Oleh: Gimnasus Gobai

Berdasarkan hitungnya Allah sendiri. Dari ribuan tahun, sekian puluh-hingga saat ini, manusia harus hidup diatas permukaan tanah dan berkembang banyak cucunya bagaikan pasir di laut. Namun di era globalisasi Kehidupan di bawah permukaan sangat membumi hanguskan oleh dampak terpengaruh elektronik modern dunia yang ke delapan, yaitu: Penguasa dunia nomor ke delapan tiongkok yang di sebut Negara komunis.

Menurut lawan Allah’ filsafat. Perkembangan dunia adalah sumbangan dari dunia psikiatri pada ekplorasi gejala-gejala patologis kejiwaan dan pengayaan metodologi terutama dengan terkait perubahan hidup saat ini ke arah filsafat hingga modern tak pada kehidupan ini memang di nyatakan tua dunianya namun di pandang seseorang dunia tak akan di akhir zaman. Bumi saat ini, para Penguasa dunia mampu menciptakan dunia news hingga pencipta langit dan bumi Allah sedang mempermainkan di dalam hukum filsafat sebagai tontotan benar-benar ada, sebelum Allah menciptakan Langit dan Bumi.

Bumi memang sudah di akhir-kiamat. Di perbukitan tinggi, sungai, daratan hampir merata di mata sang pemilik penah. Bumi ini diciptakan Tuhan dan telah diwariskan dari nenek moyang kita dalam keadaan yang sangat indah berkualitas dan seimbang merata baik di daratan, laut bahkan bintang di langit serta segala isinya.

Menurut pemilik penah: sebagai warga dunia yang tindas, jangan kita harus peka atas permasalahan di balik bumi. Setiap Negara, harus punya “Hak” untuk menentukan nasib baik individu, kelompok, dan bangsa secara nyata di dalam kehidupan sehari-hari. Hidup ini hanya sementara, jika kita sengaja melakukan hal fitah? Jangan heran. Karena sebentar lagi jiwa mautnya di panggil oleh tanah dan nafas terakhir milik sang pencipta anuugrah Tuhan sendiri.

Hidup hanya sekali, mati pun sekali adalah kata-kata hikmah kehidupan. Karena di zaman ini adalah penguat elektronik bermanfaat timbul perkara besar menjadi perkara sederhana di mata kita dan di mata ke arah global.

Sekarang, kejora sang bintang kejora di Negeri cendrawasi adalah bintang impian semua makhluk hidup yang ada di Negeri ini. Dengan tujuan hak menentukan nasib sendiri dari klonial yang di tindas. Mulai dari Samarai sampe Merauke, bahkan alam Papua sekalipun. Bumi cendrawasi merupakan sang kejora terindah dengan lambang yang penuh makmur . Kekayaan sumber daya alam pun menguras habis untuk melengkapi kesempurnaannya oleh negara-negara yang masuk rampas di atas Negeri Papua. Freeport Timika, gunung tinggi menjulang , saat ini para klonial mencuri emas dan Minyak biru membentang bagian Sorong Papua Barat.

Hingga saat ini bumi semakin tua, para penjajahan dunia hampir masuk final “Perang” dunia ketiga. Demi harga diri rakyat berkulit hitam, do’a hati kecil demi keadilannya. Para pemilik penah bukti kisah nyata dari kejahatan berhati panas.
Semuanya terasa di tindas demi dilengkapi dengan kesejahteraan seluruh umat manusia yang hidup di atas tanah penindasan. Kehidupan ini, rakyat berkulit hitam rambut kritin masih pada kemiskinan, ada pengangguran, ada kriminal dan semuanya hidup menderita kejam di atas Negeri nya sendiri. Begitu juga dengan alam Papua dan kekayaan, kehidupan di bawah bumi cendrawasi semua rakyat sengsara dan tumbuh dengan riang di tangan pemilik penah tanpa kekurangan sedikitpun. Ini semua karena kekerasan dan kebinasaan dari penguasa dunia dengan mengkunakan senjata milik Negara.

Hanya karena, kehidupan rakyat Papua di bawah bumi adalah kehidupan secara kasih sayang, penuh ramah terhadap siapa saja datang untuk numpang di Papua. Kehidupan bukan kehidupan namanya jika yang kita dapatkan hanya kesempurnaan belaka, tanpa pengorbanan. Di balik kesempurnaan kehidupan yang diberikan kepada kami, ada beberapa kebijakan yang sama sekali tak boleh kami langgar. Kebijakan-kebijakan ini tidak sesulit dan seaneh yang akan kalian kira, ini bahkan jauh lebih mudah.

Paling penting bagi kehidupan sekarang. Seluruh warga Negara raya dilarang keras, namun dari negara merusak segala kekayaan alam Papua yang ada di bumi cendrawasi ini. Untuk menghilangkan sikap kebinatangan dari Negara, diharuskan menggali minimal 95℅ di Freeport dan 5℅ di Sorong lalu mengubur hasil curian itu di Negara-negara Klonial.

Klonial berhati panas rupah domba itu, semenjak munculnya keberadaan makhluk ini di seluruh bagian di bumi, kehidupan perlahan-lahan menuju ke sebuah titik kehancuran. Ternyata, makhluk ini memiliki sifat yang tidak baik dan suka menghasut manusia untuk melanggar kebijakan-kebijakan di forum. Awalnya, tidak ada satupun manusia yang mau mendengarkannya. Dia malah dianggap sebagai makhluk yang tidak waras yang mengancam keberadaan kaum manusia. Namun, seiring berjalannya waktu, sang iblis semakin gencar menggoda manusia. Ia selalu punya cara agar manusia bisa melakukan kejahatan terhadap makluk pada lain nya.

Akhirnya satu per satu manusia di Bumi dapat dipengaruhinya. Iblis pun menyeringai senang, karena perlahan tapi pasti bumi akan kehilangan pesonanya akibat perbuatan manusia sendiri hingga Papua makan Papua juga, hanya karena sekelompok semata-mata.

Seketika langit bertambah gelap. Dan, bumi akhir-kiamat. Manusia dan kekayaan satu per satu kuras hingga menghilang. Semua manusia bergidik Negeri melihatnya. Dalam hitungan detik, bumi telah menjadi gumpalan bola panas yang redup, tanpa cahaya matahari penuh. Bakteri patogen dan virus wabah dimana mana. Sungguh pemandangan yang menyakitkan mata. Beginilah keadaan bumi, manusia dan berdarah hingga di tangan pemilik penah.

Namun pemilik penah juga akan berbaik hati. Karena ini tidak sepenuhnya kesalahan manusia, maka penulis-penulis penah miliki penuh dengan darah di tinta cakarnya tidak akan membiarkan kaum manusia merasakan penindasan oleh klonial. Manusia hanya akan mati dikarenakan wabah penyakit yang menggerogoti tubuhnya, dan jasadnya akan dibiarkan tetap ditempatnya. Sedangkan balasan atas perilaku klonial, penulis penah selalu ujar segera membinasakan kaum penindasan dari alat milik Negara ini hingga hilang tanpa bekas. Tak ada perlawanan dari sang klonial karena sesungguhnya tujuannya telah tercapai.

Begitulah kisah memilukan itu terjadi di bumi cendrawasi di akhir-akhir kiamat. Sebuah kesalahan klonial yang mengantarkan hidup kami menjadi seperti ini, sebelum Rakyat berkulit hitam rambut kritin menentukan nasib sendiri.

Semuanya tolong perhatikan ! Sebentar lagi kita akan terbebas dari kehidupan seperti ini ! kita akan kembali ke bumi kita yang hijau dengan segala eksotismenya ! jadi untuk itu aku mohon semuanya bekerja sama. Kalian harus membantu kami !! “ kata Frank dalam bahasa Indonesia

Penulis adalah: Anak Mudah Papua yang Tinggal di Nabire

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *