Oleh: Benyamin Magay

Otonomi khusus (Otsus) ditetapkan sejak tahun 2002, dengan harapan meredam problematikan vertical dan horizontal yang terjadi di Papua. Problem Vertikal yang dimaksud adalah persoalan yang dapat terjadi antara pihak pemerintah atau pihak swasta terhadap rakyat sipil Papua, dengan alasan seluruh aspek kehidupan. Sedangkan Problem Horizontal yang dimaksud adalah personal antara para pemimpin atau para rakyat sipil Papua dengan berbagai aspek persoalan. Maka pihak pemerintah pusat memberikan otsus sebagai obat penenang problematika vertical dan horizontal.

Namun solusi atau obat yang ditawarkan malah menghasilkan beribu problematika yang pada akhirnya mengganggu traumatis psikologis berkepanjangan terhadap orang asli Papua (OAP) di bumi Papua.

Mengapa terjadi traumatis psikologis berkelanjutan terjadi terhadap OAP? Tentu traumatis dapat terjadi dengan adanya berbagi sebab dan akibat. Adapun sebab dan akibat yang menyebabkan traumatis pisikologi OAP adalah, dengan adanya Otsus 2002-2021 telah menciptakan berbagi konflik vertical dan horizontal yang memuncak pada kematian karakter, pisikologi bahkan jatuh mati berbagai nyawa OAP yang tak bersalah. Misalnya, akibat pesta Demokrasi, atau kebijakan Pemerintah Daerah mengelola dana Otsus, memicu konflik hingga berujung pada kematian OAP sipil yang tak bersalah.
Bila ditelusuri ternyata siapa yang disalahkan dan siap yang dapat memperbaiki.

OAP telah terauma dengan Otsus, karena sebelum otsus maupun setelah otsus ternyata hidup OAP masih saja berada dalam konflik yang membuat berkepanjangan teraumatis psikologi OAP.

Akibatnya, OAP tidak bisa maju untuk berani mengatur hidup untuk keluar dari traumatis. Karena tujuan Otsus yang sebenarnya tidak terwujud buat bangsa Papua. Maka bila ditinjau bahwa siapa yang dapat memperbaiki traumatis OAP untuk keluar dari traumatis adalah ada ditangan OAP yang ada di dua provinsi di tanah Papua yakni Papua dan Papua Barat.

Semua anak OAP yang ada di Provinsi Papua dan Papua Barat dalam hal ini, pengambil kebijakan dengan bijak untuk membicarakan Otsus jilid II ini.

Kata Alm. Pater Neles Tebay, semestinya semua hal harus dibicarakan atau DIALOG untuk memutuskan nasib hidup OAP.

Maka penulis menawarkan beberapa solusi untuk penetapan atau pembicaraan otsus jilid II ini:

Pertama, semua pengambil kebijakan dalam hal ini kedua Gubernur, MRP, DPRP, DPD, dewan adat tetap bijak untuk memutuskan sebab akibat akan adanya Otsus Jilid II.

Kedua, belajarlah untuk memutuskan otsus berdasarkan pengalaman manis dan pahidunya Otsus 2002-2021.


Ketiga, semua kebijakan pemutusan adalah buat OAP yang kelas atas, menengah,dan bawa, maka selalu berdialog mendegar suara mereka dan memutuskan.


Dengan demikian problematika traumatis psikologis OAP akan terobati, karena memutuskan otsus jilid II ini dengan bijak. Kebijakan yang bijak adalah semua pihak OAP yang memutuskan bukan dari pemerintah pusat. Karena sasaran Otsus adalah untuk OAP bukan untuk pemerintah pusat.


Saya sebagai pengamat perkembangan OTSUS menyarankan kepada pengambil wewenang OAP semestinya tidak terhadap OTSUS JILID II karena rakyat OAP telah dan sudah terauma kesengsaraan psikologi yang akhirnya susuh dikembalikan.


Penulis adalah seorang pengamat perkembangan OTSUS di Papua.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *