Oleh: Sesilius Kegou)*

Surat ini sengaja kujatuhkan di punjak gunung Awi Mouhago:

Begini, kehormatan kursi panas seola menjadi tontonan pemain pelawak di layar TV. Sejatinya, ia berekspresi memikat hati para kaum muda dan jiwa-jiwa gombal sebagai bakatnya. Tapi, kursi panas di birokrasi, semestinya kehormatan kursi panas tak bisa menyembunyikan ekornya di publik, biarkan kehebatan sebagai intelek menilai oleh Pablik seluasnya.

Ironisnya, persoalan “Mapia Raya” Otonomi Daerah Baru (ODB), seola-ola telor ular Kobra “bangsa beracun” bertelor lama di sarangnya, menunggu waktu untuk menetas, telor pertama sudah menetas “Surat Keputusan” gigihkan para rakyat, intelak, pemuda, dan kepada siapa saja “pendengar”.

Berbicara seluas tentang Papua, semestinya kita bertolak balik dari berbagai persoalan; Politik, Ekonomi bahkan yang lain yang mendalam dan menebal. Terutama, saya (penulis) angkat Politik dan Ekonomi. Setiap pemekarakan Daerah baru, tentu di sana ada Ekomi dan Politik tersenyum mulus mentikan keuntungannya empat puluh dua kali makan siang, sementara para pemilik “masyarakat” demokrasi injaki dengan tindakan kuasanya akhirnya menahan derita yang kian hari kian subur sejajar jajah Negara Republik Indonesia.

Mapia sendiri, kita sudah rasakan sistemnya, kita sudah melihat perkembangan, nikmat segala hasil bumi dari alam sendiri. Juga Pertumbuhan manusianya yang begitu mayoritasnya hidup berkelompok dengan etnik budaya rumpung koteka moge. Kini, kehidupan lapisan masyarakat pun tak ingin lepas dari pekerjaan sehari-hari sebagai tani; mereka menanam kacang, umbian, ternak juga pedagang kelas bawah, itu saja cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai anak-anaknya.

Beberapa bulan kebelakangann ini, eksploitasi di pelosok Mapia begitu cepat, mengalir bagai air gunung juga seakan gulungan hempasan ombak memukul tanjung Moi di Kaimana. Tapi bagi mata para penguasa, jangka waktu dua tahun bangun jalan keliling Mapia itu tidak lama “sekejap mata”, mereka punya visi tersendiri “target ekonomi” itu kepentingan bagi perusaan. Ula dari perusaan, kehidupan yang harmonis ditanami masyarakyat Mapia sudah mulai luntur, seola busah tanpa air. Banyak lagi, kehidupan masyarakat sudah beda jauh, sekolah kuasai rumput, perkantoran distrik tak lagi kerja, berkantor di ibu kota (Dogiyai dan Nabire) disana tersarang hebatnya malas.

Bahas lebih spesifik lagi, tentang perusaan; ada perusaan Pasir di Kali Mapia milik PT. Dewa. (baca dalam buku Jejak Darah; judul “isi surat; tangisan mama”) dalamnya beberapa andegraun, membobok, dll. Kita mesti paham lagi persoalan lain; kenakalan remaja, pengaruh sosial menjadi tontonan semata semakin subur dalam jiwa-jiwa manusia dan sadar ketika kimia itu mulai memaksa kita untuk harus buktikan nyata pada publik, baca juga dalam buku “Nemangkawi“. Salah satu dari pengaruh sosial yang membodohi adalah Pemekaran yang kini seakan jadikan ratu Davalen yang setiap hari terlintas di bibir setiap manusia Mapia.

Beberapa tahun kebelakangan ini, Mapia dinobatkan sebagai tanah suci, tanah keramat, yang masyarakatnya hidup ketergantungan. Ditengah keharmonisan seperti ini, sepertinya diatas kertas putih teteskan tinta, akhirnya org katakan, “ada noda diatas putih”.

Banyak lagi persoalan kita manusia Mee, dalam bukunya Tuan Beni Giyai dengan judul “Karguisme Irian Jaya”, yang sebagian kita kenal dalam video dibuat oleh kk Engel Degei, ada lagi dalam buku yang berjudul “Rapadaba”, ada lagi dalam buku yang berjudul “Papua Vercus Papua“, setiap tulisan merinding ketika kita bacanya.

Kini, dengan situasi yang ada, sedang lalui ini, mungkin saja kita belum pernah baca buku-buku diatas ini, termasuk beberapa cerita rakyat yang biasa ceritakan oleh org tua sebagai pengantar tidur, “Abe Keneka Ihago”/ ratu bersaudara di Ihago, ada juga tentang, “Hamee pituwopa” tujuh lelaki yang hidup di daratan Ogeihe”, ada juga “bago Eka” nama samaran/pangeran, dan lain-lain

Apa nantinya, semua gunung keramat; Poupotu, Awi Mougaho, Weyland, Pegaitakamai, daratan Ekago, Pihakebo, dan lain-lain yang akan menjadi rata tanah, kiri tembus kanan, seola ia (alam) hidup tanpa genakan sehelai pakaian yang layak. Para elit menggantungkannya diatas mimbar emas dari hasil darah dan tangisan, ia akan garu, malu memotong lehernya yang bergaung susu dan madu itu.


)*Penulis adalah penulis buku Jejak Darah.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *