Oleh;Nori Damoye Douw

Dia mulai membenciku, tidak tahu kenapa dia membenciku. Di hari selanjutnya masih sama, dia mulai menjauhiku tanpa saya tahu alasannya apa. Waktu itu saya hanya bisa diam. Tidak berani menyapanya. Setiap kali saya menyapanya dia malah mengacuhkanku.

Beberapa minggu ketika ia membenciku. Saya mulai mempunyai dua perasaan yaitu Cinta dan Benci. Saya tidak bisa jelaskan tentang hal ini. Terkadang saya rindu, namun setelah saya bertemu dengan dia tanpa seucap kata rasa rindu itu hilang, dan setiap dia pergi rasa rindu itu muncul. Saya membencinya karena dia membenciku terus-terusan tanpa memberitahuku alasannya.

Saya binggung sekali, entah dirasuki apa dari mana, Amadi tiba-tiba bisa merubah semua sifat-sifat baiknya itu. Selang waktu satu semester, semua nilainya meningkat, dan prilakunya memburuk artinya berubah keyakinan dan musnahkan janji yang dikrarkan sebelumnya

Tidak memaksa juga, tidak memarahimu. Saya sadar bahwa hidup adalah pilihan
.
Dalam bulan ini, minggu pertama, libur yang panjang akibat pandemi Covid-19, mulai menyapaku menanyakan kabar? Ujarmu padaku “Saya sibuk dengan kuliah online jadi sementara tidak boleh telepon maupun inbox ” Saya ujar dengan rasa malu menjawab “Maaf jika menganggu” Maka itu, aku merasa curiga karena jauh berbeda dengan biasanya.

Jujur sekali saya merasa kaku, hati ini tidak bisa dijelaskan lagi senangnya. Tapi disisi lain saya merasa malu karena pernah membencinya tanpa dia ketahui alasannya. Hari demi hari kita lalui bersama itu waktu masa sulit namun setelah amadi menunjang pada pendidikan yang tinggi, cinta anak terlantar buang ditempat sampah biar orang sapu dan dibakar.

Jarak bukan penghalang, Jarak diantara kita diapit oleh dua kelas, selama ia hadir dan tidak lolos. Itu sudah lebih dari sekedar cukup. Harus saya akui, Amadi telah menyukai sesama mahasiswa. Dia adalah alasan mengapa tiba-tiba saya berubah menjadi seperti bukan diriku.

Mengapa ada kata “Benci” tercoret seperti tinta hitam diatas kertas putih menjadi warna buram, Ada lain waktukah untuk memperbaiki kesalahan diri padanya.

Amadi! Tidak..tidak.. saya tidak percaya bahwa kau telah berpaling, Lupakah janji kita, hilangkah dari lubuk hati. Janji kita adalah nafas hidup kita _ sa anggap begitu walau melawan suratan (takdir).

Saya sadar dunia kita berbeda, kau seorang mahasiswa sedangkan diri anak jalanan yang tak bermateri juga tak terpandang, pantas untuk memandang sebelah mata dan layak membenci.

Diri merasa sempurna, tidak istimewa, dan jauh lebih keren dari semua makhluk manusia. Ini ungkapan tidak wajar saya lontarkan dengan sengaja. Bukan karena pengemis cinta, bukan untuk membujuk kebajikan, kebaikan, dsb, namun kenyataannya hilang harapan dalam sekejap mata maka sa tuliskan dengan kata-kata tidak bermakna juga tidak serapih seperti biasa ditulis.

Ketika saya rindu hilang kabar, perasaan terbang melayang-layang ibarat layang-layang putus benangnya. Dimana saya harus mengadu dan bertanya untuk mendapatkan kabar yang pasti. Duhai belahan jiwaku, sukmaku terasa bagai berjalan diatas jeruji duri karena ketidakrelaan dan ketidaktahuan kabar pasti disana.

Penulis: adalah Anak muda Papua, yang sudah menulis berbagai artikel,opini,dan cerpen di media Suara meepago.com maupun wagadei com.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *