Oleh:Yames Makituma Pigai

Perjuangan demokratik merupakan bagian integral dari perjuangan kelas proletar. Tanpa adanya demokrasi, maka perjuangan kelas yang luas, bebas dan terbuka mustahil untuk dicapai. Tanpa adanya demokrasi, maka pendidikan, pelatihan dan pengorganisiran politik massa proletar mustahil untuk
dilakukan. Oleh karena itu, kaum proletar yang telah memiliki kesadaran kelas terus dituntut untuk berjuang demi mendapatkan kebebasan politik
yang sepenuhnya.

Perampasan hak­-hak demokratik proletariat dan peningkatan represi,dengan terang­terangan,
berulang kali dipertontonkan oleh penguasa borjuis. Penangkapan 26 pejuang buruh beberapa waktu lalu telah mengkonfirmasi hal ini. Begitu juga dengan dipenjarakannya kawan Hakam dan Agus dari FSPBI­KASBI Gresik dengan tuduhan yang dibuat­buat. Berbagai kegiatan yang diorganisir oleh aktivis pergerakan diintimidasi dan dibubarkan. Aktivis Papua ditangkapi.

Buku-­buku Kiri diberangus dan pemerintah menebarkan paranoia “bahaya laten” komunisme.Perjuangan demokratik kelas proletar harus memiliki platform yang jelas dan tidak berkarakter
kompromis. Elemen­elemen lain juga berjuang untuk tujuan ini, tapi, sebagian besar dari mereka, yang disokong oleh LSM­LSM dan NGO­NGO, sangat jelas, memiliki karakter yang
reformis. Perjuangan demokratik mereka tidak berperspektif revolusi. Mereka cukup puas hanya dengan konsesi­konsesi semu dan kebaikan pura­pura dari penguasa borjuis.

Penguasa borjuis, memang, tidak selalu menampakkan wajah buas dan menindas. Bahkan mereka sering kali menampilkan paras innocent. Sepertinya mereka paham, tentunya secara tidak langsung, apa yang pernah diusulkan oleh Machiavelli tentang bagaimana cara mengelabui rakyat kelas bawah. Bagi Machiavelli berpura­pura menjadi orang saleh adalah hal yang baik
agar massa [rakyat kelas bawah] tetap bahagia.“Kebaikan” dari penguasa borjuis, jika itu terjadi, hanya bersifat sementara. Itu sebentuk ilusi untuk menenangkan gejolak massa yang paling revolusioner, yaitu proletariat. Oleh sebab itu,
bagi proletariat yang sadar, perjuangan demokratik bukanlah tujuan utama dan satu­satunya.

Mengenai hal ini Lenin telah memberikan suatu perspektif yang revolusioner, bahwa perjuangan kelas proletar untuk kebebasan politik tidak akan berhenti pada revolusi demokratik, tetapi terus
bergerak ke revolusi sosialis. Penegasan dari Lenin ini sungguh tepat, sebab, masih menurut Lenin, demokrasi di bawah sistem kapitalisme adalah sebuah utopia. Kenapa Lenin menyebutnya sebagai utopia, lengkapnya unrealistic utopia (utopia yang tidak realistik)? Ya,
bagi Lenin, negara borjuis, sudah barang tentu, hanya akan membela kepentingan pemilik modal

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *