Feri Gombal (Mantan Ketua BEM Uncen)

Oleh : Fery Gombo (Man. Ketua BEM Uncen)

Pertama -Tama saya menyampaikan terimakasih kepada Tuhan Yang maha Esa, karena atas penyertaan-Nya saya dan ke 6 orang lainnya dalam keadaan baik.

Saya juga sampaikan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada seluruh masyarakat papua, pemuda, mahasiswa, lembaga-lembaga pemerintahan, tokoh-tokoh Adat, agama, NGO, Koalisi pengacara kami, dan seluruh solidaritas di Papua di indonesia dan solidaritas internasional yang sudah membantu menyuarakan suara pembebasan bagi kami 7 orang korban rasisme Surabaya tahun 2019 lalu.

Pada kesempatan ini saya perlu menyampaikan mengapa terjadi demonstrasi besar-besaran di tanah Papua pada Agustus dan September 2019, dan apa penyebabnya.???

Demonstrasi terjadi di seluruh Papua karena bermula dari ujaran rasisme yang terjadi di asrama mahasiswa papua Surabaya Jawa timur pada tanggal 16 & 17 Agustus 2019.

Ujaran rasisme ini di lakukan oleh ormas reaksioner Nusantara dan gabungan aparat TNI-POLRI, mereka keluarkan kata monyet, kata anjing (asu) kata usir Papua, Papua pulang Dll. (Bukti foto dan video ada di YouTube dan internet)

Rasis yang mereka sampaikan adalah :

Monyet, weiii.. monyet keluar kau, heii anjing, asu, lalu di nyanyikan lagu, Papua pulang…Papua pulang, juga kata usir Papua…usir Papua sekarang juga…..Jadi ucapan mereka murni ini ada niat jahat yaitu RASIS.

Secara manusiawi orang Papua merasa di hina sebagai ciptaaan Tuhan yang paling mulia sehingga marah dan protes ujaran rasis secara damai di tanah papua.

Apakah itu salah.???

Saudara-saudara yang saya hormati mari, berpikir secara profesional, saya percaya bahwa apabila tidak adanya kata rasis di Surabaya, saya yakin tidak akan terjadi demonstrasi dan rusuh di tanah papua.

Soal rasisme jangan pernah kecilkan dan sepelekan, karena itu soal harga diri martabat manusia yang paling mulia di harapan Tuhan.

Coba saudara-saudara lihat ke Amerika hari ini dengan kasus George Floyd, Amerika hancur berkeping-keping.!!!

Bagaimana banyangan pikiran anda jika di Papua atau di Indonesia terjadi demikian.???

Amerika itu negara terbesar dan penguasa di dunia namun dia tunduk di bawah kaki rakyat dan meminta maaf walaupun dia punya kekuatan untuk basmi rakyat yang protes.

Tapi Amerika lebih mengutamakan nilai kemanusiaan dari pada di proses hukum kepada masa yang melakukan aksi protes tersebut. Hal ini yang perlu di tiru dan di ikuti oleh Indonesia.

Dengan demikian, saya mau sampaikan fakta yang sesungguhnya.

Demonstrasi yang terjadi pada Agustus dan September 2019 lalu adalah bukan demo Papua merdeka atau demo lainnya.

Tetapi demonstrasi yang terjadi adalah murni menolak dan protes atas rasisme yang terjadi di Surabaya. Karena kami orang Papua mempunyai harga diri dan nilai yang sama dengan manusia lain di muka bumi.

Kami sebagai mahasiswa papua sebagai Control sosial dan agent of change dan juga sebagai harapan masyarakat Papua. Kami melakukan demonstrasi menolak rasime itu.

Dengan tujuan agar rasisme tidak terulang kembali di kemudian hari.

Apakah salah???

Diskriminasi Ras dan Etnis telah dihapuskan di dunia dan di Indonesia karena itu adalah kejahatan kemanusiaan yang berat.

Pelarangan Diskriminasi ras dan etnis di Indonesia terdapat dalam UU NO 40 Thn 2008

Hak menyampaikan pendapat di muka umum sudah di jamin dan di atur dalam UUD 1945 Pasal 28 dan UU No 09 Tahun 1998

Kami BEM Se kota Jayapura dan Cipayung se-kota Jayapura pada tanggal 18 Agustus 2019. Berdiskusi bersama dengan tujuan menolak rasisme Surabaya Jawa timur.

Dalam diskusi tersebut kami sama sekali tidak membahas tentang Papua merdeka,bawah bendera bintang kejora, kasih naik bendera bintang kejora atau diskusi untuk membuat rusuh atau meresahkan masyarakat atau juga Menyerang negara, atau menggulingkan pemerintahan yang sah Sama sekali TIDAK, sekali lagi TIDAK, kami tidak pernah membahas seperti apa yang dituduhkan oleh KAPOLRI dan POLDA PAPUA 2019 tahun lalu.

Juga, saya tegaskan bahwa, tidak pernah ada KNPB dan ULMWP di dalam rapat maupun rencana aksi demonstrasi di Papua khususnya di Jayapura.

Sekali lagi Saya tegaskan tidak pernah.

Yang terjadi sesungguhnya adalah demonstrasi terjadi secara SPONTANITAS Mahasiswa dan Rakyat papua dalam rangka menolak ujaran rasisme di Surabaya.

Dengan demikian semua yang terjadi dalam demonstrasi adalah di luar dugaan, dan itu terjadi karena emosional masyarakat Papua secara spontanitas.

Itu yang perlu di pahami oleh negara ini dan oleh semua orang yang selama ini menyebar kan berita hoax dengan tuduhan yang tidak benar bahwa kami adalah pelaku.

Sekali lagi saya tegaskan bahwa, Kami orang Papua adalah murni korban Rasisme Surabaya, semua yang terjadi di Papua adalah akibat dari rasisme Surabaya itu.

Saya percaya suku Jawa, sumatera, Maluku, Sulawesi atau Kalimantan di katakan monyet atau kata usir-usir seperti binatang, pasti akan marah dan pasti lebih parah dari apa yang terjadi di papua.

Saya mau sampaikan bahwa tuduhan oleh pihak POLRI terhadap kami sebagai aktor dan pelaku itu sama sekali tidak benar, kami adalah korban rasisme Surabaya. Titik

Semua yang terjadi di Papua adalah SPONTANITAS Masyarakat Papua karena ujaran rasisme Surabaya tahun 2019.

Pada kesempatan ini saya mau sampaikan yang benar apa peran kami 7 orang korban rasisme yang hari ini ditahan dengan tuduhan makar.???

  1. Fery gombo Man Ketua BEM Uncen sebagai korlap, yang mengarah kan aksi demonstrasi secara spontanitas tanggal 19 Agustus 2019 yang berjalan baik. Fery tidak pernah menyuruh membawah bendera atau menyuruh membakar atau merusak bendera atau juga tidak pernah menyuruh untuk menggulingkan pemerintahan atau melawan presiden sama sekali tidak.
  2. Alex gobay ketua BEM USTJ sebagai korlap yang mengarahkan masa tanggal 29 Agustus 2019. Alex tidak pernah menyuruh membawah bendera atau menyuruh membakar atau merusak bendera atau juga tidak pernah menyuruh untuk menggulingkan pemerintahan atau melawan presiden sama sekali tidak. Semua terjadi secara SPONTANITAS masyarakat papua karena ujaran rasisme Surabaya
  3. Hengki hilapok mahasiswa USTJ yang ikut dalam demonstrasi menolak rasisme
  4. Irwanus Uropmabin mahasiswa USTJ yang ikut dalam demonstrasi menolak rasisme
  5. Steven itlay Tidak pernah terlibat dalam demonstrasi menolak rasisme tapi di tangkap dan di proses hukum dan di tuduh makar
  6. Agus kosay ikut sebagai masa aksi tanggal 19, agus tidak pernah orasi atau menyuruh bawah bendera dll tapi di tuduh makar
  7. Buchtar Tabuni tidak pernah ikut demonstrasi tolak rasisme, beliau di tangkap hendak mau ke kebun dan di tuduh makar

Demi nama Tuhan yang sesungguhnya adalah seperti demikian bukan seperti yang di dengar di media masa oleh masing-masing lembaga untuk membenarkan diri masing-masing.

Dengan demikian harapan saya setiap lembaga manapun stop membenarkan diri masing-masing. Lebih baik mengakui kesalahan atau lebih baik diam dari pada bicara tipu untuk membenarkan diri. (Ingat itu dosa, akan rasakan pada akhirat hidupmu)

Mari jaga profesionalisme anda agar masyarakat dan semua orang senang.

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin

Sabtu, 20 Juni 2020

(Fery Gombo Man. Ketua BEM Uncen)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *