Sebuah Puisi Amanah

Oleh:Giyai Aleks

Beriklar berkali kali pun selalu terurai berkali-kali. Keruntuhan bernama keterpecahan ialah perjalanan hati yang di nikmati kolektif dalam perjuangan. Pada seiya-sekata tak seutuh meluruskan kata yang bengkok, meratakan bahasa yang melinking dan menyatuhkan jiwa dengan kekuatan yang kokoh, akan ketemu pada tumpuhan puing-puing kehancuran dalam kubanggan-kubanggan kolonilistik.

Ketika mencari yang baru, selalu kembali menemu pada lama. Itu sebabnya, selalu saja berputar pada poros rotasinya sendiri dalam cekikan penindasan. Karenanya, sebanyak jiwa itu ‘lelah’ memilih berjalan mundur secara perlahan. Ketika tahu dirinya tak pernah benar-benar inginkan dan tak mau tanggalkan ego, sampai meninggalkan jalan juang bagi bangsanya.

Pada sisi kehidupan selalu mengatakan bahwa “lebih percaya kepada orang-orang” pada tangan yang berani kepal dan mengacung di jalanan akan menguasai dunia. Wajah-wajah yang menampung debu jalanan tanpa kenal kompromi akan mengetarkan dunia. Riak kaki yang tak gentar berpijak pada jalanan akan menggemakan kebebasan. Karena kebebasan ada dan selalu bersemayam bersama kaum patriot dijalanan.

Debu dan kerikil dijalanan akan memperuncing jiwa-jiwa menolak tunduk pada ketakutan. Karena ketakutan selalu memperpanjangkan barisan kezaliman yang menindih. Siapa bentangkan sayap keberanian, kukuhkan nurani secara kolektif, runtuhkan tembok colonial yang mengangkang, akan memenangkan kehidupan untuk memperoleh pembebasannya.

Maka ini, wejangan bagi kaum patriot sebagai sebuah almanah agar tak pintal egoisme dalam kekentalan naluri. Sebab, ketika egoitas berubah menjadi peluru siapa yang tertembak, apakah tuan atau jelata? biarkanlah tarian-tarian mulut bernista atas nama kehidupan dan ketika idealisme menjadi tombak, siapa yang tertikam, apakah tuan atau jelata? biarkan bersilat lidah membelati nurani atas nama pembebasan.

Banyak terserap makna di mimbar waktu, gegurah jiwa-jiwa patriot menjawab, satu persatu hadir bersekutu menjelas pro kontra dengan beradab. Beradap rasa pasti berbeda, seperti siang membenih malam, setitik risalah demi menanda untuk diri dalam berkalam hati.

Berkalam cinta dengan tulus, rindu tetap terpatri di dalam hati, perbedaan itu kelengkapan rumus menuju satu tumpuan yang dihayati. Menghayati separuh tentang hidup, haruslah ada untuk pelengkapnya, cinta dan cita harus diluruskan untuk dapatkan pandangan kolektif.

Seiya-sekata di padanankan dalam dialektika, kompromi-kompromi harus di setarakan, konfrontasi-konfrontasi tuk seimbangkan. Seperti kincir angin di seting berarah mata angin, agar tiada luluh dalam kebekuan egosentris di balik dada yang menggental, supaya bau amis keterpecahan persatuan tak tercium di ujung perjuangan pembebasan.

Bawalah bibir-bibir idealis yang membentengi nurani, kumpulkan semua kata dan bahasa dalam imajimu guna membedah. Tiada win-win solution dipuncak naluri untuk berdikari. Kala beriklar berkali-kali pun terurai berkali-kali dalam kubangan kelam tirani yang mengucilkan jejak juang.

Bumi Koloni, 07-07-20
Giyai Aleks

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *