Oleh: Michael Edowai)*

Sejak dahulu hingga kini, kehidupan masyarakat Mapia hidupnya sangat bergantung pada tradisi budaya yakni, memelihara ternak dan juga bergantung hidup pada hasil kebun, sepertinya menanam keladi dan umbi-umbian, kacang, kopi, sayur-sayuran yang kemuadian mata pencaharianya tetap dalam menjalakan roda kehidupannya.
Kehidupan Masyarakat Dogiyai Pada Zaman Dahulu.

Masyarakat Mee asal Dogiyai 90% yang ekonominya lemah bahkan penghasilan perbulan tidak tetap maka kehidupanya pun mengutakan pada tradisi budaya turu temurun dari moyangnya yakni berkebun dan memelihara ternak. Berkubun untuk memenuhi kebutuhan hidup .masyarakat. Beragam jenis tanaman yang ditanami dalam kebun, diantaranya seperti, Kopi, Kacang tanah, bawang, kol, umbi umbian dan berbagai tanaman lainnya. Namun, hasil kebun dikelolah kemudian dibagi menjadi dua bagian, yakni sebagaian makan namun sebagian jual karena salah satu mata pencarian dalam kehidupannya mereka adalah hasil kebun.

Disampin itu, masyarakat juga memelihara ternak, babi, ayam, kelinci yang juga memenuhi dapat memenuhi kebutuhan dalam keluarga terutama biaya pendidikan ketika anaknya bersekolah. Salah satu keringat atau hasil kebun adalah “Kopi Moanemani yang kini terkenal dibelahan dunia” dan mengharumkan nama Kabupaten Dogiyai di depan mata publik. “Hasil kebun dan hasil memelihara sebagai mata pencaharian hidup orang Mapia pada umumnya. Sebagai hasil dari jeripayahnya, mreka menghasilkan banyak sarjana dari hasil kebun yang terbagi kerjanya dibelahan dunia”.

Sejak lahirnya kabupaten Dogiyai pada tahun 2008 banyak pula budaya illegal yang masuk menutupi ruang gerak budaya yang sebenarnya sehingga sampai saat yang ada ini kebanyakan masyarakat yang sudah lupa dengan budaya berkebun dan memelihara dalam artian bahwa sudah mulai berkuran 70% masyarakat yang sudah tidak berkebun dan memelihara demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Biaya pendidikan maupun biaya kebutuhan lainya pada zaman dulu hasil dari kebun dan hasil memelihara maka banyak sarjana yang berhasil namun pada massa kini dari hasil Togel dan dana desa. Inilah dinamika kehidupan orang Mee, khususnya di Dogiyai dan Mapia yang sudah dan sedang terjadi di tanah Dogiyai dan Mapia.

Dampak Negatif Pemekaran Dogiyai.

Kabupaten Dogiyai adalah sebuah kabupaten di Provinsi Papua, Indonesia. Wilayah kabupaten ini dulu tercakap dalam kabupaten Nabire. Pusat pemerintahan Kabupaten Dogiyai secara definitif berada di Kigamana, Distrik Kamu. Jumlah penduduk Kabupaten ini berkisar 96.590 jiwa (2008). Kabupaten ini dibentuk pada tanggal 4 Januari 2008 berdasarkan Undang – Undang Nomor 8 Tahun 2008, bersama-sama dengan pembentukan 5 kabupaten lainnya di Papua. Peresmian dilakukan oleh Menteri Dalam Negri (MENDAGRI) Mardiyanto pada tanggal 20 Juni 2008 di Nabire.
Sejak terbentuknya kabupaten Dogiyai pada tahun 2008, namun hadir pula budaya luar secara illegal di Dogiyai. Budaya global yang masuk secara illegal ini juga daya tarik mempengaruhi masyarakat dengan cepat tanpa makan bulan. Budaya global yang kenal yang ada di depan mata kita yakni Togel, Dadu, Judi, Miras, Pinang dan berbagai budaya global lainnya. Salah satu budaya ilegel yang kemudian memusnakan Orang Asli Papua pada khususnya orang Dogiyai adalah makanan inpor dari luar sepertinya ayam kulkas, beras, tahu, tempe dan berbagai makanan lain yang telah polmalin dan juga sudah kadaluarsa yang dipasarkan oleh pedagang kepada masyarakat asli.
”Kita pun perlu melihat kembali kehadiran kabuputen secara Positif dan Negatif”.Kehadiran kabupaten membawah kehacuran bagi masyarakat setempat. Namun kebanyakan pejabat yang menilai sisi negatifnya yakni uang dan jabata. Sebernarnaya pemekaran membawah kehancuran. Karena, sebelum tahun 2008 silam masyarakat Dogiyai bergantung hidup pada budaya berkebun dan budaya memelihara sabagai mata pencari dalam menjalankan kehidupan sehari harinya dengan baik. Hidupnya aman dan nyaman.

Bagimana Ketika Kabupaten Mapia Raya Di Mekarkan.

Dengan hadirnya pemerekaran Dogiyai kebanyak masyarakat Mapia yang tidak beta tinggal di kampung guna melestarikan tradisi budaya turun terumun dari moyang yakni budaya berkebun dan memelihara. Kebanyakan masayarakat Mapia tinggal di Moanemani di mana ibu kota kabupubaten Dogiyai hanya untuk main togel akhir mereka juga dengan sendiri lupa anak istri, kampung halaman dan budaya.

Pada siang hari masayarakat berbondong bondong dengan komunitas di emperen kios maupun di bibir jalan trans Nabire-Ilaga hanya untuk berdiskusi rumus togel seakan orang berdiskusi hal yang penting.”Terkait berhitung rumus togel masyarakat lebih pintar dibanding orang berpendidikan”. “Melihat dari pengalaman diatas maka tim kerja pembentukan Mapia Raya Jika sayang Alam sama masyarakat perlu berpikir yang baik sebelum terlanjur di mekarkan kabupaten Mapia Raya”

)*Penulis adalah Putra Papua, Asal Suku Mee, Wilayah Mapia yang sedang Menuntut Ilmu di UNCEN Jayapura, Papua.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *