Foto: Doc/Ilustrasi Ist: Melanesian model in black blouse looking at camera

Oleh: Hendrik Christian Degei

Bayangmu, jika kau adalah semu. Mengapa kau terasa begitu nyata

Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Tanganku pun terasa kaku, hanya bertaut gelisah satu sama lain. Keringat dingin juga mengalir perlahan. Sebenarnya, ruangan ini bayangmu hanya terbawah-bawah oleh sepoi angin malam. Namun mungkin karena aku gugup, hal ini bisa saja terjadi.

Hari ini adalah hari pertama perban mataku dibuka setelah seminggu lalu aku operasi cangkok kornea mata. Wajar, jika aku tak bisa. Namun, ada rasa yang lebih besar dari rasa gugupku. Bahagia, aku akan segera melihat kembali dunia dan orang-orang yang ada di sampingku selama aku buta. Termasuk dia.

Tongkatku, dia adalah tongkat penyelamat kedua setelah Dini -sahabatku yang selalu sabar menemani ke mana pun aku pergi. Itu berlangsung hampir setahun ini. Dan dia adalah alasan, mengapa aku ingin melihat. Yaa, aku selalu membayangkan wajahnya dalam pandangan gelapku.

Aku selalu membayangkan senyum manisnya itu dalam benakku. Dan aku ingin merealisasikan itu semua. Alunan lirik cipta Jhon Tebai “bukan karena cinta lain, bukan karena sayang lain” dan suara merdu itu, selalu ada mengawali pagiku.

Martinus Edoway, laki-laki yang aku lupa bagaimana kami bisa bertemu. Sepertinya, ketika aku akan berangkat dari Pontianak ke Nabire menggunakan pesawat garuda Indonesia mengudara hingga transit Makassar-Ambon. Tiba-tiba dia datang tanpa merasa ragu menyapaku. Kemudian dengan akrab berbincang dengan sih dia yang selalu kubayang setiap hari.

Setelah itu, aku tidak tau bagaimana caranya, ia benar-benar menjadi bagian dalam hidupku. Warna dalam kegelapanku. Serta mata untuk duniaku.

“Yuk, kata Bendiktus Degei ada teman baru dekat komplek, bawa aku ke sana yok.”

“Boleh, pake Ojek saja gimana?” Tanyaku.

“Tenang, Aku bonceng kaka, dengan aman kok,” jawab Bendiktus.

Aku tersenyum.

“Aku percaya sama Bendi kok, Yo.”

Bendiktus memboncengku menggunakan roda dua “Jupiter” yang aku bingung ia dapatkan di mana. Ia selalu mendapatkannya secara instan.

Sore itu, aku benar-benar merasakan angin yang memasuki sela-sela rambutku. Menerpa lembut wajahku, dan rasanya beda. Mungkin sore ini sedikit mendung, karena aku tidak merasakan sengatan matahari barang sedikit.

Sesampainya di rumah, Bendi Degei menuntunku, kemudian bercerita tentang apa yang ada di sekitar sana. Aku tersenyum mendengar penuturannya. Dan untuk kesekian kalinya, aku benar-benar ingin mataku kembali. Bagaimana kalau hanya melukai hati, mataku dan hatiku sang pencipta ciptanya bukan untuk disakiti namun di jaga “saling melengkapi Kekurangan” sebagai pelengkap.

“Hen..”


“Yaa.”


“Kamu tahu alasan aku dari dulu tak pernah mau untuk operasi sekali pun ada orang yang ikhlas donorin kornea matanya buat aku? Apalagi Hen, hatinya pun sudah berdarah bekas lukanya, “Hen.. ”

“Tahu. Kamu takut. Dan kamu merasa benci terhadap dunia, karena pernah merenggut apa yang kamu punya.

“Sekali di racuni tetap selamanya. Hatiku langsung berdarah ketika aku mendengar dari kata Bendi.”

Aku terdiam. Seketika gambaran sebuah kecelakaan masa lalu terputar begitu saja di kepalaku. Kecelakaan kecil yang telah merusak kornea mataku. Dan Lukaku.

Ketakutan itu yang buat aku sampai sekarang, untuk menerima donoran kornea mata dari orang lain yang ingin membantu untuk dapat melihat kembali. Kemudian hatinya pun terluka dengan sih dia yang tadinya hanya terbayang-bayang di setiap malam.

Aku menarik nafasku, kemudian menghembuskannya begitu saja. Apa yang dikatakan Bendi benar. Trauma. Tapi, alasanku untuk berani. Dunia yang selalu ia ceritakan begitu indah, serta gambaran wajahnya yang selalu membuatku ingin merealisasikannya.

“Sekarang, aku mau melakukan pendonoran itu, Yu. Aku ingin melihat seseorang yang kini selalu ada di sampingku, dan menyampaikan apa yang selalu ia lihat untukku. Menjadi mata dari kegelapanku.”


“Benarkah? Apa orangtuamu sudah menemukan pendonor itu?” Tanyaku kepada Bendi dengan hari yang sedikit tenang.


Aku menggeleng. Sedikit sedih ketika itu.
“Tapi aku yakin, akan ada seseorang yang datang untuk memberikan kornea matanya untukku.” Hanya Do’a yang aku Percaya saat aku Komunikasi langsung, pada jam sama.
“Kamu harus jadi orang pertama yang aku lihat, ketika mataku kembali nanti.” Ujarku dengan begitu bahagia. Puji Tuhan. Bendi adalah salah satunya dari adik kandung yang selalu ada untuku. Demi, Bendi aku bisa terobati lukaku dan matanya sudah kembali baik.
Buka matamu perlahan, Dara. Hatinya sudah terobati di luar sana “ orang bagian selatan. Hatinya hancur berkeping-keping berantakan di bawah langit Mapia bagian selatan.
Cintaku butah Bayangmu Picah di hati..
Aku menangis histeris ketika itu. Rasa tak percaya akan apa yang dikatakan Bendi dia besar memenuhi otak dan hatiku. Jika memang dia itu picah di hati hanya imanjinasiku, kenapa bayangan itu terasa nyata? Tawa itu terasa hangat, dan sayang itu benar-benar ada?
Laki-laki itu menangis di balik tirai putih yang mengelilinginya. Suara itu, tangis kecewa itu, benar-benar menyayat hatinya.

Sesal. Ya, kenapa ia harus menyembunyikan dirinya dari gadis yang selama ini ia sukai. Dari gadis yang ia temui di dinding layar messeger layar selama tiga tahun yang lalu.
Gadis yang selalu mendengar oceh-ocehannya, gadis yang selalu menunggu kehadirannya, dan gadis yang aku sukai selama tiga tahun ini. Hanya butah Bayangmu, sirnah picah di jantungku.
Orang yang amat sangat ia ingin lihat. Dara pasti marah besar. Maka skenario manis namun menyakitkan itu terpaksa ia jalani demi Dara. Jika aku adalah mata untuk dunia gelapmu. Maka izinkan aku menjadi rasa bahagia dalam terangmu.
Catatan;
Bayangmu : Ibarat Angin yang hebus saat diatas motor
Picah di hatiku : Ibarat cinta sekedar hiburan untuk di patahkan demi meghilangnya hawa pada saat ambisius
Cinta Butah : Ibarat rusaknya operasi cangkok kornea mata.


Nabire, 26 Juni 2020
)*Anak Mudah Papua yang tinggal di Nabire

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *