Jalan Trans Mapia

Oleh: Paulus Butu*)

Manusia yang unik telah bertempat di atas tanah yang unik, selama sekian ratusan tahun, hingga kini. Dari generasi kegenerasi oleh hukum alam telah dialami, tetapi yang saya (Penulis) maksudkan, ialah bahwa yang unik itu sendiri masih terus melekat, meskipun sedikit darinya gugur oleh ancam keras perkembangan global. Maksudnya, ialah gugur adalah kebiasaan-kebiasaan dasyat yang dimiliki oleh moyang, buyut dan cilawagi. Misalnya “Adagoonaha, Duwaikomauga, Kamutaii, dan lain-lainnya“.

Manusia adalah mahluk yang paling mulia. Karena, manusia adalah mahluk yang dapat berfikir. Tidak hanya itu bahwa manusia adalah mahluk yang memiliki tiga (3) dimensi (badan, akal, danroh). Inilah tiga keunggulan yang hanya dimiliki oleh manusia. Dalam konteks pemahaman inilah bahwa manusia tota Mapiha adalah manusia yang unik, karena manusia tota Mapiha sendiri memiliki tiga dimensi, yakni badan, akal dan roh. Selain itu, manusia totaa Mapiha adalah manusia yang ramah dan rendah hati.

Dalam hubungannya dengan manusia tota Mapiha, tanah Mapia bagi seluruh kehidupan manusia, adalah suatu harta benda dan kekayaan yang amat berharga dan bernilai bagimanusia tota Mapiha di dalam menjalani seluruh kehidupan manusia. Oleh karena itu, Tanah merupakan suatu benda yang sangat Vital (Hidup). Artinya bahwa dengan mengolah tanah, manusia dapat memperoleh kehidupan. Mengolah tanah untuk hiidup dan bukan menghilangkan atau menyesatkan kehidupan manusia.

Dalam konteks inilah saya (Penulis) secara pribadi merasa kecewa terhadap para Intelektual Mapia yang sedang memperjuangkan Pemekaran Kabupaten Mapia Raya di tanah Mapia. Karena bagi penulis, pemekaran Kabupaten Mapia Raya adalah langkah awal mencelakakan manusia tota Mapiha yang notabenenya hidup dengan penuh ramah dan rendah hati. Selain itu, Penulis merasa juga bahwa Pemekaran Kabupaten Mapia Raya juga adalah langkah awal menghancurkan tanah Mapia yang adalah satu harta dan kekayaan yang amat berharga dan berinilai bagi seluruh kehidupan manusia di tanah Mapia.

*)Penulisa dalah seorang Anak Muda asal Degeuwo, Papua.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *