Oleh: Jekson Gobai

Efek negatif kehadiran otsus, melahirkan budaya konsumtif dalam tatanan kehidupan kulturalisme orang Papua. Budaya konsumtif Itu artinya bahwa, mendapatkan makan dan minum tanpa bekerja membanting tulang. Sehingga, efeknya menghasilkan kehidupan ketergantungan pada para produsen global, yaitu kapitalisme dan imprealistik penjajah Indonesia.

Yang dimaksud dengan otsus melahirkan budaya konsumtif, implementasinya adalah bantuan beras JPS, atau respek yang hingga kini memperlancarkan dana desa yang begitu masif, itu justru benar-benar menghancurkan kehidupan kemandirian yang bersumber dari pangan lokal.

Dari realitas hidup diatas, sesungguhnya kita layak menyimpulkan bahwa ternyata Otsus adalah malapetaka dalam setiap sektor kehidupan orang Papua. Negara telah berhasil memproduksi manusia Papua konsumtif secara moderen. Setelah penjajah memproduksi, lagi pula, negara berhasil memperbanyak mayoritas orang Papua menjadi konsumtif.

Konsumerisme primitif atau tradisional orang Papua, diantarkan pada konsumerisme moderen. Dampak-dampak negatif kehadiran otsus di Papua, Tak bisa kita pungkiri terhadap sejumlah pergeseran-pergeseran kulturalisme orang Papua yang sesungguhnya berbalik pada budaya instan dan moderen.

Ulasan ulasan diatas, membuktikan bahwa kita berada dalam darurat kultural, yang kemudian membutuhkan pemulihan secara utuh sebagai upaya pengembalian identitas kita sesungguhnya. Itu sebabnya, dengan cara apa pemulihan itu justru dilakukan? Karena, tak dapat kita pungkiri bahwa, kita sudah dimodernisasi melalui kebijakan otonomi khusus.

Solusi alternatif kita hari ini adalah menolak segala jenis rayuan kemanisan penjajah, baik itu otsus, otsus plus dan MRP. Karena, mereka inilah satu paket hegemoni penajajah yang sudah membuat tatanan kehidupan kita menjadi konsumtif dan modernisasi.

Bila kita tauh kedok-kedok penjajah, janganlah kita terus menerus membiarkan virus C4 itu bertumbuh, berakar dan berbuah dalam sendi-sendi kehidupan orang Papua. Musti ada sikap kritik dan kritis, sebagai bentuk perlawanan secara bermartabat dan bermoral.

Kita hanya punya satu jalan, melawan budaya modernisme, yaitu kembali ke pangan lokal. Karena senjata yang paling ampuh untuk melawan dan menghancurkan budaya konsumtif.

Sebab, yang kita lawan adalah bukan militeristik tetapi, soal kehidupan mendasar yang dahulunya bersandar pada kebun dan tani. Maka, metode perlawanan kita yang relevansi adalah hanyalah dengan berkebun dan bertani, untuk mengusir kapitalistik, imprealistik dan klonialistik pada umumnya.

Sebab itu, marilah kita saksama mendengarkan, merenungkan dan melakukan anjuran KNPB tentang kembali ke pangan lokal. Karena itu, keputusan kolektivitas dan konsensus yang penuh konsistensi dan konsekuensi untuk memutuskan mata rantai penindasan, secara holistik dan mewujudkan Papua yang bebas dan berdaulat.

Lawan komsumtif, Lawan modernisme
Kembali ke pangan lokal.

Penulis adalah aktivitas Papua

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *