Dibalik kampung Modio (Mapia) beberapa rumah depan mata tersusun di kampung Diheugi

Oleh: Petrus Odihaipai Boga*)


Manusia Tota Mapiha dan Tanah Mapia
Apa itu Tota Mapia? Tota dalam bahasa Mee berarti “yang ada”: ada sejak dunia dijadikan dan terus ada di setiap zaman dan gerenerasi Mee di Mapia; sudah ada sebelum pemerintah dan agama. Artinya bahwa, “Yang ada” berarti esesnsi dan eksistensi masrayakat (Macrokosmos) yang ber-ada di wilyah Mapia dan alamnya (Mikrokosmos). Esensi manusia dan alam adalah sprit dan falsafah serta nilai-nilai hidup yang telah dihidupi oleh masyarakat; sedangkan eksistensi manusia berkaitan dengan seluruh keberadaan masayarakat dan alam yang tersimpan berjuta kekayaan di tanah Mapia. Manusia di tanah Mapia dan alamnya adalah satu kesatuan antara satu dengan lainya, sehingga kedua-duanya tidak dapat dipisahkan oleh siapaun dia, karena alam Mapia sendiri sudah memberikan kehidupan bagi masyarakat adat tota Mapiha sejak dahulu hingga kini-nanti.
Mapia adalah nama dari sebuah sungai yang terbentang di tengah wilayah tanah Mapia. Kini, banyak orang mengenalnya dengan sebutan Mapia. Nama Mapia diberikan berdasarkan sungai mapia. Secara Geografis (Letak Daerah) Tota Mapia sendiri adalah dari saikonai. Wilyah ini adalah daerah yang berbukitan dan terdapat banyak gunung. Ada empat pegunungan yang memagarinya, yakni pegunungan Kobouge, Waihai, Tiho dan Ibou.


Manusia Tota Mapiha


Manusia Tota Mapia (Mapihaka Mee). Membatasi pembahasan ini, Saya (Penulis) secara singkat mendefinisikannya bahwa manusia tota Mapia adalah manusia yang telah ada di Mapia. Masyarakat dan alamnya masih ‘ada’ oginal. Sistem pencahariannya dengan cara bercocok-tanam, berburu dan berternak. Kuat berjalan kaki ber-mil-mil dan memiliki berbagai kebiasaan dan nilai hidup. Orang Mapia adalah orang yang menerima agama dan pemerintah pertama di seruh Mee Pagoo. (Bobi, Awe Pito. 1935). Dalam bukunya menjelaskan bahwa, awalnya perkembangan agam dimulai dari Mapia, Mee pagoo hingga di Wamena dan pegunungan Bintang.

Budaya, Sebuah Modal Pembangunan di Tanah Mapia


Saya (Penulis) secara pribadi meyakininya bahwa seharusnya pembangunan secara kontekstual amatlah mendesak untuk situasi saat ini di tanah Papua pada umumnya dan di tanah Mapia pada khususnya dan bukan pendekatan model pembangunan infrastruktur umum dan pembukaan DOB. Bagi saya, harus membangun Papua sendiri secara kontektual. Artinya bahwa Pembanguan kontekstual di Papua adalah pembanguan berbasis budaya. Membangun berdasarkan keberadaan masayarakat dan kebudayaannya serta sesuai dengan alam yang ada. Artinya bahwa dengan pendekatan budaya setempat pembangunan dari daerah tersebut akan lebih maju dan berkembang, dan bahkan berpotensi untuk membebaskan masyarakat dari ketertinggalan. Karena, Potensi membebasan bangsa dari segala ‘ketertinggalan’ tersimpan dalam budaya, nilai dan falsafah hidup serta potensi alamnya yang ada.


Orang Papua pada umumnya di wilayah pegunungan tengah sudah terbiasa hidup dengan cara berkebun. Artinya, bahwa orang Papua gunung sendiri bukan miskin, tetapi itu cara berada orang Papua yang tidak tergantikan dengan budaya lainya. Berburu dan membuat banyak ritual juga bukan merupakan primitif, tetapi kekayaan OAP. Cerita dongen juga bukan tanda hidup kuno, melainkan cara memelihara kebijaksaan hidup. Berjalan kaki juga bukan kutukan bagi orang Papua, tetapi identitas bangsa Papua. Rambut gimbal, breok adalah substansi orang Papua pada umumnya dan bahkan sebuah identitas dan martabat manusia sejati asal suku bangsa Melanesia. Oleh karena itu, dengan pemahaman yang demikian, penulis secara pribadi meyakini bahwa pembangunan kontekstual di Papua yang tepat adalah pembanguan berbasis budaya. Bagi Penulis, Budaya sebagai pintu revolusi di tanah Mapia pada khususnya dan di tanah Papua pada umumnya.


Apa itu Wisata


Wisata adalah bepergian secara bersama-sama untuk bersenang-senang, menambah pengetahuan; bertamasya (Peknik). Jadi, Wisata adalah berbagai tempat hiburan sekaligus wadah belajar. Tempat wisata berupa alam dan bangunan. Wisata alam berupa, pantai, danau, sungai, kali, gunung, dan lainnya. Sedangkan Wisata, bentuk bangunan seperti peninggalan sejarah, museum, rumah tradisional, monument, arca dan lainya. Tempat-tempat wisata adalah mempunyai nilai budaya dan falsafah hidup. Dengan demikian, tempat wisata adalah suatu tempat yang neniliki beragam keunikan, keindahan, sejarah dan nilai serta kebijaksanaan hidup, sehingga layak dikunjingi oleh pengunjung macana negara dan domestik. Dalam kontek inilah, Penulis secara pribadi merasa bahwa pembangunan daerah Mapia harusnya dengan model pariwisata tradisional Mee.

Potensi Pembanguan Model Wisata di tanah Mapia


Potesi wisata nuansa tradisional Mee di Mapia yang dimaksud oleh penulis adalah membangun daerah dengan berbasis alam dan kebudayaan yang ada dan dihidupi oleh masayarakat adat Mapia. Alam sendiri menjadi satu potensi yang besar untuk mengembangkannya dan dijadikan tanah Mapia sebagai tempat wisata. Karena di Mapia sendiri terdapat beberapa tempat yang menjadi modal tesendiri untuk dijadikan sebagai tempat wisata, yakni tempat-tempat keramat yang berupa batu besar, telaga, pohom, kali, pembatas gunung (Dimida), gua, bukit, semua gunung (Ahanimaki, tempat jiwa Mee hidup). Semua tempat keramat inilah yang mempunyai sejarah atau cerita dan kisah yang unik. Tempat roh suku itu hidup, dan tempat pusat hukum-hukum dasar dan kebijaksanaan Mee (misalnya, Daa, Dihodou). Selain tempat keramat, sugai dan gunung tersipan potensisi wisata; di kali menjadi tempat mandi, tempat cari berudu dan mencari kodok di malam hari, dan gunung-gunung Mapia yang masih alami bisa dibuat “Tempat menadaki gunung’.


Tidak hanya itu bahwa kebiasaan orang Mapia lainya yang menjadi potensi wisata, yaitu berkebun, beruru dan berjerat. Oleh karena itu, perlu dijaga kebiasaan itu dan dikhususkan temapt, agar dikunjungi dan dipelajari. Selain itu, koteka dan Moge, anggrek, noken juga harus dilindungi dan diprioritaskan. Bila perlu, di buat satu museum dan tempat khusus untuk pelatihan merajut; kesenian original Mee, Mapia. Singakatnya bahwa semua berpotensi wisata taradisional, yaitu emaa, ugaa, komauga, gowai, kitouge, kaido, odihaugaa,wainai, gaidai, begaiwa atau giduu, tudee, wohamapega, bisa disediakan tempat aktraksikan dan dijadikan sebagai satu vestfal bersama pesat-pesta adat yang ada, seperti dabeuwoduai (pesta berdamai anatara warga), huwonai (pesta potong babi, untuk membangun solidaritas, tapanai (peseta persaudaran biasa masak tikus dan babi dan makan bersama), onehai mogehai (acara atau ritual pernikahan), ekaa bagoetai (riatual atau puncak acara ritual pendewasaan laki-laki sejati Mee).
Selain itu burung cenderawasih, burung kasuari, mambruk, ayam hutan (burung maleo), tikus, kus-kus seperti oge-pihai (Kangguru) bisa merawat beresama hutan yang mendiaminya, dan menjadi tempat yang dikunjungi berjuta pengujung dari berbagai daerah di dunia. Rumah adat dan proses pembuatan berpotensi wisata.

Menurut penulis, semua kekayaan budaya dan alam yang dihidupi masyarakat Mee di Mapia adalah kekayaan yang amat mahal di dunia yang perlu dijaga dan diangkat semua nilai melalui pembanguan model wisata. Pembangunan model wisata ini berpotensi pembangunan bernuasan budaya dan wisata menjadi suatu pagar untuk melindungi alam, budaya dan manusia. Dengan melihat beberapa landasan dasar di atas, daerah mapia sendiri memiliki kiriteria yang amat signifikan untuk menjadikan tanah Mapia sendiri sebagai tempat wisata yang berpotensial di wilayan Mapia, Meepago pada khususnya dan di tanah Papua pada umumnya.


Penutup


Akhirnya, Saya secara pribadi (Penulis) menyimpulkannya bahwa pembangunan kontekstual di tanah Papua pada umumnya dan tanah Mapia pada khususnya amatlah penting. Karena, bagi penulis model pembangunan kontekstual sendiri memiliki potensi yang power (Kekuatan) untuk membebaskan manusia tota Mapiha pada khususnya di tanah Mapia dan tanah Papua pada umumnya. Singkatnya pembangunan kontekstual dengan mengandalkan kekuatan budaya adalah pintu masuk menuju revolusi (Perubahan) tanah Mapia dan orang Papua pada umumnya dari segala ketertinggalan.

*)Penulis adalah Mahasiswa dan Anggota Kebadabi Voice Group di STFT “Fajar Timur”, Abepura, Jayapura, Papua.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *