Oleh, Muyepimo Pigai

Aku rindu dari balik rimba ini.

Kerinduan itu pun tersilip bersama jiwa patriot di balik terali sana. Aku yang kukenali, di atas tanah ini aku hanya berseru pada alam dan yang kuasa, “lihatlah mereka di balik jeruji sana, lindungilah mereka agar tubuh tetap kuat, dan jiwa selalu semangat untuk penderitaan dan penjuangan ini.”

Tantangan, penderitaan dan perjuangan kau sejarahkan bagi setiap insan yang peduli perlawanan suci ini. Terima dan hadapi itu pikiran sucimu yang kau perjuangkan untuk tanah, dan manusia di negri penuh makna derita dan perlawanan.

Perlawananmu itu milik kita karena sejarah itu murni bagi perlawanan rakyat yang tertindas dibawah konsep penjajahan kolonial, namun merdeka itu akan tercipta dari pembantaian ini, karena persatuan rakyat itu perlawan murni, hanya satu kata lawan.

Terjalin cinta dan derita di atas tanah penuh kehancuran, berperasangkah buruk. Di atas penderitaan berkecamuk duri kau rela berkorban demi rakyat dan tanah.

Tubuhmu di siksa oleh tangan-tangan penindas, derita kau tak pandang, jiwa patriotmu kau lukiskan penderitaan bagi banyak orang, di atas tanah ini kau menaruhkan nyawamu. Terima kasih padamu, kau setia pada derita dan perjuangan bagi rakyat tertindas, dan oleh tanah ini.

Tiada hari tanpa derita, hatimu slalu di lukai oleh penguasa tak bermoral. Hukum hanya semata belaka, demokrasimu di kebiri (digadaikan) oleh pemikir gelapmu ini. Tiada nilai bagi kemanusiaan sejati di bumi ini.

Di balik jeruji itu tubuh dan tulang keringmu melemah namun jiwa patriotmu kau sejarahkan untuk rakyat tertindas di atas tanah penuh tangisan dan jeritan ini. Kau pun memeluk pada cinta dan derita perjuangan sucimu itu tugas dan amanah dari rakyatmu.

Aku yang rapuh. Aku pun yang utuh. Tiada hari tanpa jeritan anak negri di seberang sana. Aku dengar derita ini masih tersilip di balik terali penindas. Aku hanya bilang, di manakah hukum demokrasi ini? Tiada keadilan sejati bagi kebenaran atas kemanusian, hanya hukum kebiri yang berlumuran kebencian, dengki, amarah, dan caci maki. Itukah yang dibilang keadilan? Tidak bagi manusia Papua.

Di balik kabut tebal yang menutupi jagat raya, aku hanya berseru pada yang kuasa dan alam. Alam pun bersenandu di atas negri rimba ini. Tiada suara dari langit, namun hanya tersilip doa pada yang kuasa.

Entahlah, pada yang kuasa dan alam apa jawabannya? Aku jadi resah, membisu akan jawaban dari-Nya untuk para patriot di balik terali sana.

Sebuah Catatan Kerinduan Untuk Seluruh Tapol Papua

Medan Juang – Alam Modio, 19 Juni 2020

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *