Oleh : Yames Makituma Pigai

Penangkapan dan penembakan semakin meningkat dan berlanjut dimana-mana dan seolah olah menjadi suatu bisnis kekerasan yang saling merebutkan papua. Pelaku pun tak mampu diungkapkan oleh jaksa penguasa hukum. Warga sipil semakin tidak aman. Papua yang artinya damai itu diberi stigma dengan konflik dan juga stigma lainya.

Tidak sedikit warga sipil yang sudah korban diatas tanah damai ini sejak tahun 1969 hingga saat ini penjajahan Indonesia terhadap orang Papua semakin semakin bertambah subur. Pemberlakukan otsus pun tak mampu memberi keselamatan bagi rakyat papua. Justru UP4B yang dihadirkan menjadi suatu kebijakan baru memperkuat tekanan terhadap orang papua.

Nama papua dijadikan suatu nama konflik oleh penguasa kolonial dan kapital. Sementara rakyat papua krisis kepemimpinan baik pemimpin organik maupu non organik. Seolah olah orang papua tak mampu menjadi pemimpin diatas tanahnya sendiri, memimpin dan mengatur rakyat bangsa papua barat. Pemimpin yang berhak membelah rakyatnya sendiri dapat ditangkap, diteror, dibunuh, dimakar oleh penguasa kolonial indonesia.

Orang papua merindukan gembala yang baik, yakni! Gembala yang mampu membahwa orang Papua mencapai puncak kebebasan dari speral penidasan. Kebebasan tak bisa diukur oleh kesejahteraan para pejabat yang sedang mandi uang otsus diatas pendertaan rakyat papua barat.

Dalam artikel I gerahkan gerahkan buruh tani di indonesia menginngatkan kita bahwa orang papua yang mengurban dari kampung ke kota bukan karena mencari kesejahteraan ekonomi tetapi justru mereka ingin merebut kedaulatan dan ideologi dari penguasa kolonial dan kapital. Kaum buruh tani di indonesia bukan sekedar datang ke kota yang sudah terbentuk dalam multikultural, tetapi mereka datang untuk bertarung dengan kaum mayoritas di kota dan ingin bertarung dalam budaya baru.

Namun mereka di cap sebagai separatis, pengacau, makar dll (dalam konteks kolonial) dan stigma lain oleh negara kolonial ini. Hanya karena menyampaikan keinginan atas kebenaran identitas sejarah mereka. Tidak sedikit orang papua yang tertangkap, terbunuh, makar oleh kebenaran. Dalam konteks ini kebebasan atau demokrasi dilecehkan kekerasan yang dilakukan oleh penguasa negara indonesia melaluhi aparat keamanan Tni/Porli.

Makna demokrasi di indonesia menjadi kabur. Pembangunan demokrasi di papua berbeda dengan demokrasi diluar papua. Kalau orang papua protes atas pelanggaran HAM. negara menyebut separatis, kelompok kriminal bersenjata, makar bahkan dapat ditembak, ditangkap hukum mati diterali besi. Sementara sementara orang jawa melakukan konflik orizontal (tawuran massa) tidak disebut separatis, pengacau, dijawa. Negara ini aneh dan aneh karena memang pendidikan demokrasi juga aneh sehingga orang papua berduka kematian demokrasi diatas tanah papua. Gubernur dan para pejabat daerah sungguh membangun demokrasi menyeluruh, bukan mempertahankan demokrasi sekular yang dianut oleh para politisi partai kolonial yang mencari kehuntungan pribadi dan kelompoknya.

Pelarangan jurnalis asing masuk di tanah papua juga merupakan pelecehan terhadap kebebasan. Harga diri dan martabat jurnalis dilecehkan oleh tindahkan aparat keamanan Tni/Porli yang berfikir dangkal tentang dokrasi jurnalis dan jurnalisme. Para wartawan ditanah papua sudah menjadi komunitas yang tertekan karena tindahkan tekanan kebebasan jurnalis.

Pemberitaan kasus kasus kekerasan juga diawasi oleh aparat negara agar tak bisa di ketauhi dunia luar. Demokrasi papua dikurung dan dikandangkan oleh kekuasaan ibarat sebagai papua ternak peliharaan negara. Tidak punya kebebasan yang bebas menyungkapkan eksistensi.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *