Ist

Oleh: Yulianus Magai*)

Setiap kehidupan manusia pasti akan ada ceritanya. Cerita itu akan diceritakan di mana kita duduk pada saat-saat tertentu. Artinya dalam suatu diskusi atau di tempat pertemuan, Lebih baik cerita itu diceritakan melalui tulisan, sehingga banyak orang yang dapat membaca dan menganalnya melalui karya-karya. Berikut ini adalah sebuah pengalaman yang ingin saya ceritakan kepada semua orang. Karena, bagi penulis hidup adalah cerita. Cerita adalah sahabat mansia.

Pagi itu badanku gelisah benar, benar gelisah, sangat gelisah, aku mulai bangun dari tidurku dan aku mulai keluar dari kamar ku di rumah milik pamanku. Rumah itu bertembok dengan batu batak yang berdiri Gaga mengurungi ku, rumah itu juga berdaun seng biru (Daun seng berfungsi untuk melindungi penghuni rumah itu. Aku Pelan-pelan membuka pintu kamarku, pintu yang dibuat dari kayu yang berwarna ke-coklatan, pintu kamarku sudah terbuka, aku pun melangkah 1 langkah keluar, aku mulai melangkah ke kamar tamu,

Di kamar tamu Ibundaku bersibuk dengan adik-adikku yang masih kecil, sedangkan Andi Kegiye putra tunggal yang berasal dari Mapia barat (Abouyaga,) Andi juga sedang menimba ilmu di Universitas Cenderawasih Jayapura Papua, sedang duduk bersandar di tembok semen membelakangi kamarku

Yuli Gobay duduk di depan pintu rumah, mangkok hijau di depan nya yang berisi minuman ABC Mocca, sementara Aku sendiri duduk di samping andi, kelihatannya Andi sedang menceritakan tentang apa yang semalam terjadi di dalam dunia mimpinya.  Setelah selesai ceritanya.

Aku mulai menanyakan kepada Ibundaku  yang sedang sibuk dengan adik adikku berkata, “ibu semalam di dunia mimpi ibu, ibu mimpi apa?”

Ibu menjawab dengan nada relah, “semalam aku belum tidur adik-mu Ina sakit sedangkan Viki tidak bisa tidur  dan adik-mu yang kemarin baru lahir itu juga menangis, makanya ibu tidak bermimpi apa apa.”

Kelihatannya ibuku sedang siap untuk ke rumah sakit ambil obat untuk adik ku yang se mala sakit itu. Ina adik ku yang tadinya berbaring di samping ibuku ibu kasih bangun dan mereka mulai jalan. Mereka pun mulai jalan keluar, Ina di atas bahu ibunda ku , sedangkan adik ku yang baru lahir gendong di depan-nya. Kami yang lain-nya mulai jalan ke hutan untuk membuat kebun. Yuli Gobay, Andi kegiye dan Anis adikku mereka naik ke hutan sedangkan aku menyiapkan makanan di rumah.

Pagi itu tak seindah biasanya, situasi seperti di kampung halamanku Mapia, matahari mulai terbit dari arah timur. Matahari datang itu untuk menerangi alam Papua khususnya di Holandia yang membelakangi Papua New Guinea (PNG), Jam di hp Android milik ku sudah pukul 09,00. Adik lelaki datang dari arah hutan, ia sudah terkenal tanah-tanah merah

“Kamu dari mana sampai terkena tanah merah?” kataku.

Katanya, “sejak tadi Kaka Andi kegiye putra tunggal yang berasal dari Mapia barat dan ia menimba ilmu pada Universitas Cenderawasih Papua, Dan Kaka Yuli Gobay yang sedang menimbah ilmu di sekolah SMK Negeri 3 Jayapura.”

“Sejak tadi mereka kerja di kebun yang kalian biasa kerja itu,” susul adik ku  yang sudah terkenah tanah merah itu.

“Oh ia, ayo kita jalan naik menuju ke di mana mereka ada kerja,” ajakku.

“Ia Kaka tunggu saya ambil es batu dan tempatnya, di tempat kerja, matahari sangat membakar kulit.”

Setelah ia ambil saya pegan es batu sedangkan adik ku pegan perlengkapan lainnya, kami melanjutkan perjalanan menuju ke tempat kerja.di tempat kerja, Sungguh luar biasa apa yang mereka kerjakan,  Adik ku mulai sibuk dengan siapkan minuman, Sedangkan saya, memegang sebuah alat kerja, 

“Eee yulen kamu kerja di tengah,” ujar kaka Yuli Gobay, 

Setelah mendengar kata itu, Saya siap kerja di tengah, sedangkan Andi sudah siap di sampai jalan, dan Kaka Yuli gobay sudah siap di sampai kanan ku. Kami mulai kerja, kerja dan kerja, Saat kami kerja di tengah kebun ada sebuah pohon yang berdiri tanpa ranting, di pohon itu ada sebuah hp android milik kakaku ada bunyi lagu PGN berganti ganti, Adikku yang tadinya kami dua baik sama-sama ia turun ambil makanan di rumah selagi kami tunggu makanan. Kaka Andi Kegiye menentukan batas kerja hati itu, (Terget) Aku mulai duduk dibawah pohon Otika sambil memegang sebuah Buku Karya anak Papua, Topilus B Tebai, setelah saya membuka beberapa halaman, diam sejenak.

“Sungguh, matahari itu benar-benar membakar kulit,” kata kk Andi Gobai.

Kami pun istrahathari semakin malam sekitar pukul 18.00 pulang ke rumah.

*)Penulis adalah Pelajar pada SMK Negeri 3 di Jayapura, Papua.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *