Oleh: Boma Wihaipai

Salah satu orang tua marganya Tebai dari Timepa Botou pada tahun 1978/1979, dia membungkus kaset Mambesak dengan plastik hitam.Tentunya, kaset Mambesak itu mengisahkan lagu-lagu perjuangan Papua Barat.Kelompok yang merekam kaset Mambesak yakni orang -orang Papua sendiri,yang dipimpin oleh Sang budayawan Alm, Tuan Alnor Clemen Ap. Upaya ini dibuat untuk membebaskan Rakyat Bangsa Papua Barat oleh kelompok Aktivis pejuang pembebasan Papua Barat dari segala bentuk tindakan penindasan Republik Kolonial Indonesia.

Untuk membebasakan rakyat Papu lagunya disusun berdasarkan berbagai bahasa yang ada di Papua. Lagu-lagu tersebut kemudian tersebar di seluruh Tanah Papua,Bahkan di luar Negeri.Ketika itulah Anakletus Tebai pun pernah mendapat satu buah kaset. anakletus Tebai pun merasa senang ketika itu. Tetapi disini lain dia merasa ketakutan dengan kehadiran TNI /polri, yang selalu saja melaukan tindakan kekerasan tidak profesional terhadap Rakyat Bangsa Papua Barat.Maka sebuah kaset itu ia menyimpan dibahwa tungku api, persis di rumahnya sendiri.

Hal demikian dia buat karena takut diketahui oleh TNI dan Polri.Dia Tebai menyatakan,Meman saat itu pemerintah melarang keras untuk putar lagu Mambesak.Ini buat saya tidak hanya takut, tetapi bingun, resah dan merasa nyawa terancam.Bahkan saat itupun pemerintah melakukan tindakan kekerasan kalau ada orang.Papua yang memutar lagu Mambesak itu. Maka untuk menghindari tindakan kekerasan pemerintah dalam hal TNI dan Polri dan untuk menembunyikan kasetnya, Tebai memadamkan api pada siang hari,” Kata dia campur Ayahnya.

Lalu, dia buat kolam kecil ditengah tungku api dengan maksud supaya tidak diketahui oleh Negara Kolonial.Pada hal orang Papua tidak buat kriminal.Mereka hanya mengunkapkan kekhasan Papua lewat mambesak.Hal inilah merupakan salah satu lagu kebanggaan buat Semua orang Papua. Dan kini kami melihat Mambesak sebagai lagu favoritnya orang Papua.Bahkan kami ingin mendengarkan agar Mambesak dapat diakui oleh Pemerintah luar Negeri.

Saya secara pribadi sangat salut sekali buat Tebaibo dari Botou di Timepa, yang ada berjiwa seperti demikian, Walaupun ia tidak pernah pantau situasi Politik Papua Barat di dalam Negeri maupun luar Negeri hanya kenal nama Papua Barat saja. Namun kini saya melihat secara fakta bahwa orang Papua yang tahu situasi politik terkadang bergabung dengan organisasi Bin, Bais, BMP, yang mengarah pada melawan organisasi kemanusian, menjual orang Papua, jual tanah, dan jual segala hasil kekayaan alam yang bagaikan surga kecil yang turung dari surga, yang ada di atas Tanah) Papua ini

Pada tahun 1969,Tebaibo sebagai pelaku sejarah penentuan pendapat rakyat Papua alias ( PEPERA) yang terjadi di Moanemani sekarang di sebuat ibu kota Kabupaten Dogiyai. Saat itu masyarakat Kabupaten Dogiyai melawan Tentara Belanda dengan senjata tradisional yaitu Ukaa dan Mapega. Saya sangat bangga orang Tua saya karena mereka mampu menyalahkan pasukan Belanda itu meskipun dengan senjata Tradisional.

Kini saya melihat semaking pudar cultur kami. Padahal budaya sebagai identitas orang Papua pada umumnya di Kabupaten Dogiyai dan pada khususnya.Kelunturan nilai nilai budaya ini terjadi karena masuknua pengaruh budaya dari luar.Orang luar dengan Budayanya telah mempengaruhi budaya Papua yang sebenarnya sehingga orang Papua tidak bisa bersaing dengan budaya-budaya grobal.

Saya pikir Pemerintah NKRI dan Belanda segera luruskan sejarah Integrasi Papua. Jika tidak? pemerintah tidak akan pernah menyelesaikan Komflik Papua

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *