Ilustrasi Baca

Oleh : Loncky H. Makay

Bukanya so pintar, bukan juga penulis professional. Tapi sesama musti berbagi agar bisa sama-sama belajar, jika tidak! Pelitlah jiwa kita.

Jadi kita mulai berbagi sekarang, meski itu sekedar pemahaman yang membosankan. Ahkss! sebelum itu cerita ini “saya” hanya berandai saja seolah bicara pengalaman sendiri. Ini sajian ceritanya, simak yuk!

Saya sering bingun bagaimana saya tuangkan imajinasi itu hal biasa. sengubah sesuatu yang saya lihat, dengar atau cium setiap hari menjadi kata dalam satu pragraf. Bahkan sering saya tanya kepada diri sendiri sebelum memulai menulis berbagai cerita dalam laptop. Jadi pertanyan itu begini; berapa jumlah buku yang saya baca khusus hari ini untuk maksimalkan menstimulasi mental, menambah wawasan dan pengetahuan?

Soalnya saya tidak bisa menulis se’enaknya tanpa memberi pembendaharaan kosa kata. Tanpa melatih ketrampilan berfikir dan menganalisa masalah lalu pokus dan konsentrasi, mencegah penurunan fungsi kognitif adalah tulisan dungu. Diketawain orang, benar-benar memalukan. Ini netral saya yang dapat saya ceritakan pada hamba angin yang meniduri pena dan kertas kosong seolah tidak merasakan sesuatu. Si hamba dapatlah ia hitami putihnya kertas oleh tinta pada gagasannya.

Ingin tapi malas hingga kehilangan kendali. Otak segar masih bimbang, begitulah. Tidak peka semacam ini sebenarnya musuh kecil yang sering saya kalah darinya. Padahalkan setiap pagi susul sore jemput malam sambut pagi lagi. Genap 24 jam subur gugur subur, dan waktu bisa terjadwal disiplin mungkin. Bodohnya saya kalah darinya.

Sebab begini, Ada ratusan cerita yang belum tuntas dalam folder laptop saya. Bukannya menyelesaikan tugas-tugas itu untuk diakhiri dan melebelinya dengan judul yang spektakuler, saya malah menulis cerita baru dengan ending berantakan. Mungkin ini lebih baik daripada tidak menulis sama sekali dan menyiakan waktu untuk hal tidak berguna.

Kini saya baru sadar, tulisan itu adalah sosoalisasi gagasan membuka ruang diskusi, aktualisasi dan eksistensi diri yang memperkuat daya  ingat dalam kepemulisan. menulis untuk keabadian. Jadi jangan lupa baca buku sebelum menulis, pesannya.

Kali ini saya punya sebuah motivasi dari judul puisi, Giyai Alex (Ko’sapa) yang di bacakan Pace Jubi. Bunyinya begini; (Dari Timur Ke Barat Betulnya). Judul puisi itu ajarkan saya berlomba dengan waktu tanpa cemburu antara saya dan matahari yang dari timur ke barat, yang mengundang selisi antara bayang nyata yang saya kejar tepat didepan saya. Ujian kepekaan agar mengejar impian tanpa ragu.

Sekarang ada rengekan yang memulai, suara tokoh-tokoh yang saya ceritakan tanpa penyelesaian. Membuat saya harus segera mengambil tindakan penyelesaian dengan membuatnya selesai dengan cara yang damai. Setiap malam folder-folder tua yang berisi kumpulan ratusan cerita itu satu-persatu akan saya akhiri, sambil berjabat tangan, mengucapkan maaf karena menelantarkan mereka sebelum kopi di gelas kecil pada meja samping laptop saya tandas.

Namun, Entah kenapa saya selalu mengantung cerita. Seolah saya terperangkap dalam waktu. Melihat diri saya sendiri dikejahuan dalam mode terang yang membuat saya menyadari bahwa cerita itu adalah menefestasi penderitaan yang sekian banyak orang alami. Tragis memang. Namun dalam hidup justru ketragisan itulah yang menarik. Ada kekejaman. Ada tidakeadilan. Ada konflik. Ada emosi. Ada luapan dan ledakan di tanah pusaka untuk diredakan dan dinetralkan.

Papua baca tulis! Ahksss saya benci diri saya saat tidak melakukannya secara rutinitas, tuntas selesai. Tapi mau bagaimana lagi disisi lain saya tidak ingin memaksakan cerita. Saya ingin ia menentukan kapan waktunya dibentuk dan mengakhirinya sesuai kehendak cerita itu sendiri.

Saya tahu ada nyawa disetiap cerita. Ada jiwa di dalam rongga tulisan. saya tidak ingin sembarangan. saya tindak, ingin menjadi peritual kata yang memanggil tokoh untuk ditulisakan seenak jidat lalu membiarkannya setengah jalan dan kabur begitu saja tanpa akhir.

Status di social media saya, What Ap, Messengger, IG dll  berisi Tik-Tok hanya beberapa postingan saja tulisan itu juga tentang romantisme pun copy paste. Sakin gelisahnya menahan malu sesat bertemu seorang penulis professional, sastrawan Indonesia sekaligus juru baca asal Papua. Usai baca puisi di panggung derita, ia bertanya tegur kepada saya saat hendak membeli keju dekat panggung dengan teman saya malam itu.

“Dek, kamu kan nama Fb-nya Pace Nak?”

“Iya kaka?“

“Kamu kemarin posting tulisan saya dengan nama karyanya kamu ya?”

“Iya kaka. Hehe!”

“Sebaik kamu baca tulis sendiri saja”

“Hihihihi, hupzzzzz. Saya hanya bisa tersenyum tipis seraya menundukkna kepala sesekali menahan malu.

Bosan, malas,  gelisah jika baca tulis, maunya tidur saja. Dosa-dosa menulis saya sudah banyak. Sekarang tinggal membereskan satu-satu tulisan lama yang membusuk itu agar berekarnasi. Mungkin akan membutuhkan waktu yang lama, tapi akan saya lakukan demi mengakhiri penderitaan mereka. Saya mencoba setengah mati untuk fokus. Dibagian ini saya harus hati-hati karena focus saya bisa saja terbang kemana-mana, sebab saya memiliki penyakit Adult Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dengan jangka sembuhnya bisa bertahan lebih lama. Tidak seperti demam biasa yang secepat sembuh jika berobat.

Dibuku catatan saya ada 2/3 halaman ide dasar yang terus menteriaki saya. Setiap malam bergentayangan manakala saya membuka buku itu untuk sekedar mencatat ide baru. Saya tak bisa terus diam dan membiarkan mereka membenci saya. Saya sadar merekalah yang menemani kesepian saya, meluruskan otak saya agar tidak membenci kehidupan.

Meski tiga tahun berkecimpung di dunia menulis dengan beberapa buku hasil Nubar antologi cerpen dan puisi pun membuat saya merasa pencapaian saya begitu lamban. Saya belum menghasilkan karya tunggal berupa novel, kumpulan cerpen atau puisi sejak tiga tahun ini. Mungkin saya gagal. Mungkin saya memang lamban. Tapi saya tak ingin menyerah. Mengutip dialog dalam suatu film yang katanya; “jika kau menyerah kau gagal, kau tak akan gagal jika tak menyerah” kira-kira seperti itu dan itu menyinari ruang kepala saya yang kelam suka boros ini.

Saya kadang merasa gagal karena seingat teman-teman seangkatan saya yang sama-sama merintis sejak awal sudah menghasilkan banyak karya. Saya masih senang jalan ditempat. Saya  merasa saya perlu banyak membaca buku dibanding menulis. Saya sudah menulis beberapa tulisan namun lagi-lagi saya merasa gagal dan menghentikan kegiatan ini. Saya ingin membaca saja. Membaca dalam waktu yang panjang tanpa menulis sejenak. Lalu baca tulis kembali.

Alasan itulah kenapa ada banyak cerita yang terpendam dalam laptop saya. Bukan ingin membiarkannya tapi saya butuh tenaga semacam penyegaran agar tulisan saya bisa berkembang. Saya rasa cukup tiga bulan rehat dan sekarang mulai mengkontruksi ulang.

***

Ritme pelan dalam hening mengosongkan pikiran saya. Ada semacam kelegaan yang tak bisa diganjar dengan apapun. Sebuah momen kebahagian dan terima kasih dari mereka. Tokoh-tokoh dalam cerita saya tak lagi membenci saya. Mereka menyanjung saya sebagai penulis yang bersahabat. Untuk kali ini saya benar-benar puas karena telah berani menyelesaikan cerita tanpa mengorbankan mereka. Bisa saja saya mengkontruksi ulang. Menghapus lalu mengantikan mereka dengan cerita baru. Lagi-lagi saya tak ingin menjadi pendosa karena telah mengundang mereka dalam cerita yang telah saya bangun sekedar memberi inspirasi.

Jendela kaca membawa sinar gelap matahari. Membuka cakrawala langit yang berwarna abu hitam pertanda hujan akan turun. Saya telah menyelesaikan sebagian cerita itu. Dan akan pulang melanjutkannya saat malam. Rumah baca Caffe Sagu P-ll Waena. Hanya tinggal saya sendiri dalam sunyi bersama para tokoh cerita saya yang hidup. Kami telah berdamai. Mulai berbicara dalam bahasa yang tak bisa orang lain tahu. Kenyataannya dunia fiksi sama dengan kehidupan sebenarnya. Mutlat. Tak kekal. Semu.

Dan saya rasa kita harus menjaga hubungan dengan siapa saja termasuk mereka- tokoh-tokoh cerita saya yang tersenyum saat saya mengatakan bahwa kalian telah kuselesaikan dan sekarang bantulah saya agar bisa tetap waras dari dunia yang mulai kacau ini. Mereka tertawa dan sayapun tertawa untuk sebuah ketidakwarasan ini. Lagu mulai diputar. Goyangkan tubuh ala yospan tarian elok yang berlalu. Kehidupan berlanjut dalam episode baru. Saya siap.

Siap untuk apa yang tidak akan pernah saya tahu kedepan. Kehidupan-takdir, kematian, jodoh, dan penderitan kaum kecil di nusantara timur yang tidak bersuara yang musti saya suarakan seiring jalan hidup saya. Bukan penulis musti menulis, Titik. Dan saatnya pulang. Tulisan telah diselesaikan dengan baik.  Semoga mamfaat beri bahagia, motivasi, inspirasi klasss. Damai selalu.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *