Oleh : Dessy Siep)*


Perkembangan dunia semakin maju dan berkembang apalagi di dunia era teknologi ini .Perputaran ilmu pengetahuan dan teknologi juga semakin hari semakin berkembang .Hubungan social masayarakatpun semakin terus berubah dan mengikuti zaman .Pengaruh ideology dan penguasaaanpun semakin kuat dan tajam menghamtam minset berpikir masayarakat.


Situasi ini di tuntut khusus untuk orang papua yang secara system masih di jajah oleh kolonialisme dan kapitalisme ini di tuntut untuk membiasakan diri selain aksi dan refleksi untuk tetap melajutkan dan membiasakan diri untuk membaca, berdisksui berdasarkan referensi yang jelas serta membiasakan diri menulis fenomena struktur social dan hungannya dengan system Penindasan Bangsa West Papua.


Selama ini, pengalaman orang Papua (1961-2000) hanya sampai sebatas aksi, refleksi saja tanpa ada gerakan literasi bacaan dan diksusi kritis yang di jalankan demi kemajuan peregerakan perlawan system penjajajahn di atas tanah papua. Mengapa penting harus membangun budaya literasai bacaan dan diskusi kritis dalam pergerakan perlawan system penjajajahn bangsa West Papua?


Jika kita tidak membiasakan diri kita membaca,menulis,berdiskusi banyak dengan sumber referensi yang jelas, maka orang lain gampang sekali menipu, bodohi, serta mempengaruhi kita dengan narasi tidak benar dalam minset berpikir kita. Bahkan merugikan kita juga banyak hal hal negative yang bisa muncul. Baik dalam masayarakat papua yang sudah dalam di tingkatan pemerintahan maupun ditingkatan social masayarakat. Karena kurang literasi bacaan, kurang diskusi akhirnya orang papua dalam system colonialpun masih di tipu dan di bodohi ,apalagi masyarakat biasa yang ada maupun aktivis yang tidak suka membaca dan berdiksui kritis muda sekali ditipu dengan berbagai iming-iming dan permainan system colonial untuk meloloskan kepentinganya di atas tanah papua.


Ada kemjuan sejak hadirnya Kosapa (komunitas sasatra papua), Tabloid Jubi, Suarapapua, Suarameepago, dan Kabara mapegaa. Media-media ini yang selalu menfasilitasi kemajuan dan pekembangan anak-anak Papua dalam membantu menyuarakan isi hati dan tulisan yang mengkritisi system penjajajahan indonesia atas tanah papua.


Bersyukur juga Ada Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) mengajarkan saya (Dessy siep) untuk membaca, menulis dan berdiskusi berdasarkan referensi. Karena saya merasakan betul bahwa penipuan atau terlena dengan narasi ideology pancasila dan KNRI harga mati itu sudah di bangun sejak kami masih sekolah dari SD-Perguruan tinggi melalui kurikulum pendidikan yang sudah di kemas secara terprogram dan terstruktu dari system colonial Indonesia.


Jadi, marilah kita membudayakan membaca, menulis, berdiskusi dll. Agar kita orang Papua tidak mudah ditipu oleh narasi system colonial yang dibangun di pendidikan maupun dalam system pemerintahan colonial Indonesia kepada masayarakat akar rumut di seluruh tanah Papua. Disini tugasanya kaum muda dan terpelajar karena mereka adalah benteng kekuatan masayarat dalam membantu menyalurkan narasi kritis dan membantu meluruskan minset masayarakat untuk kembali percaya pada nasionalisme dan ideology papua merdeka.


Contohnya : Presiden Pertama Republic Indonesia (RI) Ir.Soekarno memanipulasi Sejarah Kemerdekaan Bangsa West Papua ke Dalam Republic Indonesia .Padahal Tete Nene moyang kami orang papua tidak perna ada hubungan apa – apa dengan keturunan soekarno karena pada zaman itu kebanyakan orang Papua Barat tidak bisa membaca,menulis dan bahasa Indonesia yang baik.


Soekarno membangun narasi atau opini public di masayarakat Indonesia, bahwa Papua ada hubungan baik dengan kerjaan Tidore, Ternate di bagian pesisir Raja Ampat dan Biak dan sekitarnya. Namun semua itu di bangun hanya untuk kepentingan membangun persatunan nasional Indonesia dalam upaya merebut Papua masuk dalam wilayah Negara Kesatuan Republic Indonesia (NKRI).


Dampak dari ketidak tahuan masayarakat Papua saat itu, dan kalangan intelektual orang Papua saat itu belum sampe mampu mebangun persatuan nasional dan juga belum mampu membangun gerakan literasi bcaan dan diskusi kritis dalam gerkan maupun dalam hubungan social masayarakat, sehingga narasi yang terbangun dari Negara Indonesia saat itu secara mentah mentah di terima tanpa ada analisa dan pembaacaan kedepan tentang tantangan, peluang dan acamana kedepan secara baik. Semua ada terdampak secara nyata karena belum ada gerakan bacaan dan diskusi diskusi kritis yang bisa memapu menciptakan kesadaran kuat dan kekuatan persatuan yang baik.
Dengan demikian, marilah kawan-kawan, saudara – saudari, kita harus bergandengan tangan bersatu membangun gerakan literasi, budayakan membaca,menulis dan berdiskusi berdasarkan sumber referensi yang jelas.Agar apapun oponi public atau narasi yang di bangun oleh system Negara colonial Indonesia itu dapat mudah kami ketahui dan deteksi letek penipuannya. Sebelum system Negara menipu orang Papua dari Sorong sampai Merauke, mari melengkapi diri kita dengan kekuatan membaca,menilus dan berdiskusi berdasarkan sumber refrensi yang jelas.

)*Penulis adalah Mahasiswi baru ,kuliah di Malang Jawa Timur ,Aktif di Angggota Aliansi Mahasiswa Papua Komite kota Malang (AMP KK Malang).

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *