Oleh: Aprianus Iyai*)

Melihat maraknya bakar batu sekitar 20 ekor babi pada Sabtu, 20 Juni 2020 lalu di lapangan Geraldus Tigi, Distrik Bomomani, Kabupaten Dogiyai dalam rangka pembentukan pemekaran Kabupaten Mapia Raya bahwa bagi saya (Penulis) secara pribadi merasa bahwa ada yang tidak beres terkait dengan pelaksanaan kegiatan tersebut. Karena, bagi saya, Pemekaran Mapia Raya sendiri bukan menjadi solusi bagi rakyat dan alamnya yang ada di tanah Mapiha. Dalam pandangan saya, Pemekaran Kabupaten Mapia Raya adalah Malapetaka bagi masyarakat dan alamnya di tanah mapia.

Oleh Karen itu, semua pemangku kepetingan, terutama (Bupati dan DPRD Dogiyai) mesti melihat secara jelih dampak-dampak negatif yang akan terjadi sesudah pemekaran kabupten Mapia Raya itu sendiri.

Sebenarnya, banyak pihak yang menilainya bahwa wacana mengenai Pemekaran Kabupaten Mapia Raya sendiri adalah sebuah upaya yang hanya dilakukan oleh segelintir orang yang haus akan jabatan dan kekuasaan. Oleh Karena itu, bagi saya secara pribadi bahwa wacana ini (Pemekaran Kabupaten Mapia Raya) adalah sesuatu yang tidak kena bidik jiwa dan hati rakyat Tota Mapiha/Simapitowa. Sebab, rakyat dan alamnya di tota mapiha sendiri tidak pernah meminta atau mengemis kepada pemerintah untuk membuka pemekaran Kabupaten Mapia Raya di tanah Mapiha.

Ada beberapa alasan yang menjadi landasan (Dasar) bagi saya secara pribadi (Penulis) dalam upaya melakukan perlawanan atau sikap saya terhadap penolakan wacana Pemekaran Kabupaten Mapia Raya. Diantaranya bahwa pemekaran adalah pintu masuknya, Kapitalisme Global, Hedonisme, Impearisme, Kolonialisme, Rasalisme, Keluargaisme, Kampungisme, Distrikisme, Eksploitasi dan Eksplorasi, dan Penembangan secara illegal di tanah Mapiha. Sehingga dia (Pemekaran) sendiri terkesan bahwa dia merusak betis kerja yang sejati dan tatanan kehidupan orang Mapiha di tanah Mapiha dalam berbagai aspek kehidupan.

Bagi saya. Pemekaran Kabupaten Mapia Raya merupakan ancaman dan malapetaka bagi rakyat Tota Mapiha/SIMAPITOWA. Oleh karena itu, mahasiswa dan rakyat Tota Mapiha dengan kesadaran yang mendalam demi menjaga nama dalam keberlangsungan hidup dan juga warisan leluhur Suku Mee Tota Mapiha dengan tegas menyatakan bahwa “Pemekaran adalah pintu masuknya Kolonialisme, Transmigrasi, Marginalisasi dan Depopulasi, Militerisme, Rasialisme, di atas Tanah adat Tota Mapiha/SIMAPITOWA.

Selain itu, Pemekaran itu sendiri akan mengakibatkan pada adanya pergeseran budaya secara drastis di tanah Mapiha. Pemekaran dapat menjadi ancaman bagi tempat-tempat keramat, (Roh-Roh Pelindung/Pemeliha Marga, Suku, Klen, Tanaman, Babi, Ayam” yang hingga kini dijaga, dipelihara, dan dilindungi oleh masyarakat adat sendiri di tanah Mapia

Akhirnya, Kami Rakyat Tota Mapiha/RPM SIMAPITOWA, menyatakan seruan ini bahwa Kami Menolak Wacana Pekekaran Kabupaten Mapia Raya. “MENOLAK, MENOLOK, MENOLAK, DAN MENOLAK DALAM NAMA ROH-ROH PELINDUNG DI NEGERI TOTAMAPIHA”.

*)Penulis adalah Alumnus Pada STFT “Fajar Timur”, Abepura, Jayapura, Papua.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *