Oleh: Yulianus Magai*)

Sudah terbukti bahwa banyak pihak tidak menyetujuinya dengan wacana pemekaran kabupaten Mapia raya. Ada beragam alasan yang disampaikan oleh banyak pihak, salah satunya ialah karena penduduknya masih belum cukup banyak untuk dijadikan sebagai suatu kabupaten, sebagai kabupaten induk dari kabupaten Dogiyai. Artinya bahwa hingga kini, Kabupaten Dogiyai masih dalam usia yang cukup muda, yakni 15 tahun. Tidak hanya itu bahwa ada beberapa alasan lainnya yang mendasari penolakan pembentukan Kabupeten Mapia Raya.

Apakah semua pihak sudah setuju?

Menurut saya masyarakat tota MAPIHA tidak setuju dengan pemekaran kabupaten Mapia raya, karena pemekaran kabupaten Mapia Raya menghadirkan dampak negatif bagi orang MAPIA yakni dengan masuknya budaya luar yang semakin tinggi ketanah Mapia, seperti narkoba, miras dan lain sebagainya. Maka secara otomati, orang Mapia akan kehilangan budaya yang dimilikinya, yakni bahasa dan lainya.

Ada Potensi Untuk Merusak Tatanan Kehidupan orang Mapia

Bagi saya (Penulis) luas wilayahnya tidak mencukupi untuk dimekarkan sebagai suatu kabupaten, yakni Kabupaten Mapia Raya. Karena, bagi saya Mapia adalah daerah yang di juluki dengan. Pengunungan dan perbukitan yang dihiasi dengan berbagai tanaman yang ditanami oleh penghuni MAPIA orang Mee. Artinya bahwa orang Mapia dengan dinamika kehidupan yakni berkebun yang notabenenya dapat menghasilkan makananan sehat dan bergizi bagi tubuh.


Penduduk Yang Masih Minim

Tanah Mapia sendiri memiliki 4 distrik, yakni Mapia Timur, terdiri dari 7 kampung, Distrik Mapia tengah sekita 7 kampung, Distrik Mapia Barat sekitar 7 kampung dan Distrik Piyaiye, juga terdiri dari 7 kampung. Dari deskripsi (Gambaran)
beberapa distrik dan kampung sudah menjadi jelas bahwa tanah Mapia sendiri masih belum bisa dijadikan sebagai suatu Kabupaten di Tanah Mapia.

Kesimpulan
Pemekaran kabupaten Mapia raya, akan menghadirkan dampak negatif bagi orang Mapia, alam dan seluruh kekayaanya yang terdapat di tanah Mapia. Oleh karena itu, Pemekaran mapia raya adalah Malapetaka dan sekaligus menghancurkan seluruh kekayaan yang ada di tanah Mapia. Singkanya, Pemekaran Mapia raya bukan solusi kesejahteraan bagi rakyat tota Mapiha. Satu solusi yang bisa diambil atau diperjuangkan oleh para intelektual Mapia adalah alangkah baiknya tanah Mapia bisa dijadikan sebagai tempat wisata Budaya, karena tanah Mapia sendiri budaya, alam dan kehidupan manusianya masih alami, orangnya hidup penuh ramah dan rendah hati. Stop Pemekaran.
Semoga!

*)Penulis adalah Seorang Pelajar pada SMK Negeri 3 Jayapura, Papua.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *