Oleh :Waipo Wenda

Pada suatu hari di keluarga yang sangat sederhana di suatu perkampungan dalam berumah tangga. Didalam keluarga memiliki 4 orang anak bertambah dengan Ayah dan Ibu berjumlah 6 orang. Sang ayah adalah seorang petani, Ibu adalah ibu rumah tangga yang bertani juga.

Kedua orang tua adalah orang tua yang pekerja keras demi menghidupi keluarga. Waktu terus berjalan anak anak pun tumbuh besar dan siap bersekolah, keempat anak tersebut memulai bersekolah di sekolah yang formal. Hari demi hari biaya SPPpun semakin bertambah dengan jumlah anak anak juga begitu banyak.

Demi hari esok lebih baik untuk anak anak mereka, orang tua bekerja keras, kerja kebun, berjualan dari balik gunung ke kota. Rasa lapar dan haus, jam makan yang begitu sudah lewat, tidur di jalan, karena rumah mereka jahu dari pasar yang mereka berjualan, uang seribu sangatlah paling besar bagi mereka itu semua selalu menemani mereka di sepanjang hidup.

Harapan orang tua adalah kesuksesan anaklah yang paling penting dibandingkan kesehatan mereka, air mata selalu jatuh ketika mengingat masa masa kehidupan saat mereka masi muda. Karena mereka bulum punya pendidikan yang layak untuk membiayai anak anak mereka.

Tetapi waktu mereka telah lewat melihat orang orang yang sukses dengan gelar yang begitu mengagumkan. Akankah anak anak kami seperti mereka pertanyaan dan mimpi besar khayalan itu selalu mereka bawah dalam Doa yang begitu tulus dari dalam hati yang sungguh sungguh.

Tahun demi tahun telah lewat menunggu anak anak mereka dengan kesuksesan yang telah diimpikan. Anak pertama sudah sarjana dengan gelar SE, ketika pulang bersama dengan istrinya orang china. Anak kedua pilot dengan istrinya orang Barat. Anak ketiga pada saat kuliah hilang dengan pilitik belum bisa pulang kerumah. Anak yang terakhir sarjana ST, dan menika dengan orang yang berbeda budaya dengan dia.

Harapan dan cita cita orang tua telah tercapai tetapi mereka semua belum bisa pulang. Mereka semua menjadi orang orang hebat dari pada orang tua mereka. Kedua orang tua sangat bangga sekali melihat kebahagian mereka dari balik gunung. Sayangnya mereka belum bisa sama sama dengan mereka.

Anak anak telah belajar hidup di kota, dengan makanan yang enak, pakaian yang bagus, mau pergi jahu dekat dengan kendaraan. Di kalah itu mereka juga punya istri yang belum bisa naik gunung. dengan alasan itu mereka belum bisa bertemu dengan kedua orang tua mereka.

Di suatu hari kedua orangtua sangat kengen sekali berjumpa dengan anak anak mereka, cucu cucu mereka dengan cinta yang paling dalam. Kedua orangtua mendaki gunung di pagi hari, tidur di jalan dengan kecapean yang begitu berat.

Ketika tiba di rumah anak anak mereka di kota, kedua orang tua sangat takut, duduk di gapura akankah anak anak kami akan melihat kami? Takut untuk mengetuk pintu karena pintu rumah mereka dengan pagar yang mewah. Istri sang anakpun menoleh keluar dan melihat mereka
” pak diluar ada orang ketika anak tersebut lihat mereka itu adalah orangtuanya”

Menyambut mereka masuk kedalam rumah kedua orangtua sangat takut untuk duduk di kursi sofa yang begitu mewah, lantai rumah mereka begitu bersih. Sang istri menyambut mereka dengan wajah yang muram karena kedua orangtua tidak menggunakan pakaian yang baik, kurang bersih.

Mereka memilih untuk duduk di dapur agar tidak membuat keributan antara suami dan istri setelah satu minggu mereka balik ke kediaman mereka yaitu kampung halaman. Melihat anak anak mereka bahagia itu merupakan kebahagiaan mereka.

Saat ini kedua orangtua hidup di kampung tidak tergantung lagi dengan kesuksesan anak anak mereka.

Pesan moral dari cerita diatas adalah,
Kesuksesan anak adalah kerja keras orang tua, Jangan bangga dengan gelarmu yang besar, pangkatmu yang tinggi, anda dapat dipercayai di mana mana. Hargailah orangtuamu selagi mereka masih hidup.

“we are nothing without parent loves them as you are”
Jayapura, 22 Juni 2020

Cerita Moral Dari Ugy, Bonom

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *