kini dengan mata terbuka serta jeli untuk memandangnya.

Semoga catatan ini menjadi catatan terpenting kepada para elit politik sebagai kaum terpelajar dan intektual di Papua. Catatan ini dari kami mahasiswa yang mengidam ilmu serta kerasnya hidup ini ditanah rantauan.

Penulis :Adalah Mahasiswa Papua yang kuliah di Jawa

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *