Asrama Kasih Hagar Jayapura

Oleh: Yulianus Magai*)

Gunung Cyclop mulai menetupi awan hitam, burung cendrawasih ikut bernyanyi, sejagat alam raya mulia senyum bersuka ria, dan dedauna mulai menari-nari menyambut fajat yang sedang menyingsing dari ufuk timur di pagi hari yang indah itu. Walau begitu, tidak lama kemudian awan itu berubah menjadi ranting-ranting hujan, hujan itu ditemani dengan kabut tebal. Di atas gunung Cyclop hujan itu membasahi bibir danau Sentani.

Di akhir tahun 2019 yang lalu, Papua dalam duka, saat itu saat-saat bara rasisme di Papua di rasis oleh penguasa yang terjadi di sekitar kota Malang dan Surabaya. Dari sana, Kami Orang Asli Papua (Selanjutnya baca Orang Papua) dianggap sebagai binatang seperti Monyet, Kera dan bahkan dianggap sebagai sampah dan bukan sebagai manusia utuh ciptaan Allah yang berasal dari bangsa Papua di tanah Papua. 

Di dalam keadaan yang demikiaan, situasi di tanah Papua di saat itu penguasa memang benar-benar menguasai Papua, Jayapura pada 13/Oktober/2019 lalu, ranting-ranting  pohon cemara berjatuhan di atas asrama Nabire Kamkaey, tepat lurus pada kamar 11, hujan dan angin yang sangat kencang menghantam pohon susu  yang ada di halaman asrama Nabire Kamkey. Juga buah nangka yang ada di dalam halaman asrama pun ia menghabisinya. Derasnya hujan dan angin itu ditunjukkanya pada saat itu. Aku terkesima.

Semua pelajar dan mahasiswa asal Papua yang berpendidikan di luar Papua dan Papua semua nya pada  pada pulang lebih khusus nya mahasiswa yang tinggal di asrama Nabire Kamkey di Jayapura. Asrama sungguh sepih, Air di kamar mandi benar-benar kosong, kami buang air pun tak di asrama. Intinya bahwa aku dan semua kerabatku di asrama itu mengalami ketidaknyamanan pada kala itu.

Di setiap pagi beberapa Brimob berjalan kaki  berbondong-bondong di depan asrama ku mereka dengan mengunakan pakaian Brimob dan senjata milik negara lengkap. Kami di asrama beberapa saja, yang lebih jelas saya dengan Kaka Otovianus Petege, kaka tingkat-ku  (Seorang Pelajar di SMK Negeri 3 Jayapura). Saya dengan Kaka Otovianus Petege,  kami dua duduk bercanda-tawah dengan merasakan pahitnya kehidupan sehari-hari saat itu  di kamar 11 asrama Nabire Kamkey, Kala itu hujan sangat deras.

Kaka tingkatku mengatakan, Adik, kalau kita tetap begitu, tidak asik. Lebih baik kita beli es, baru minum itu lebih asik adik ku.”

“Ia Kakaku, kita beli sudah.” Kataku. Kemudian, Kaka-ku mengeluarkan RP 50.000, 00, Aku siap untuk pergi beli, namun kami tidak sempat putar es tersebut, karena Kaka Okto  Petenge dipanggil untuk mendatangi  di asrama Kasih Hagar.

Kemudian Aku juga turun dari kamar 11  ke- kamar 4, beberapa jam berlalu sekitar jam 22.00 WIT pada malam itu. Aku pun diminta untuk telepon, maka saya pun mulai telepon dengan orang yang dimintanya, sampai Jam (12-30), suara teriakan minta tolong terdengar di telingaku, hp yang saya sedang teleponan aku isi tanpa di tutup telepon itu, aku keluar dari kamar 4 lantai menuju lantai 1.

Api sudah menguasai lantai atas asrama Nabire Kamkey, Api itu sangat kencang sekali, ku pandang ke arah kamar 11, di depan kamar 11 ada beberapa Kaka-Kakaku yang mencoba untuk mematikan apinya, namun tidak sempat di padamkan api itu sangat kencang sekali. Akhirnya, terjadi kebakaran, ASRAMA Nabire Kamkey, kerena konsletin listrik di kamar 12 lantai dua, asrama pun hangus habis termasuk barang barang yang ada di kamar-kamar. Kamar 11 sampai 18. Barang”nya pun habis di antaranya, seperti computer, izajah, pakaian kampus dan banyak barang lainnya,

Sementara Asrama Nabire terbakar, aku pun ambil untuk menelpon Kaka Otopianus Petege yang tadinya kami dua duduk sama-sama di Kamar 11 Kamar yang sudah hangus terbakar. Aku pun mulai ambil hp dari noken ku, hp ku masih belum mati telepon yang tadinya aku telepon itu. Aku pun mulai menelpon Kakaku Otopianus Petege. Kaka tingkatku di SMK negeri 3 Jayapura, Papua. Beberapa kaliku telepon Kakaku tidak angkat teleponku, aku tahu dia sedang tidur.

Sekitar 3 kali aku telepon, tetapi ia tidak mengangkat teleponku. Ia mengangkat teleponku pada keempat kalinya barulah ia mengangkat teleponku dan aku mulai berbicara denganya, “Kakaku istana kita sudah hangus terbakar” kata ku. Ia menjawab nya bukan menjawab, tetapi ia juga memberikan pertanyaan, siapa yang melakukan nya. Aku pun tak jawab apa-apa dan aku mulai mematikan telepon itu. Pagi itu yang pertama datang adalah beberapa Brimob yang senjatanya dan pakaiannya lengkap sekali ibarat kan mereka ke tempat perang.

Penutup

Kalau Kaka Otopianus Petege, Kaka tingkatku tidak dipanggil untuk mendatangi ke asrama Kasih Hagar, pasti saja kami akan putar es  dan jam-jam (12-30) setengah satu itu pasti kami dua tidur sono apa lagi hujan deras itu paling sono pasti tidak ada yang kasih bangun, sehingga kami dua juga ikut terbakar dengan asrama Nabire Kamkey, Tetapi mukjizat itu nyata dan rencana Tuhan lain, sehingga kami selamat dari peristiwa yang telah terjadi.

*)Penulis adalah Seorang Pelajar pada SMK 3 Negeri, Jayapura, Papua.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *